
Hai, Socconians!
Perisakan adalah kasus intimidasi yang banyak ditemui di lingkungan kerja. Intimidasi semacam ini seringnya menyasar objek rentan dan dilakukan oleh atasan maupun rekan kerja yang berada di posisi setara. Secara spesifik, perilaku ini masuk dalam kategori kekerasan yang berpotensi memberi dampak besar secara psikis. Ada dua klasifikasi dalam perisakan di tempat kerja, yakni personal dan terkait pekerjaan.
Perisakan personal cenderung menyerang kepentingan pribadi semisal ras, gender, hingga pendidikan secara verbal. Sementara perisakan terkait pekerjaan biasanya dibebankan dalam bentuk kritikan berlebih tanpa dasar, tuduhan palsu, hingga pemberian tugas di luar batas dan kapasitas. Dalam jangka panjang, korban rentan mengalami gangguan psikis, seperti kinerja menurun dan gangguan kecemasan hingga depresi. Nah, jika kamu merasa menjadi korban, ada baiknya mencoba cara-cara di bawah ini untuk menyikapi perisak di lingkungan kerja:
Ada kalanya diam menjadi cara bijak menyikapi perisak yang menyerang secara verbal. Metode ini bukan berarti tidak melakukan apa-apa, melainkan menjadi metode protes pasif untuk menghindari konflik panjang jika perisakan baru sekali atau dua kali dilakukan. Mendiamkan tanpa memberi komentar apapun bisa menjadi sindiran untuk menghentikan perilaku negatif pelaku. Perisak akan merasa serangan verbal yang dilakukannya tidak lagi menyenangkan jika kamu tidak bereaksi apa pun.
Namun, cara ini tidak dapat dilakukan untuk semua kondisi terutama untuk perisakan terkait pekerjaan. Mendiamkan kritikan atau perintah tugas bisa memicu konflik baru di tempat kerja. Gunakan metode berdiam diri ini untuk menyikapi orang dan situasi yang sesuai.
Ada tiga kategori perisakan, yaitu perisakan atasan kepada bawahan, perisakan horizontal atau antar rekan kerja, dan perisakan bawahan kepada atasan. Dalam menghadapi perisakan di tempat kerja, penting untuk memahami siapa perisak kamu dan di level apa dia berada dalam pekerjaan. Menggunakan pihak ketiga sebagai penengah adalah satu cara paling memungkinkan untuk menyelesaikan permasalahan.
Jika perisak adalah rekan kerja kamu, temui atasan atau HRD untuk menyampaikan kondisi sebenarnya. Membuat pihak ketiga berada di sisimu bisa sangat membantu untuk menindak pelaku dan mengendalikan situasi agar lebih kondusif melalui wewenang yang mereka miliki. Melaporkan kasus perisakan kepada HRD biasanya dilakukan jika subjek perisak berada pada posisi berbeda dengan korban. Teguran berbentuk lisan atau tulisan adalah penanganan yang paling sering dilakukan.
Dalam beberapa kasus, perisakan tak hanya terjadi pada satu orang saja. Penyerangan satu kelompok terhadap kelompok lain, bahkan menjadi budaya baru di banyak lingkungan kerja. Kondisi ini bisa sedikit lebih mudah diatasi jika terjadi pada kamu. Mulailah dengan membuat surat pengaduan bersama-sama kepada pihak berwenang dalam kepegawaian, dengan dasar mengganggu hubungan dan proses kerja berkepanjangan.
Bersuara bersama bisa menguatkan laporan dan penanganan pun bisa lebih cepat dilakukan. Jika penyerangan terjadi secara perorangan, mencari dukungan rekan sejawat dapat menjadi alternatif melawan perisak. Banyaknya orang yang menentang perilaku perisakan dapat mendesak perisak untuk menghentikan tindakannya. Langkah ini juga dapat dilakukan untuk mengingatkan jika kamu tidak sendiri dalam menangani masalah ini.
Jangan ragu menyimpan bukti jika kamu merasa mengalami perisakan. Perisakan jenis apa pun, jika itu memengaruhi kinerja, pikiran, dan kesehatan kamu, maka bertindaklah tegas dengan mengumpulkan bukti perisakan yang dialami. Bukti bisa berupa jejak percakapan daring hingga rekaman pada kasus serius. Bukti juga bisa sangat membantu kamu dalam membuat laporan jika perisak mengelak dalam pernyataannya.
Jika perisakan yang kamu alami sudah sangat serius, misalnya kamu menerima kekerasan fisik, mengambil langkah hukum adalah tindakan tepat sekaligus bentuk keadilan yang bisa kamu tempuh untuk menghadapi perisak. Melibatkan pihak eksternal seperti pihak berwenang memang punya imbas besar. Tak hanya kamu, reputasi perusahaan dan orang-orang di divisi kamu bisa terseret. Oleh karena itu, penting untuk menyiapkan mental dan bukti yang kuat untuk mengambil tindakan ini.
Lima cara di atas bisa diterapkan sesuai kondisi perisakan yang dialami. Ingat, jangan membiarkan diri kamu menjadi objek perisakan terus menerus. Sikap ini berbahaya dan bisa membuat pelaku tidak menyadari akan dampak perbuatannya. Bercerita pada orang terpercaya, bisa sangat membantu kamu menghadapinya agar tak berakibat buruk bagi diri.
ReferensiSumber Tulisan
