
Hai, Socconians!
Pernah merasakan sakit kepala yang sangat hebat dan langsung berpikir kalau kamu mungkin punya penyakit parah, misalnya seperti tumor otak? Hati-hati, jangan-jangan itu salah satu tanda kalau kamu mengalami Somatic Symptom Disorder. Eits, jangan menyimpulkan dulu, mari kita kulik lebih lanjut.
Somatic Symptom Disorder atau yang biasa disingkat dengan SSD adalah salah satu diagnosis dalam dunia kesehatan mental yang baru terindeks di Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) pada tahun 2013. SSD biasanya ditandai dengan keluhan fisik yang terjadi terus-menerus disertai dengan pemikiran, perasaan, dan perilaku yang berlebihan terhadap gejala tersebut. Keluhan fisik yang dirasakan bisa jadi merupakan penyakit yang terdiagnosis secara medis maupun tidak. Akan tetapi, tidak semua pasien dengan keluhan fisik yang tidak teridentifikasi secara medis ini disebut SSD, lho, karena penekanan dari sindrom ini adalah munculnya pikiran, perasaan, dan perilaku yang berlebihan mengenai keluhan yang dirasakan.
SSD biasanya mulai muncul pada orang-orang pada usia 30 tahun, tetapi juga dapat muncul pada anak-anak maupun remaja. Kesengsaraan atau kemalangan, kondisi penuh tekanan, dan beberapa masalah kejiwaan lain seperti depresi atau kecemasan bisa menjadi faktor yang menyebabkan SSD ini timbul pada anak-anak dan remaja.
Hingga saat ini, belum ada data pasti maupun data statistik mengenai banyaknya remaja yang mengalami SSD, tetapi penelitian yang dilakukan di Swedia menunjukkan bahwa secara keseluruhan terdapat sekitar 22,7% dari sampel berupa anak remaja usia 15--16 tahun mengalami gejala SSD baik disertai dengan masalah psikologi yang serius maupun tidak, dan sebagian besar merupakan remaja perempuan.
Secara umum, SSD ditandai dengan penderita yang mengalami gangguan fisik seperti nyeri atau sesak nafas, atau gejala umum seperti kelelahan serta merasa lemah. Gangguan fisik lainnya yang umum dirasakan khususnya pada penderita SSD remaja di antaranya adalah sakit kepala, sakit perut, pusing-pusing, kehilangan nafsu makan, dan kualitas tidur yang buruk. Dari gangguan-gangguan fisik tersebut, kemudian penderita SSD mulai mengalami gejala umum sebagai berikut.
Hal yang perlu Socconians tahu, bahwa penderita SSD ini tidak sengaja menyebabkan timbulnya gangguan tersebut maupun berpura-pura sakit, dan bahkan mereka juga tidak memalsukan rasa khawatir yang berlebih tersebut. Sebagai dampak dari gejala tersebut, penderita SSD biasanya akan cenderung bergantung pada orang lain serta membutuhkan bantuan dan dukungan emosional. Pada tahap yang lebih serius, SSD khususnya pada remaja dapat menyebabkan kecemasan akut, menghambat prestasi di sekolah, dan juga hubungan dengan keluarga dan teman-teman.
Nah, ada baiknya kalau Socconians mengalami satu atau beberapa gejala seperti yang disebutkan di atas, atau mendengar keluhan orang lain terkait gejala di atas, segera konsultasikan kepada ahlinya, seperti dokter, psikolog, atau ahli kesehatan mental lainnya yang profesional dalam bidang ini. Selain menambah pengetahuan, konsultasi kepada orang-orang yang profesional juga merupakan bentuk pencegahan SSD dan masalah kesehatan lainnya.
ReferensiSumber Tulisan
