
Halo, Socconians!
Terdapat banyak jenis gangguan kejiwaan yang bisa terjadi pada siapa saja, salah satunya adalah gangguan bipolar. Gangguan bipolar yang termasuk dalam kategori mood disorder atau gangguan suasana hati adalah gangguan yang ditandai dengan adanya perubahan mood secara fluktuatif dan drastis, di mana seseorang dapat tiba-tiba menjadi sangat murung padahal sebelumnya terlihat bahagia (mood swing).
Walaupun tidak menempati posisi utama seperti depresi, Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME, 2017) menyatakan bahwa gangguan bipolar mengalami peningkatan menuju urutan ke-5 sebagai penyebab disabilitas mental di dunia. Prevalensi individu penyintas gangguan bipolar di dunia memiliki interval pada presentasi 1--3%. Persentase ini termasuk dalam 45% dari jumlah individu yang mengalami gangguan suasana hati, dimana menurut National Institute of Mental Health, sebanyak 9,5% individu dewasa mengalami gangguan suasana hati setiap tahunnya. Ironisnya, di Indonesia sendiri belum memiliki data yang memadai mengenai prevalensi sebenarnya dari penyintas gangguan bipolar. Kesadaran masyarakat mengenai gangguan bipolar ini juga masih sangat minim, terutama yang terjadi pada anak-anak.
Walaupun tidak sebanyak ditemukan pada masa dewasa, gangguan bipolar juga terjadi pada anak-anak dengan prevalensi mencapai 3% dari seluruh anak di dunia. Diagnosa awal pada anak bisa dimulai sedari anak berusia 5 tahun. Ada pula, munculnya gejala gangguan bipolar pada anak-anak disebut sebagai early-onset bipolar disorder.
Sampai saat ini, belum ditemukan alasan pasti yang menjadi penyebab dari gangguan bipolar. Gangguan ini disebabkan oleh perpaduan dari beberapa faktor baik internal maupun eksternal. Namun secara garis besar, ada tiga faktor yang mampu mendasari penyebab anak-anak lebih berisiko mengalami bipolar, yakni faktor stress, genetika, dan struktur otak.
1. Early Childhood Adversities (ECA)
Early Childhood Adversities (ECA) adalah istilah yang secara umum digunakan untuk menggambarkan deskripsi situasi, lingkungan atau kejadian yang menjadi ancaman bagi keberfungsian anak secara fisik dan psikologis. Kejadian dan situasi yang paling umum ditemui meliputi rendahnya kemampuan finansial keluarga, penyiksaan dalam keluarga, perundungan, kecelakaan yang parah, diskriminasi, kekerasan dalam lingkungan dll. Berdasarkan jurnal yang dipublikasikan oleh The Royal College of Psychiatrists (2016), ECA terbukti memiliki asosiasi erat dengan gangguan bipolar, serta adanya kemiripan pola pada ECA partisipan.
2. Faktor genetik
Faktor genetik berkontribusi besar terhadap risiko gangguan bipolar hingga 80 persen dari setiap kasus yang ada. Artinya, seorang anak yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan bipolar memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami gangguan bipolar juga dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki anggota keluarga dengan riwayat gangguan bipolar. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak selalu seorang individu pasti mengalami gangguan bipolar ketika salah satu keluarganya mengalami gangguan tersebut. Faktor risiko secara genetik belum mampu untuk digeneralisasi dan dilihat secara pasti peran gen dan alel di dalam pembentukan gangguan ini.
3. Faktor Struktur dan fungsi otak
Neurotransmiter adalah senyawa kimia yang memiliki fungsi untuk mengendalikan aktivitas di otak. Serotonin, dopamin dan norepinefrin adalah senyawa kimia dengan peran yang sesuai pada fluktuasi gangguan bipolar. Serotonin berfungsi mengatur kendali otak pada suasana hati (mood), dopamin mengantarkan rangsangan ke seluruh tubuh, sedangkan norepinefrin bekerja sama dengan adrenalin untuk meningkatkan alirah darah ke jantung dan membuat tubuh bersemangat. Ketidakseimbangan fungsi kerja senyawa kimia dapat menjadi penyebab gangguan bipolar, karena senyawa ini memiliki faktor risiko yang sesuai dengan perubahan pada gangguan bipolar.
Walaupun telah melakukan berbagai penelitian mengenai penyebab gangguan bipolar, hasil dari penelitian masih belum bisa digeneralisasikan dan kerap kali tiap kasus memiliki alasan dan penyebab yang berbeda.
Bagaimana menurutmu, Socconians? Semoga informasi di atas bisa menambah pemahaman tentang faktor risiko bipolar pada anak-anak, ya. Kita harapkan selalu agar suatu hari nanti akan semakin ditemukan informasi yang lebih memadai mengenai gangguan bipolar ini, terutama di negara tercinta kita. Selalu jaga serta sadari kebahagiaan kamu dan orang-orang di sekitar ya, Socconians!
), ( ReferensiSumber Tulisan :
