
Hi, Socconians!
Bersikap positif dalam berbagai situasi terdengar sebagai suatu hal yang baik untuk dilakukan. Namun, ternyata sikap positif justru bisa berdampak buruk lho kalau tidak dilakukan dengan tepat atau yang disebut dengan toxic positivity. Nah, kali ini Social Connect akan mengajak Socconians untuk mengenal toxic positivity dan cara menghindarinya.
Apa Itu Toxic Positivity?
Toxic positivity dapat diartikan sebagai keadaan ketika seseorang bersikap terlalu positif dalam segala situasi. Individu tersebut merasa bahwa selalu bersikap positif adalah cara terbaik untuk menjalani hidup sehingga menolak segala emosi yang negatif, seperti perasaan sedih atau marah. Contohnya, mungkin kamu pernah melihat quotes di media sosial, seperti good vibes only atau ketika kamu sedang bercerita tentang suatu masalah kepada seorang teman dan teman tersebut menjawab, “Santai aja, nggak usah dipikirkan." Secara sekilas, mungkin bersikap positif seperti itu terkesan hal yang patut untuk dilakukan, tetapi sebenarnya tidak juga, lho.
Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, begitu juga dengan positivity. Ketika positivity dilakukan secara berlebihan sampai menutupi perasaan dan emosi yang sebenarnya dirasakan, hal tersebut menjadi toksik. Toxic positivity dapat berupa menyangkal, menggampangkan atau menghindari perasaan negatif yang sebenarnya dirasakan. Pada kenyataannya, manusia dapat merasakan sedih, marah, iri, kecewa, dan perasaan-perasaan tersebut normal untuk diakui. Dengan berpura-pura selalu positif dan memendam perasaan yang sebenarnya, justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental kita.
Berdasarkan penelitian oleh Wood et al (2009), diketahui bahwa terus mengulang kalimat positif memang dapat berguna bagi sebagian orang, tetapi juga dapat menjadi bumerang bagi orang yang benar-benar membutuhkannya. Hal ini karena individu tersebut semakin menekan perasaan yang sebenarnya dialami. Lalu, bagaimana cara menghindari toxic positivity?
Cara Menghindari Toxic Positivity
Toxic positivity dapat dialami dalam dua kondisi, kamu sendiri yang merasakan atau kamu yang melakukan toxic positivity kepada orang lain di sekitar kamu. Yuk, kita bahas keduanya!
Ketika kamu mengalami perasaan negatif, kamu dapat bercerita ke orang lain yang kamu percaya, seperti keluarga atau sahabat terdekat. Mengeluarkan emosi yang kamu rasakan sama seperti mengangkat beban yang berat dari pundak kamu. Mungkin awalnya memang tidak mudah dilakukan, tetapi akan lebih sulit lagi untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Dengan mengakuinya, akan membantu kamu untuk menurunkan intensitas dari emosi negatif tersebut.
Tidak ada emosi yang benar-benar negatif. Justru kamu harus melihatnya sebagai sebuah petunjuk yang dapat membantu kita memahami berbagai hal. Contohnya, jika kamu merasa sedih karena akan berpisah dengan seorang teman, hal tersebut menunjukkan bahwa kamu memiliki pengalaman yang menyenangkan dengannya. Jika kamu merasa grogi ketika akan tampil presentasi, berarti kamu benar-benar peduli tentang performa yang akan kamu berikan.
Jika ada seseorang yang bercerita tentang masalahnya, berusahalah untuk tidak menggampangkan atau menormalisasikan masalah orang tersebut. Dibandingkan merespons dengan, “Nggak apa-apa, nggak usah dipikirkan,” lebih baik kamu merespons dengan, “Coba ceritakan tentang masalah kamu, aku akan mendengarkan.” Atau dibandingkan, “Nggak usah stres, nanti juga selesai sendiri,” lebih baik, “Aku paham ini pasti sulit ya buat kamu, apakah ada yang bisa aku bantu?” Dengan begitu, orang di sekitar kamu akan merasa dihargai perasaannya dan berani untuk mengutarakannya.
Jika kamu merasa pernah menggunakan kalimat toxic positivity seperti di atas, jangan khawatir dulu! Bukan berarti kamu orang yang jahat. Mungkin sesekali kita melakukan kesalahan, tetapi yang penting kita sadar dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Kamu masih bisa memperbaikinya kok.
Nah, jadi sekarang Socconians sudah lebih mengenal toxic positivity dan cara menghindarinya, bukan? Jangan takut untuk mengakui emosi negatif yang kamu rasakan dan juga jangan memaksakan orang lain untuk selalu memiliki emosi positif. Menyeimbangkan kedua emosi tersebut merupakan hal yang penting untuk menjaga kesehatan mental kita juga, lho!
ReferensiPenulis: Fanny Prima Irmawati
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Pandhit Satrio Aji, S.Psi
Editor Tata Bahasa: Muhammad Ridwan dan Finda Rhosyana
Sumber Tulisan
