
Antisocial Personality Disorder (ASPD) merupakan sebuah gangguan kepribadian atau gangguan kesehatan mental yang dapat terjadi pada anak. Perilaku antisosial dapat diidentifikasi sejak umur 8 tahun, dan gejalanya dapat dikenali sejak umur 3-4 tahun. Bila gejalanya tidak dikenali dan ditangani, kondisi anak bisa menjadi semakin parah dan dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan mental, perilaku kriminal, hingga munculnya addictive disorder.
Sebagai orang tua, tentu kita harus sadar akan keberadaan perubahan pada anak, termasuk terhadap keberadaan gejala perilaku antisosial pada anak. Ada beberapa gejala perilaku antisosial yang dapat dikenali pada anak sebelum berumur 8 tahun, yaitu:
Ada beberapa faktor yang mungkin menyebabkan terjadinya perilaku antisosial pada anak. Salah satu yang paling penting adalah ****pola asuh. Pola asuh terbukti sangat menentukan karakter dan kondisi kesehatan mental anak saat dewasa. Selain pola asuh, terdapat beberapa faktor lain yang Socconians harus perhatikan, yaitu:
Studi membuktikan bahwa antisocial disorder dapat diturunkan melalui genetik, untuk itu orang tua terutama ibu hamil harus memperhatikan kondisi kesehatan mentalnya untuk menurunkan kemungkinan turunnya gen antisosial kepada calon bayi.
Hal ini termasuk penggunaan obat-obatan pada masa kehamilan, merokok, komplikasi saat melahirkan, dan stres yang berlebihan dapat berakibat pada kelahiran prematur. Adapun efek lain seperti, kerusakan otak pada janin, dan berat badan lahir rendah. Hal itu dapat memengaruhi kondisi mental anak saat tumbuh dewasa.
Nah, jadi untuk calon ibu usahakan jangan stres dan nikmati masa kehamilan sepositif mungkin serta menjaga pola hidup agar tetap sehat.
Kestabilan emosi orang tua sangat menentukan kestabilan emosi anak. Untuk itu, orang tua harus bisa mengatur emosinya dengan tidak bertengkar, berdebat, apalagi sampai menunjukkan kekerasan di depan anak.
Studi menemukan bahwa anak yang terekspos oleh kekerasan, pertengkaran, dan tidak memiliki kedekatan emosional di dalam keluarga akan memiliki kemungkinan lebih besar menderita antisosial saat dewasa.
Menyambung poin kedua, lingkungan rumah dan sekolah juga penting dalam membentuk emosi anak. Sebagai orang tua, kita harus bisa memastikan anak selalu mempunyai pengaruh yang baik di lingkungan sekitarnya, karena orang tua tidak dapat mengawasi anak 24/7.
Sistem sekolah yang baik, pergaulan yang sehat, lingkungan rumah yang tidak berbahaya; semua membentuk emosi dan karakter anak. Lingkungan yang baik dapat melatih empati anak, sebaliknya lingkungan yang buruk dapat membentuk pribadi anak menjadi kurang peduli dan tidak berempati.
Anak memiliki kepribadian yang rentan. Oleh karena itu, Socconians harus berhati-hati dalam menghukum anak, jangan sampai malah menimbulkan trauma yang berkelanjutan. Ini juga menjadi alasan poin ketiga penting karena untuk memastikan bahwa tidak ada pihak luar yang menimbulkan trauma atau memberi hukuman yang salah pada anak.
Kekerasan bukanlah jawaban untuk menghukum anak. Anak malah akan menilai itu sebagai tindakan yang benar untuk meluruskan kesalahan dan malah akan memperburuk kesehatan mental anak.
Sebagai alternatif dari memberikan kekerasan sebagai hukuman, orang tua dapat mengajarkan anak bagaimana cara mengekspresikan emosinya dengan benar.
Anak dengan gejala antisosial cenderung menyukai kekerasan, agresif, dan kurang memiliki empati. Maka dari itu, orang tua harus dapat melatih anak untuk menangani konflik, problem solving, mengendalikan kemarahan, menyampaikan pikiran dan kemauan (tanpa menangis atau kekerasan yang berlebihan), mengajarkan empati dan membantu anak mengenali emosinya sendiri.
Saat anak memiliki kemauan yang tidak dapat dituruti, daripada membentak dan memarahi, orang tua harus bisa menjalin diskusi dengan anak. Bisa juga dengan menjelaskan perlahan, dan mencari solusinya bersama.
Adalah hal yang cukup lumrah jika anak kecil menjadi nakal, tidak menuruti perintah, dan tantrum. Namun, orang tua harus dapat mengenali ketika keadaan anak sudah terlalu berlebihan dan mulai menunjukan gejala perilaku antisosial.
Namun, Socconians tidak perlu khawatir. Tidak semua anak dengan gejala antisosial bertumbuh menjadi anak dengan Antisocial Personality Disorder atau ASPD saat dewasa. Kenali gejala sejak dini dan atasi dengan benar merupakan kunci agar kesehatan mental anak tetap terjaga.
Penulis: Rati Christianingtyas Nugraheni
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Sherly Deftia A, S.Ked
Editor Tata Bahasa: Servita Ramadhianti dan Finda Rhosyana
Sumber Tulisan :
