
Halo, Socconians!
Apa kamu tahu film “Mulan*”*? Atau film “Beauty and the Beast”? Kalau iya, apakah kamu sadar bahwa kedua film Disney tersebut sebenarnya menyinggung salah satu isu sosial bernama Toxic Masculinity? Nah, di artikel kali ini, Social Connect akan membahas mengenai topik tersebut sebagai salah satu fenomena yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial dan kesehatan mental laki-laki. Lalu, apa sih toxic masculinity itu dan bagaimana cara mengatasinya? Yuk, simak penjelasannya dibawah ini!
Pengertian Toxic Masculinity
Toxic masculinity adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sifat “kejantanan” secara negatif, sempit, dan tradisional yang mengarah pada pemberian tekanan maupun eksklusivitas yang dimiliki laki-laki untuk mendominasi lingkungan sekitarnya, terutama sikap dan perilaku terhadap perempuan. Dewasa ini, istilah ini digunakan untuk menggambarkan sifat-sifat maskulinitas laki-laki yang dimiliki masyarakat sejak dulu (tradisional), seperti tangguh, kuat, agresif, tidak emosional, dominan dan meremehkan lawan jenis, tidak mau/boleh kalah, homophobic, dan sebagainya. Kalimat-kalimat seperti, “Laki-laki sejati tidak…” atau “Namanya juga cowok.. Ya pantesan aja kayak gitu” merupakan contoh generalisasi sifat laki-laki yang biasanya merujuk pada salah satu sifat toxic masculinity.
Sebagai contoh, film “Mulan” merupakan contoh bentuk budaya populer yang tak hanya menyinggung peran dan status sosial seorang perempuan, tetapi juga tentang besarnya ekspektasi masyarakat terhadap laki-laki sebagai satu-satunya “senjata” dalam perang yang memaksa mereka untuk harus selalu tangguh, kuat, dan macho; tak peduli dengan karakter dan latar belakang laki-laki tersebut. Film “Beauty and the Beast” juga ikut menyinggung karakter toxic masculinity dari laki-laki (Beast dan Gaston) **yang selalu berlagak kuat, agresif, serta dominan cenderung kasar terhadap perempuan (Belle). Ini semua merupakan bentuk pandangan tradisional masyarakat terhadap laki-laki yang kemudian berkembang menjadi suatu standar atau norma tertentu tentang bagaimana laki-laki harus bersikap atau berperilaku. Akibatnya, kebanyakan laki-laki jarang atau bahkan menolak untuk meminta bantuan dan berusaha keras untuk mencapai standar “kejantanan”. Masyarakat juga cenderung mendiskriminasi laki-laki yang tidak memiliki sifat-sifat tersebut dan bahkan sering mentoleransi perlakuan toxic masculinity dari laki-laki. Mengerikan, bukan?
Lalu, Bagaimana Cara Mengatasinya?
Walaupun telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat sejak dulu, bukan berarti isu ini tidak dapat diatasi. Berikut adalah hal-hal sederhana yang dapat Socconians **lakukan dalam membantu mengurangi adanya toxic masculinity terhadap laki-laki, yaitu:
1. Ubah pola pikir kamu.
Untuk mengubah stigma di dalam masyarakat, kamu bisa memulainya dari hal-hal kecil, yaitu diri kamu sendiri. Tanamkan dalam diri kamu bahwa semua manusia pada dasarnya adalah makhluk dengan karakter dan kondisi yang berbeda-beda, tetapi tetap memiliki hak yang sama serta layak untuk diperlakukan secara adil.
Selalu ajari dan ingatkan orang-orang di sekitarmu bahwa laki-laki juga merupakan manusia biasa yang tak luput dari kelemahan, sehingga merupakan suatu hal yang wajar bagi mereka untuk melakukan hal-hal yang dianggap lemah seperti menangis, curhat, merasa sakit, meminta bantuan, dan sebagainya. Mereka juga punya hak untuk menolak melakukan hal-hal yang nyatanya tidak mereka sukai. Tidak hanya itu, jangan lupa mengingatkan sekitarmu kalau perlakuan semena-mena itu tidak boleh dibiarkan, baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Sementara itu, kalau kamu adalah seorang yang sedang dihadapkan dengan masalah ini, janganlah malu untuk terbuka kepada orang lain untuk mengatasi kesehatan mental kamu.
3. Offer help.
Tidak peduli seberapa tangguh dirinya, selalu tawarkan bantuan kalau ada teman laki-lakimu yang sedang terlihat susah; baik itu dalam bentuk waktu untuk mendengarkan *curhatan-*nya maupun bantuan lainnya. Kalimat simple seperti, “Hei, apa kabar?”, “Apa kamu sedang baik-baik saja?”, atau “Ada yang bisa kubantu?” mungkin saja dapat memberanikan dirinya untuk meminta bantuan yang selama ini dia pendam.
Nah, itu dia kira-kira penjelasan singkat tentang toxic masculinity dan cara mengatasinya. Mulai sekarang, Social Connect ingin mengajak kamu untuk membiasakan diri untuk tidak gampang menilai seseorang, selalu berpikiran terbuka, dan aktif dalam bertanya serta menawarkan bantuan terhadap sesama. Dengan begitu, diharapkan bahwa fenomena toxic masculinity ini pelan-pelan dapat teratasi dan hilang dari lingkungan masyarakat.
Semoga penjelasan di atas bermanfaat ya, Socconians! Jangan lupa pantengin terus website Social Connect untuk artikel menarik lainnya!
Penulis: Naletha Pangemanan
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Astridiah Primacita Ramadhani, S.Psi
Editor Tata Bahasa: Dian Rotua Damanik dan Finda Rhosyana
Sumber Tulisan :
