
Hai, Socconians!
Tahu gak, setiap makhluk hidup, termasuk manusia, memiliki tingkat toleransi stres yang berbeda-beda, lho. Ada yang tidak mudah dipusingkan oleh gangguan di sekitarnya dan tetap chill walau orang lain sudah panik, ada juga yang mudah teriritasi oleh lingkungan bahkan dari hal kecil yang mengakibatkan ia merasakan stres berkepanjangan. Entah karena salah bicara atau pikiran yang menghantui seperti, “Apa aku udah matiin kompor yah tadi di rumah?”
Stres bukan hanya datang dari masalah dalam diri seperti kegelisahan yang menghantui, tetapi stres juga dapat hadir karena pengaruh lingkungan yang mengakibatkan munculnya perasaan tertekan ketika kamu menjalankan kehidupan sehari-hari. Stres dapat diakibatkan oleh banyak hal berbeda. Tentunya membutuhkan penanganan yang berbeda pula di setiap gejala yang dialami. Seperti jenis stres yang akan dibahas hari ini, yaitu PTSD.
Post-Traumatic Symptom Disorder atau disingkat PTSD, disebut juga gangguan stres pascatrauma, adalah stres berkepanjangan yang muncul akibat pengalaman traumatis dan bencana yang pernah dialami oleh seseorang hingga muncul perasaan gelisah yang kemudian mengganggu aktivitas sehari-hari. Gejala dari PTSD bisa dikategorikan menjadi 4 jenis yaitu:
Nah, bencana yang dimaksud bukan hanya yang disebabkan oleh alam seperti gempa bumi atau tanah longsor saja, loh, Socconians. Namun, juga yang disebabkan oleh manusia seperti pemerkosaan, penipuan, dan penculikan. Bencana yang dialami selain dapat menimbulkan luka fisik juga dapat mengakibatkan luka pada psikologis seseorang. Dampaknya, orang tersebut dapat mengalami trauma atau pengalaman menyedihkan lain yang membuatnya terganggu dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Meskipun begitu, gak semua orang yang mengalami trauma akan mendapat dampak yang besar dari PTSD, loh, Socconians. Hal ini karena tingkat stres yang berbeda bisa menimbulkan dampak berbeda pula pada penderita PTSD. Biasanya bencana yang diakibatkan oleh manusia seperti pemerkosaan tingkat stres dan tarumanya akan lebih tinggi dibandingkan oleh trauma bencana alam yang tidak bersifat personal. Jadi, sangat penting untuk memperhatikan tingkat stres yang dimiliki seseorang setelah orang tersebut mengalami kejadian traumatis seperti bencana yang sudah disebutkan di atas.
Apabila Socconians mengalami pengalaman traumatis dan merasa dihantui dengan kejadian tersebut, Socconians bisa melakukan curhat kepada orang yang dipercaya, setidaknya emosi terpendam dan mengakibatkan perasaan tertekan yang dialami bisa berkurang. Lalu jika masih merasa berat, Socconians bisa datang ke psikolog atau psikiater terdekat untuk mendapatkan penanganan intensif seperti medikasi atau perawatan perilaku kognitif yang hanya bisa diberikan oleh profesional.
Nah, bagaimana jika kita berada di dalam satu situasi yang mengharuskan kita menangani orang dengan kecenderungan PTSD? Jangan bingung, yang dapat Socconians lakukan adalah tetap tenang dan memberikan afeksi semaksimal mungkin kepada orang tersebut. Terkadang dengan menjadi telinga yang mau mendengar keluh kesah saja, orang yang menderita PTSD sudah merasa cukup terbantu dalam pengelolaan emosi dan afeksinya hingga ia merasa tidak sendirian. Serta tidak lupa, mereka tetap harus segera diberikan penanganan intensif mengenai stres dan traumanya agar dapat segera pulih dan menjalankan aktivitasnya seperti sedia kala.
Nah, jangan pernah merasa bahwa tidak ada yang bisa kita lakukan apabila kita melihat bencana alam di sekitar kita, ya. Selain memberikan bantuan, Socconians juga bisa ikut berpartisipasi bersama Dinas Sosial dalam melakukan volunteer atau kegiatan relawan di daerah yang baru saja terjadi bencana. Biasanya Dinas Sosial akan melakukan trauma healing dengan menjalankan serangkaian aktivitas yang bisa menaikkan mood dari orang yang baru saja tertimpa bencana atau membuka posko untuk sharing dan melakukan curhat, baik secara kelompok maupun personal.
Terkadang, mereka yang mengalami trauma hanya butuh didengar dan melampiaskan kekesalannya karena sebagian besar trauma yang terjadi diakibatkan oleh terpendamnya emosi yang besar di dalam diri seseorang. Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi kita nih, Socconians. Jangan sampai kita memendam sesuatu di dalam diri kita, apalagi hingga bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain itu, jangan ragu untuk datang ke psikolog terdekat untuk segera mendapatkan pengobatan. Terkadang, luka yang disebabkan oleh psikologis bisa berdampak lebih buruk dibandingkan luka fisik.
ReferensiSumber Tulisan
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder 5th Edition. New York: American Association Publisher
Holey, Jill M., dkk. (2017). Psikologi Abnormal Edisi 17. Jakarta: Salemba Humanika.
Lancaster, C. L., Teeters, J. B., Gros, D. F., & Back, S. E. (2016). Posttraumatic Stress Disorder : Overview of Evidence-Based Assessment and Treatment. Journal of Clinical Medicine, 5, 105.
