
Halo, Socconians!
Kesehatan mental seseorang sangatlah penting. Sama halnya dengan kesehatan fisik, kesehatan mental pun perlu dijaga agar kita dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan maksimal. Namun, banyak yang masih mengabaikan hal ini. Bahkan di Indonesia, banyak kasus orang dengan gangguan kesehatan mental merasa malu ataupun takut untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater karena merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan.
Nah, Socconians, artikel Social Connect kali ini akan membahas tentang Obsessive Compulsive Disorder (OCD) dan bagaimana hubungannya dengan Eating Disorder (ED).
Gangguan Obsesif Kompulsif merupakan jenis gangguan mental ketika penderitanya selalu diliputi perasaan cemas atau takut. Nah, untuk mengatasi perasaan tersebut, penderita akan melakukan suatu hal secara berulang-ulang atau berlebihan. Di satu sisi, penderita ini sadar bahwa ia melakukan suatu hal tersebut secara berlebihan, tapi ia juga tidak dapat menghindarinya. Lantas, apa saja yang menyebabkan seseorang dapat mengidap gangguan mental ini?
Ada faktor internal dan eksternal yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan ini. Faktor internal berasal dari dalam diri si penderita ini sendiri, seperti adanya gangguan mental lain yang dialaminya. Sementara itu, faktor eksternal berasal dari lingkungan di sekitarnya seperti mempunyai keluarga yang juga mengidap gangguan ini atau pernah mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang-orang di sekitarnya.
Mungkin beberapa dari Socconians **bertanya-tanya, “Lantas, apakah orang yang melakukan diet super ketat karena takut terlihat gemuk juga bisa dikategorikan sebagai orang yang mengidap OCD?” Atau sebaliknya, “Apakah orang yang mengidap OCD juga akan mengalami gangguan makan atau eating disorder?” Sebelum menjawab pertanyaan ini, Socconians perlu tahu dulu nih apa itu eating disorder.
Gangguan makan atau eating disorder adalah keadaan dimana seseorang merasa sangat cemas dan takut jika terlihat terlalu kurus atau gemuk. Alhasil, si penderita ini akan mengurangi porsi makan secara ekstrem atau mengonsumsi makanan secara berlebihan. Faktor pemicu ED juga berupa faktor internal (hormon, zat kimia otak, dan kurangnya zat gizi) dan faktor eksternal seperti mendapat ejekan dari orang lain.
Lalu, apakah OCD and ED adalah dua hal yang sama?
Pada dasarnya, kedua hal ini adalah jenis gangguan mental yang berbeda. Namun, menurut penelitian, keduanya memiliki gejala yang hampir mirip yaitu penderita mengalami kecemasan berulang-ulang mengenai suatu hal yang mengakibatkan penderita melakukan tindakan tertentu secara berlebihan. Sifat yang dimiliki oleh pengidap OCD dan ED juga umumnya sama diantaranya adalah sifat perfeksionis dan impulsive.
Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang mengalami ED memiliki kemungkinan 11%-69% lebih tinggi untuk mengidap OCD. Sebaliknya, orang yang mengidap OCD memiliki peluang 10%-17% lebih tinggi untuk mengalami ED. Penelitian ini juga melaporkan bahwa 41% dari 64% orang dengan ED juga mengidap OCD. Uniknya, penelitian tahun 2003 menunjukkan bahwa perempuan yang menderita OCD saat kecil beresiko lebih tinggi untuk mengidap ED ketika dewasa.
Lantas, apa yang menjadi pembeda antara OCD dan ED?
Tingkah laku yang ditunjukkan oleh penderita OCD hampir mirip dengan penderita ED, sehingga untuk memutuskan apakah seseorang menderita OCD atau ED, perlu diteliti motif di balik perilaku tersebut. Jika motifnya berhubungan dengan penampilan tubuh, maka orang tersebut kemungkinan mengidap ED. Terdapat juga kasus di mana penderita OCD secara tidak sengaja kehilangan berat badan atau bertambah berat badan secara drastis akibat dari OCD yang ia alami. Hal lain yang membedakan adalah penderita OCD merasa bertentangan dengan pikiran dan kebiasaan yang dilakukannya sehingga ia akan berusaha untuk menghilangkan pikiran dan kebiasaan tersebut. Sebaliknya, penderita ED merasa pikiran dan kebiasaannya adalah bagian dari identitas dirinya sendiri.
Nah, sekarang sudah lebih paham kan mengenai OCD dan hubungannya dengan ED? Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai OCD, Socconians **bisa cek artikel Social Connect lain yang membahas topik ini lho! Pastinya artikel di Social Connect sudah di-review oleh para ahli kejiwaan. So, happy reading!
ReferensiPenulis: Cori Maryani
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Pandhit Satrio Aji S. Psi
Editor Tata Bahasa: Dian Rotua Damanik dan Sulistia Ningsih
Sumber Tulisan
