
Hai, Socconians!
Keluarga adalah sekelompok orang yang terikat dengan hubungan darah, terutama ayah dan ibu. Mereka yang akan menjadi lingkaran pertamamu ketika kamu lahir hingga tumbuh dewasa. Namun, tidak semua orang seberuntung itu, Socconians. Mereka yang melahirkan dan membesarkanmu, tetap saja bisa menjadi toxic atau “racun” di hidupmu.
Tanda-tanda Toxic Parents
Orang tua yang toxic adalah mereka yang melimpahkan perasaan maupun perilaku negatif pada anaknya. Kehidupan seorang anak tentunya dibentuk dari bagaimana orang tua mendidiknya. Orang tua yang memiliki karakteristik tidak sehat atau toxic, cenderung lebih mementingkan dirinya dibanding anaknya.
Istilah toxic parents digunakan untuk orang tua yang menunjukkan tanda-tanda berikut.
Orang tua egois hanya peduli dengan dirinya sendiri. Mereka tidak hadir secara emosional untuk anak-anaknya. Hal sederhana seperti menanyakan kabar atau harinya di sekolah, hingga hari besar seperti hari ulang tahun bisa terlewatkan. Mereka tidak sadar jika anaknya tidak tercukupi secara emosional maupun material.
Bentuk pelecehan tidak hanya dalam bentuk verbal maupun fisik. Namun juga dalam bentuk lainnya seperti finansial, seksual, emosional, dan lainnya. Orang tua toxic biasanya juga memukul, memaki, mengancam, melakukan gaslighting, mendiamkan, hingga memutarbalikan fakta.
Perilaku mengatur dengan sangat detail yang dilakukan oleh orang tua toxic dapat melanggar privasi kamu. Mereka juga tidak akan membiarkanmu mengambil keputusan secara mandiri. Perlakuan ini bahkan berlanjut hingga anak sudah dewasa.
Orang tua toxic yang manipulatif dapat mengontrolmu dengan menggunakan emosi yang berlebihan. Mereka akan membuatmu merasa bersalah dan bermain perasaanmu dengan sewenang-wenang. Bahkan, mereka dapat menahan uang, waktu, dan barang lainnya sehingga kamu harus menuruti keinginan mereka.
Hal yang Dapat Kamu Lakukan
Orang tua tetaplah manusia yang tidak luput dari kesalahan. Jika hari yang dijalani oleh orang tua kamu terasa berat hingga mereka melampiaskannya kepadamu, mungkin kamu berpikir hal tersebut wajar. Namun, perilaku negatif yang terus menerus dan tidak sehat justru dapat berdampak negatif pada dirimu. Malah seharusnya orang tua mampu meregulasi emosinya sehingga tidak perlu melampiaskannya pada anak mereka. Nah, coba ingat lagi, sudah berapa lama kamu diperlakukan hal-hal menyakitkan dari orang tuamu, apakah berbulan-bulan, atau bahkan, bertahun-tahun?
Nah, hal-hal ini dapat kamu lakukan untuk mulai bangkit.
Semua yang telah kamu lalui adalah hal yang berat. Proses dan akui perasaanmu. Kekecewaan, amarah, kesedihan, rasa malu, semua harus kamu hadapi. Memang menghadapi, menerima, dan memvalidasi hal ini merupakan hal yang sulit. Cobalah ambil waktu sejenak dan pelan-pelan menerima keadaan bahwa orang tua tidak sepantasnya bersikap seperti itu. Ingatlah bahwa kamu selalu bisa mencari bantuan atau pendamping untuk menemani kamu dalam memproses perasaanmu!
Sebelum bicara dengan orang tuamu, kamu mungkin mau menulis segala hal yang membuatmu tidak nyaman. Kamu juga dapat meminta bantuan teman atau keluarga lain yang kamu percaya. Ajak mereka bicara dan jelaskan bagaimana kamu ingin mereka berperilaku terhadapmu.
Batasan yang kamu tetapkan dapat terlihat jelas (kamu catat dalam kertas hitam di atas putih) maupun tidak terlihat (secara emosional, “tahu sama tahu”). Jangan ragu untuk menetapkan batas dengan orang tua yang menurutmu sudah tidak sehat untuk dirimu. Semua hubungan–termasuk dengan orang tua maupun teman–membutuhkan jarak dan privasi yang harus dipahami oleh kedua belah pihak.
Di atas semua yang terjadi, satu hal yang perlu diingat: Semua itu bukan salahmu. Kamu tetap bisa bangkit dari apa yang kamu hadapi di masa lalumu. Tentunya ini adalah proses yang panjang dan menyakitkan, tetapi kamu tidak boleh menyerah. Ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian, Socconians. Mohon untuk meminta bantuan jika diperlukan. Jaga diri, ya!
ReferensiPenulis: Ni Putu Putri Ardhia Paramita
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Astridiah Primacita Ramadhani, S.Psi
Editor Tata Bahasa: Dian Rotua Damanik dan Finda Rhosyana
Sumber Tulisan :
