
Halo, Socconians!
Belakangan ini sering kita mendengar atau melabeli seseorang dengan kata ansos, dengan kriteria seseorang itu tidak dapat bersosialisasi dengan baik bahkan sampai ketika ia menjalani suatu hubungan. Nah Socconians, kali ini Social Connect akan membahas mengenai fenomena antisosial dalam menjalin hubungan. Kira-kira seperti apa ya? Haruskah kita jaga jarak atau menemaninya? Simak dalam artikel ini ya, Socconians!
Antisosial atau Antisocial Personality Disorder (ASPD) merupakan suatu gangguan mental yang berdasar pada kepribadian seseorang. Antisosial sering juga dikaitkan dengan psikopat atau sosiopat karena memiliki ciri-ciri yang sama. Berdasarkan penelitian, pengidap Antisosial lebih banyak dialami oleh laki-laki dibandingkan perempuan. Laki-laki pengidap Antisosial berkisar 2--4%. Seseorang dengan Antisosial akan cenderung tidak memedulikan bahwa ia salah atau benar, bahkan mengabaikan hak dan perasaan orang lain. Ia akan bersikap manipulatif, agresif, dan dapat bertindak kriminal. Ia pun tidak dapat bertanggung jawab penuh atas keluarga, pekerjaan, ataupun pendidikannya.
Berdasarkan dari pengertiannya, Antisosial memiliki ciri-ciri yang dapat mengganggu hubungan kalian atau juga dapat membuat hubungan menjadi tidak sehat. Beberapa cirinya antara lain sebagai berikut.
Socconians, kita pasti ingin mendapatkan hubungan interpersonal yang sehat karena dapat memengaruhi kesehatan mental kita dengan baik dan bukan sebaliknya. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai langkah perlindungan diri ketika telah menjalin hubungan dengan seorang Antisosial, berikut diantaranya:
Seperti yang sudah dijelaskan mengenai ciri-ciri seorang Antisosial, ia senang berbohong dan bersikap manipulatif. Jika kamu sudah mengetahui bahwa seseorang itu Antisosial, satu-satunya cara yang dapat kamu lakukan ialah membantu dan menemaninya untuk ikut terapi bersama psikiater agar ia dapat sembuh dan berubah. Kamu tidak akan bisa mengubah dirinya sendiri tanpa bantuan ahli.
Seorang Antisosial tidak mudah peduli dengan perasaan dan keselamatan orang lain, termasuk kamu yang sedang menjalin hubungan dengannya. Jika sudah berhubungan lama, mungkin juga kamu sudah terpengaruh dengan kebiasaannya dia yang senang memaksa, harus mengikuti semua keinginannya, bahkan sampai ia melakukan tindak kekerasan kepadamu. Jika hal ini terjadi, maka akan sangat sulit untuk kamu keluar dari hubungan ini karena ia sangat manipulatif.
Kekuataan ini dapat berbentuk self love atau mencintai diri sendiri dan self-compassion atau kesadaran yang utuh atas baik buruknya diri kita. Kita dapat sadar dan lebih peduli untuk memperlakukan diri dengan penuh kasih sayang untuk diri sendiri dan juga orang lain. Kamu dapat lakukan hal-hal baik dan yang kamu sukai. Hal ini dapat membantumu untuk menemukan dirimu kembali secara utuh.
Jika memang sudah mengganggu kesehatan mentalmu, usahakanlah untuk keluar dari hubunganmu. Hapus dan blokir dia dari segala hal yang terkoneksi denganmu, misal nomor handphonemu, media sosial, dan alat komunikasi lainnya. Hal ini dilakukan agar kamu tidak terlibat apapun lagi dengannya. Jika ia kembali memohon dan meminta maaf, jangan mudah untuk kembali.
Nah Socconians, jangan lupa kalau kesehatan mental baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu merasa telah menghadapi orang yang kurang tepat untuk diri dan mentalmu secara keseluruhan dalam menjalin sebuah hubungan, kamu dapat bicarakan hal tersebut dengan teman ataupun orang yang kamu percaya. Lalu, kamu dapat mencari cara terbaik untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat.
ReferensiPenulis: Yulia Wita
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Fadilla M Aulia, S.Psi
Editor Tata Bahasa: Dian Rotua Damanik dan Sulistia Ningsih
Sumber Tulisan :
