
Hai, Socconians!
Siapa yang tidak kenal dengan Ed Sheeran, penyanyi yang memenangkan kategori Best British Male Solo Artist pada Grammy Awards di tahun 2012? Atau Emily Blunt, aktris pemenang Golden Globe Award pada tahun 2007 yang terkenal dalam filmnya yang berjudul The Devil Wears Prada dan Mary Poppins Returns? Kita semua juga pasti mengenal Elvis Presley, penyanyi sekaligus aktor yang dijuluki dengan sebutan “King of Rock and Roll”. Tahukah Socconians apa yang menjadi persamaan dari ketiga tokoh di atas? Ternyata, ketiganya sama-sama mengidap stuttering, lho!
Stuttering atau biasa disebut dengan istilah gagap merupakan gangguan kelancaran berbicara atau childhood-onset fluency disorder. Seseorang dengan **gagap mengetahui apa yang ingin ia ungkapkan, hanya saja ia mengalami kesulitan dalam mengucapkan kata-kata tersebut. Gejala yang pada umumnya ditunjukkan adalah adanya pengulangan kata, kesulitan dalam mengucapkan keseluruhan kata, dan terjadinya pemanjangan kalimat. Selain itu, seseorang dengan gagap **biasanya akan menunjukkan ciri-ciri fisik tertentu ketika berbicara, seperti mengedipkan mata berkali-kali, bibir yang bergetar, dan perubahan bentuk wajah lainnya.
Jenis Stuttering
Berdasarkan penyebab terjadinya, stuttering dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu Development Stuttering dan Neurogenic Stuttering. Faktanya, stuttering tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga dapat terjadi pada remaja. Yuk, kita pahami lebih lanjut mengenai dua jenis stuttering ini.
Mungkin kita dapat menyadari bahwa sebenarnya gagap sering dialami oleh anak-anak usia 2 hingga 5 tahun sebagai bagian dari proses mereka belajar berbicara. Pada umumnya, speech skills dan language skills pada anak-anak belum berkembang dengan sempurna dan menyebabkan mereka kesulitan dalam mengucapkan kata-kata yang ingin mereka sampaikan. Sebanyak 5-10% gagap yang dialami oleh anak-anak akan berlangsung selama enam bulan hingga lebih, sedangkan 1% di antaranya akan terus berlangsung hingga remaja, bahkan usia dewasa.
Beberapa hal yang menyebabkan neurogenic stuttering adalah stroke, kerusakan pada otak, dan trauma pada kepala. Hal-hal tersebut menyebabkan otak mengalami kesulitan dalam melakukan koordinasi dengan bagian-bagian otak lain yang menghasilkan kemampuan berbicara dan kemudian menyebabkan seseorang mengalami gagap.
Dampak Stuttering bagi Remaja
Socconians, tentunya dari penjabaran di atas kita dapat semakin memahami ciri-ciri dan penyebab terjadinya gagap pada remaja. Sayangnya, tidak dapat dipungkiri bahwa remaja dengan gagap kerap mengalami kesulitan atau tantangan dalam kehidupan sosial mereka sehari-hari.
Remaja dengan gagap sering mengalami bullying akibat kondisi yang mereka alami. Banyak di antara mereka yang mengalami perundungan karena kondisi mereka ketika berkomunikasi dengan orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa bullying pada umumnya terjadi di sekolah sehingga menyebabkan mereka kehilangan kepercayaan diri dan enggan untuk hadir kembali ke sekolah.
Kecemasan sosial atau social anxiety juga sering kali dialami oleh remaja dengan stuttering. Kecemasan sosial adalah kondisi ketika seseorang mengalami perasaan cemas atau takut secara berlebihan ketika dihadapkan pada situasi sosial yang dianggap mengancam. Pada remaja dengan gagap, perasaan cemas ini muncul karena adanya kekhawatiran mengenai pandangan negatif (stigma) dari orang-orang terhadap kondisi mereka.
Stres merupakan kondisi ketika seseorang merasa tidak dapat menghadapi situasi yang dianggap menekan atau mengancam. Mirip dengan kecemasan sosial, stres dapat dialami oleh remaja dengan gagap akibat kekhawatiran mengenai stigma dan perundungan terhadap kondisi yang mereka alami. Keadaan ini terkadang membuat mereka memilih untuk menghindari berbicara agar tidak merasa malu.
Kesimpulan
Socconians, dari penjelasan tadi, semoga kita dapat semakin memahami mengenai kondisi gagap yang dialami oleh remaja. Perlu diingat bahwa seseorang dengan gagap pada dasarnya juga ingin berkomunikasi seperti orang-orang lainnya. Akan lebih baik jika kita tidak memotong atau melengkapi kata-kata yang sedang berusaha mereka sampaikan. Hal ini dapat membuat mereka merasa kita tidak sabar dan semakin cemas dalam berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu, ketika berkomunikasi dengan individu yang mengalami gagap, kita perlu menunjukkan empati dan mendengarkan perkataan mereka hingga selesai, ya.
ReferensiPenulis: Servasia Petra Rosari Yusandani
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Fadilla M. Aulia, S.Psi
Editor Tata Bahasa: Iis Sahara, Shinta
Sumber Tulisan :
