
Hai, Socconians!
Beberapa bulan lalu di platform media sosial TikTok sedang ramai-ramainya tren dengan tagar #endtoxicmasculinity. Namun, apa sih sebenarnya toxic masculinity itu? Yap, kali ini Social Connect akan membahas mengenai toxic masculinity dan dampak buruknya terhadap kesehatan mental laki-laki.
Pasti kamu sudah nggak asing, kan, dengan kata-kata maskulin dan feminin? Maskulin dan feminin adalah kata sifat atau karakteristik yang biasanya dikaitkan dengan jenis kelamin seseorang, yaitu laki-laki dan perempuan. Penggolongan kedua sifat ini muncul dari konstruksi sosial mengenai gender.
Hubungan Konstruksi Gender dengan Toxic Masculinity
Toxic masculinity lahir ketika seseorang berpikiran bahwa pria harus memenuhi standar sifat maskulin yang telah dibentuk oleh konstruksi sosial. Dengan kata lain, menormalisasikan dan mengglorifikasi sifat maskulin itu sendiri secara berlebihan. Jika tidak memenuhi standar tersebut, akan dianggap tidak manly. Toxic masculinity secara tidak langsung bisa menyebabkan pemahaman yang keliru mengenai menjadi seorang pria.
Sifat-sifat Maskulin yang Terbentuk oleh Konstruksi Sosial
Penelitian oleh Promundo dan Unilever pada tahun 2016, memperkenalkan sebuah skala standar sifat maskulin yang bernama The Man Box. Di dalamnya, ada tujuh buah pilar sifat-sifat maskulin yang dibentuk dari pandangan-pandangan masyarakat, mulai dari yang tercermin di media hingga nilai-nilai yang secara tidak sadar orang tua ajarkan kepada anaknya. Ketujuh sifat tersebut sebagai berikut.
Bahaya Toxic Masculinity untuk Kesehatan Mental Laki-Laki
Toxic masculinity bisa berakibat buruk bagi kesehatan mental jika seseorang tersebut tidak bisa memenuhi kriteria atau standar tersebut dan merasa tertekan karenanya.
Sebagai salah satu contoh, seorang laki-laki memiliki masalah yang berkaitan dengan perasaan. Membicarakan masalah pribadi seperti putus cinta, kehilangan seseorang, kegagalan dalam rumah tangga, ataupun masalah yang menggunakan perasaan sering kali dianggap sebagai subjek yang tidak maskulin. Pada sebuah penelitian menunjukkan bahwa hal ini membuat laki-laki merasa enggan mencari solusi atau bantuan dari luar.
Di sisi lain, pada penelitian itu pula menunjukkan terdapat beberapa pria yang berani untuk menceritakan masalahnya, tetapi gagal untuk mendapatkan bantuan karena mereka mendapat penolakan dari sesama kaum pria. Mereka yang mengalami kegagalan dalam mendapat bantuan merasa malu karena mereka telah “merusak” standar maskulinitas.
Jika kaum laki-laki dipaksa untuk memenuhi standar sifat maskulin, kemungkinan mereka akan mengalami gangguan kesehatan mental, seperti berikut ini.
Nah Socconians, dari sini kita tahu bahwa toxic masculinity tidak baik untuk kesehatan mental laki-laki, ya. Namun, sebenarnya maskulin sendiri itu tidak toxic dari kacamata kesehatan jika mereka seimbang, kok.
Untuk laki-laki, kamu bisa menjadi maskulin tanpa perlu menjadi toxic! Cobalah menjadi lebih open-minded dan pahami bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk perasa.
ReferensiPenulis: Adrian Daniarsyah
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Sherly Deftia A. S.Ked
Editor Tata Bahasa: Christina Intania A dan Hafiza Dina Islamy.
Sumber Tulisan :
