
Hi, Socconians!
Pernahkah kamu merasa malu? Lebih tepatnya perasaan malu yang bercampur dengan perasaan bersalah yang berlebihan karena tidak dapat memenuhi standar yang kamu buat, sehingga kamu memaki-maki dirimu sendiri dengan kata-kata yang tidak pantas diungkapkan? Hal yang kamu alami mungkin bisa disebut sebagai toxic shame.
Apa itu Toxic Shame?
Istilah toxic shame pertama kali diperkenalkan pada 1960-an oleh Sylvan Tomkins, seorang psikolog dan ahli teori dari Amerika. Meskipun terkenal dengan banyak teorinya, tetapi teori afek, dimana mencakup rasa malu (shame), merupakan salah satu teori terkenalnya.
Pada dasarnya, rasa malu adalah emosi, tetapi rasa malu memiliki ikatan fisiologis yang lebih intens daripada banyak emosi lainnya. Rasa malu memicu respons saraf simpatik yang sama seperti rasa takut sehingga membuat individu dalam keadaan melarikan diri (flee), berkelahi (fight), atau diam (freeze).
Ada beberapa respons perilaku umum ketika merasa malu. Bersembunyi dan menarik diri dari sosial merupakan salah satunya. Namun, apabila seseorang memiliki trauma yang terkait dengan rasa malu pada masa kecil dan mengancam keberadaan sosial seseorang, maka dapat memengaruhi representasi diri pada masa dewasa seperti halnya merendahkan diri sendiri atau orang lain, serta adanya penolakan untuk mengungkapkan apa yang terjadi. Hal ini akan memuncak dan akhirnya berujung pada kesepian dan merasa terisolasi. Rasa malu yang dirasakan secara berlebih inilah yang dinamakan toxic shame.
Lebih jelasnya, ciri-ciri toxic shame, adalah sebagai berikut:
Pikiran negatif yang otomatis muncul (automatic negative thoughts) di pikiran seseorang yang mengalami toxic shame pada dasarnya berasal dari kepercayaan yang tidak rasional, seperti “Saya tidak layak dicintai”. Selain itu, pikiran dan keyakinan negatif ini dapat disertai dengan pemikiran negatif lainnya, seperti “Saya bodoh”, “Saya tidak menarik”, “Saya gagal”, “Saya orang jahat”, “Saya egois”, “Saya membenci diri saya sendiri”, “Saya seharusnya tidak lahir”, atau “Saya tidak pantas untuk dicintai”.
Lalu, bagaimana cara menghadapinya?
Menghadapi toxic shame dapat dilakukan dengan berbagai cara. Secara umum, terdapat 4 (empat) cara yang dapat dilakukan untuk dapat mengatasi permasalahan toxic shame, antara lain:
Terakhir Socconians, yang terpenting, bekerja sama dan konsultasi dengan psikiater atau psikolog juga dapat membantumu, loh! Cara ini merupakan cara aman untuk melihat dan mengamati perasaan negatif yang telah mengakar pada dirimu, serta bagaimana hal itu berdampak pada cara pandangmu melihat dirimu sendiri hingga saat ini.
Nah, Socconians sudah dapat mengerti dengan istilah toxic shame hingga bagaimana menghadapinya, bukan? Maka dari itu, ayo mawas diri dan bersama menjaga kesehatan mental masing-masing!
ReferensiPenulis: Qonitah Rafiusrani
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Astridiah Primacita Ramadhani, S.Psi
Editor Tata Bahasa: Indah Riadiani dan Sulistia Ningsih
Sumber Tulisan :
