
Hai, Socconians!
Ketika pikiran dan emosi negatif muncul, pernahkah kamu merasa bahwa lebih mudah untuk bersikap keras pada diri sendiri? Atau mungkin pengalaman buruk seringkali bertahan lebih lama dalam pikiran? Memang tidak mudah, ya, untuk menetralkannya. Sesederhana ketika berpikir telah gagal dalam menyelesaikan tanggung jawab, apa yang langsung terpikirkan oleh Socconians? Nah, pada artikel ini, Social Connect membahas mengenai cara kegagalan mempengaruhi kita dan apa saja praktik-praktik self-compassion yang dapat dilakukan untuk pengembangan diri. Yuk, baca sambil mencoba berhenti sejenak menyalahkan diri dari kegagalan yang sudah terjadi, ya.
Kita VS Rasa Takut pada Kegagalan
Ketakutan pada kegagalan umumnya muncul ketika seseorang dihadapkan dengan kemungkinan menemui kegagalan pada tugas yang diberikan (Elliot, 1997). Ketika memikirkan kegagalan, seseorang dapat merasa termotivasi mengerjakan tugas yang diberikan untuk melindungi dirinya. Hal ini ia lakukan dengan cara berusaha menyenangkan dan tidak mengecewakan orang lain. Dampaknya, ketika mengalami kegagalan dalam mengerjakan tanggung jawabnya dengan baik, ia cenderung memikirkan dan merasakan emosi negatif. Ia merasa gagal mempertahankan citra dirinya di hadapan orang lain. Hal ini kemudian dapat mempengaruhi kondisi mental dirinya akibat berkurangnya rasa percaya diri. Jika pikiran dan emosi negatif yang dirasakan tidak dikendalikan dengan baik, maka proses perkembangan diri pun dapat terhambat.
Keberhasilan dan kegagalan adalah bagian dari hidup. Maka dari itu, dengan menerima kegagalan sebagai bagian dari hidup, akan mempermudah kita menjalani hidup tanpa rasa khawatir dan takut yang berlebihan. Salah satu cara untuk dapat menerima kegagalan sebagai bagian dari hidup kita adalah dengan mempraktikkan self-compassion.
Self-Compassion untuk Kehidupan Sehari-hari
Bukan hanya membantu mengatasi rasa takut akan kegagalan, self-compassion juga dapat meningkatkan perasaan bahagia, optimis, keingintahuan, keterhubungan dengan lingkungan, menurunkan kecemasan, depresi, serta perenungan yang berlebihan. Praktik self-compassion dapat membantu mengingatkan kita bahwa kebutuhan diri sendiri sama pentingnya dengan kebutuhan orang lain. Lalu, apa saja yang bisa dilakukan sebagai praktik self-compassion?
Ketika memikirkan rasa takut gagal dan merasakan perasaan negatif, cobalah berlatih menerima kegagalan dan mengakui kesalahan yang telah terjadi. Ketika kita mengalaminya lagi di lain waktu, kita akan lebih mudah untuk mengontrolnya sehingga kita tetap hadir seutuhnya pada momen saat ini.
Tetap percaya pada prosesnya dan jadikan kegagalan sebagai bagian dari proses itu sebagai bagian dari pengembangan diri. Jadi, ketika terjadi masalah atau mengalami kegagalan, kita lebih terbiasa menemukan solusi dan berlatih untuk berpikir kritis yang membangun.
Umumnya, ketika masuk ke lingkungan baru, kita hanya menceritakan pengalaman yang menyenangkan agar tidak dihakimi secara negatif. Padahal, dengan menceritakan kegagalan atau pengalaman pribadi, misalnya dalam perjuangan memperbaiki kesehatan mental diri sendiri dengan sikap optimisme, justru dapat meningkatkan kepercayaan diri dan membuat orang tertarik untuk bersosialisasi.
Ketika seseorang menolak usulan kita dan menyampaikan pendapat yang berbeda, ingat bahwa hal tersebut adalah hal yang normal terjadi dalam kehidupan. Dengan pola pikir seperti itu, Socconians dapat lebih siap untuk menghadapi penolakan dan tidak terlarut dalam emosi negatif.
Mulailah mencoba untuk berpartisipasi ketika mengambil tindakan dalam peristiwa yang sedang terjadi. Dengan bersikap proaktif, kita dapat membantu diri sendiri dan orang lain di sekitar kita. Misalnya, jika kita menghindari membahas suatu masalah dalam pekerjaan, bisa jadi kita memperumit masalah yang ada di kemudian hari.
Ingat bahwa hari ini juga sama baiknya dengan hari kemarin untuk memulai mengasihi diri sendiri. Semoga artikel ini bisa membantu Socconians untuk memulai praktik self-compassion. Kunjungi Social Connect untuk membaca topik-topik seputar kesehatan mental lainnya, ya.
ReferensiPenulis: Tiorys Immanuella
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Gabriella Christina Sutanto, S.Psi.
Editor Tata Bahasa: Dian Rotua Damanik dan Glaniz Izza
Sumber Tulisan
