
Hai, Socconians!
Kali ini, Social Connect membahas mengenai gangguan kesehatan mental, yaitu OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) yang merupakan gangguan mental ketika seseorang memiliki pikiran berlebihan (obsesif) dan melakukan perilaku secara berulang (kompulsif) untuk mengatasi pikiran tersebut. Pikiran berlebihan dan perilaku yang berulang bahkan tidak dapat dikendalikan oleh seseorang dengan OCD. Oleh karena itu, kita perlu belajar dan mengenal lebih dekat karena siapa tahu diri atau kerabat kita memiliki gejala gangguan OCD ini, sehingga dapat dengan cepat ditangani oleh bantuan professional.
Gejala Umum OCD
Beberapa gejala OCD sebenarnya cukup banyak. Namun, berbagai gejala OCD selalu disertai dengan dua hal, yaitu:
1. Obssesive
Pikiran berlebihan yang tidak mampu dikontrol sehingga menyebabkan kecemasan dan rasa takut. Pikiran yang berlebihan dan terus-menerus ini dapat berupa berbagai macam hal, seperti memiliki pikiran dan kekhawatiran berlebihan mengenai kondisi diri yang selalu kotor.
2. Compulsive
Melakukan kegiatan yang berulang untuk mengatasi kecemasan akibat adanya pikiran atau kekhawatiran yang berlebihan. Perilaku kompulsif dapat bermacam-macam, tergantung dari pikiran obsesif yang dimiliki. Beberapa di antaranya seperti mengecek kembali ataupun bertanya pertanyaan yang sama berulang-ulang. Beberapa bentuk kompulsi lainnya adalah selalu mencuci tangan sesering mungkin.
Beberapa Subtipe OCD
Terdapat beberapa subtipe OCD nih, Socconians! Beberapa subtipe OCD di bawah ini adalah tipe yang umum dan banyak dimiliki oleh sebagian besar individu dengan OCD, tetapi tidak menutup kemungkinan terdapat obsesi dan perilaku kompulsif lainnya yang tidak disebutkan. Beberapa subtipe OCD yang sering kali dimiliki adalah sebagai berikut:
Berdasarkan beberapa jenis OCD tersebut, beberapa orang dapat memiliki lebih dari satu subtipe. Oleh karena itu, penanganan pada individu dengan OCD akan menyesuaikan subtipe ataupun gejala yang ditunjukkan individu tersebut.
Bagaimana Mendiagnosis Gangguan OCD?
Memberikan diagnosis pada seseorang perlu mempertimbangkan banyak hal. Oleh karena itu, hal ini hanya dapat dilakukan oleh psikolog atau psikiater dengan sertifikasi profesi yang jelas. Nah, beberapa metode diagnostik yang biasanya digunakan oleh psikiater maupun psikolog dalam memberikan diagnosis gangguan OCD adalah:
Melakukan deskripsi atau anamnesa klinis untuk menentukan kriteria diagnosis. Beberapa kriteria untuk menentukan diagnosis menggunakan DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition: DSM-5) oleh American Psychiatric Association (APA), ICD-10 (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems) oleh World Health Organization (WHO), ataupun PPDGJ-III (Pedoman Praktis Diagnosis Gangguan Jiwa). Dalam memberikan diagnosis, selain melakukan anamnesa klinis, tenaga kesehatan juga biasanya juga menggunakan berbagai alat ukur psikologis/psikiatri, seperti Y-BOCS list (Yale Brown Obsessive Compulsive) untuk mengukur tingkat keparahan dari gangguan OCD.
Melakukan wawancara lanjutan dengan keluarga, teman, dan kerabat dari individu yang menunjukkan gejala OCD dalam menentukan apakah individu tersebut dapat diberikan diagnosa OCD atau mungkin mengalami gangguan yang mirip, misalnya seperti fobia spesifik.
Penanganan OCD
Lalu, apa yang dapat kita lakukan ketika kita memiliki OCD? Namun, penting untuk tidak mendiagnosis dirimu sendiri, ya. Kamu atau kerabatmu yang memiliki gejala OCD harus mengunjungi psikolog atau psikiater untuk melakukan konseling terkait gejala OCD yang mungkin kamu alami.
Beberapa cara yang dapat dilakukan ketika memiliki gejala OCD yang mengganggu keberfungsian sehari-hari adalah sebagai berikut:
Bagaimana Socconians, sudah mengenal apa itu OCD? Perlu diingat bahwa OCD merupakan gangguan mental yang dapat secara signifikan mengganggu keberfungsian sehari-hari. Oleh karena itu, jika Socconians merasa mengalami masalah yang telah mengganggu rutinitas sehari-hari, segera kunjungi tenaga kesehatan mental, ya!
ReferensiPenulis: Abdul Malik
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Astridiah Primacita Ramadhani, S.Psi
Editor Tata Bahasa: Finda Rhosyana
Sumber Tulisan
