
Hi, Socconians!
Pernahkah Socconians mendengar istilah autisme? Jika pernah, semoga pengertian autisme yang dipahami oleh Socconians itu tepat, ya. Terkadang, kita masih salah dalam penggunaan istilah antara autisme dengan down syndrome, loh, Socconians. Padahal, kedua istilah tersebut merupakan hal yang sangat berbeda. Pada artikel kali ini, tim Social Connect akan mencoba membahas mengenai simtom autisme, khususnya pada anak. Untuk lebih jelasnya, kita akan membahas terlebih dahulu apa itu autisme.
Gangguan autistik atau yang lebih lengkapnya disebut dengan Autism Spectrum Disorder adalah gangguan perkembangan yang berdampak pada interaksi sosial dan komunikasi, pemrosesan sensorik, serta perilaku yang repetitif pada individu. Kata spektrum memiliki arti bahwa simtom autisme yang muncul bervariasi jenis dan tingkat keparahannya pada setiap individu. Pada umumnya, **simtom Autism Spectrum Disorder dimulai pada masa kanak-kanak dan cenderung menetap hingga remaja dan dewasa. Penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 80-90% dari individu yang mengidap Autism Spectrum Disorder bahkan mulai memperlihatkan simtom pada usia 2 tahun.
Berdasarkan data yang diperoleh WHO, 1 dari 160 anak di dunia mengidap Autism Spectrum Disorder. Bagaimana dengan Indonesia? Sejauh ini, jumlah anak di Indonesia yang mengidap Autism Spectrum Disorder belum diketahui secara pasti, tetapi dapat diperkirakan bahwa terdapat 2,4 juta individu di Indonesia dengan Autism Spectrum Disorder saat ini dengan pertambahan jumlah sebanyak 500 orang/tahun. Nah, berdasarkan fakta-fakta tersebut, masa kanak-kanak menjadi masa yang sangat penting untuk mendeteksi ada atau tidaknya simtom-simtom Autism Spectrum Disorder, nih*,* Socconians. Masa kanak-kanak di sini mengacu pada keadaan dan kondisi seorang anak ketika simtom autisme ini muncul, dan krusialnya dipahami segera agar mampu memberikan penanganan yang tepat sejak dini.
Setelah mengetahui pengertian autisme, selanjutnya kita perlu mengenali simtom-simtom autisme. Berikut penjabaran mengenai simtom Autism Spectrum Disorder berdasarkan kriteria diagnostik DSM-5.
Nah, seperti itulah simtom-simtom autisme. Ingat, sebaiknya kita tidak melakukan diagnosis sendiri mengenai simtom yang terlihat, ya, Socconians. Apabila terdapat keponakan atau adik-adik kecil yang Socconians kenal dan menunjukkan simtom yang serupa, disarankan untuk langsung melakukan konsultasi dengan tenaga profesional untuk melihat tahap kembang individu dan memberikan stimulasi dan penanganan yang tepat. Selain itu, hal lain yang dapat kita lakukan selanjutnya adalah dengan berusaha memahami, terus mendukung, dan mampu menerima Individu dengan simtom autisme. Apabila hal tersebut mampu dilakukan, maka pertumbuhan seorang anak dapat menjadi lebih optimal, loh, Socconians! Nah, yuk Socconians, sebagai orang yang memiliki bekal mengenai gangguan autisme, mari kita bersama-sama bersatu untuk meningkatkan kesadaran lingkungan terhadap gangguan autisme dan lebih peka terhadap sesama kita!
ReferensiSumber Tulisan
