
Halo, Socconians!
Fenomena bullying bukanlah hal yang baru bagi kita semua. Selama hidup, mungkin kamu pernah menyaksikan kejadian bullying atau bahkan mengalaminya. Bullying adalah perilaku agresi baik secara verbal dan nonverbal yang sengaja dilakukan untuk menyakiti orang lain yang lebih lemah. Bullying mampu menyebabkan risiko gangguan mental serta berefek negatif pada kehidupan sosial. Biasanya, pihak yang menjadi sorotan dari kasus bullying adalah pelaku dan korban, tetapi sebenarnya saksi juga merupakan pihak yang patut diperhatikan. Mengapa? Saksi bullying juga ternyata terancam memiliki gangguan kesehatan mental.
Istilah bystander digunakan untuk mendefinisikan seseorang yang menyaksikan kejadian bullying, baik secara langsung maupun daring. Siapa saja bisa menjadi bystander, dari kenalan pelaku dan korban hingga orang asing. Terkadang bystander memilih untuk tidak ikut campur meski mereka percaya bahwa bullying itu tindakan yang salah. Hal ini disebut dengan bystander effect. Kok bisa, sih? Berikut alasan-alasannya.
Meski tidak melakukan tindakan apa-apa, para bystander tetap mendapatkan konsekuensinya tersendiri, yaitu risiko kesehatan mental. Ingat, bukan hanya pelaku dan korban saja yang mengalami dampak gangguan kesehatan mental loh, Socconians!
Menyaksikan kejadian bullying dapat mengarah pada peningkatan kecemasan, depresi, dan masalah kesehatan mental lainnya khususnya pada remaja. Menurut Rivers dalam penelitiannya di tahun 2009, bystander melaporkan tekanan psikologis yang lebih besar daripada individu yang menjadi pelaku atau korban dalam lingkungan sekolah. Karena sama seperti menyaksikan tindakan kriminal, melihat seseorang yang di-bully dapat menjadi pengalaman traumatis atau dapat mengingatkan seseorang tentang pengalaman traumatisnya sendiri. Penelitian lain yang dilakukan Midgett dan Doumas pada 2019 juga mengemukakan bahwa bystander memiliki gejala depresi yang tinggi. Hal ini terjadi karena bystander cenderung merasakan viktimisasi sekunder ketika menyaksikan kejadian bullying. Jadi, mereka juga merasakan dirinya sebagai korban dan mengalami tekanan batin karena tidak membantu korban yang sebenarnya.
Nah, lalu apa yang harus dilakukan jika kamu menjadi saksi kejadian bullying? Kamu dapat melakukan lebih dari sekadar diam. Kamu punya kekuatan lebih besar daripada yang kamu sadari! Tindakan yang paling tepat adalah menjadi upstander atau seseorang yang mengambil tindakan pada kejadian bullying. Ketika individu yang ditindas mendapatkan dukungan dan perlindungan oleh orang lain, khususnya teman, kemungkinan risiko gangguan kesehatan mental akan semakin kecil bagi korban.
Ada banyak hal yang dapat kamu lakukan untuk menjadi upstander:
Jika bullying terjadi dalam lingkungan sekolah, guru dan orang dewasa lainnya juga dapat memainkan peran sebagai upstander. Guru dapat melakukan kegiatan untuk meningkatkan pembelajaran emosional-sosial dan memberikan strategi untuk mendukung teman sebaya mereka. Sementara itu, orang dewasa dapat menjadi panutan dan membantu pembentukan lingkungan sosial yang positif. Apabila guru dan orang dewasa memiliki kesadaran akan pentingnya menurunkan fenomena bullying dan bertindak proaktif terhadap semua pihak, maka siswa serta pihak terkait akan optimis dan persentase bystander dapat berkurang.
Nah, setelah membaca artikel ini kamu sudah mengerti kan kenapa saksi bullying juga dapat terancam kesehatan mentalnya? Menyaksikan kejadian bullying menimbulkan trauma dan rasa bersalah atau penyesalan karena tidak membela korban. Socconians*,* yuk turut serta membantu menurunkan tingkat risiko kesehatan mental kamu sendiri dan korban dengan menjadi upstander!
), ( ReferensiSumber Tulisan
