
Halo, Socconians!
Kasus bunuh diri di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Menurut data dari WHO, di Indonesia, setiap satu jam ada satu orang yang melakukan upaya bunuh diri. Namun, perlu diingat, bunuh diri merupakan tindakan yang kompleks dan dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan dan jenisnya. Nah, untuk kamu yang ingin tahu lebih dalam, kali ini Social Connect akan membahas apa saja fakta dan mitos tentang percobaan bunuh diri.
Masih data dari WHO, bunuh diri merupakan penyebab kematian terbanyak kedua dalam rentang usia 15–29 tahun. Pemicu bunuh diri yang paling umum, yaitu depresi masalah ekonomi, masalah pribadi, seperti percintaan, trauma, dan penyakit yang diderita. Maka dari itu, semua orang harus mulai meningkatkan kesadaran. Kesadaran tentang bagaimana kita mengenal dan memahami diri sendiri dan orang lain di lingkungan sekitar.
Tindakan bunuh diri sering kali berawal dari depresi yang tak tertangani. Seseorang yang depresi kerap merasa rendah diri dan tak pantas untuk hidup di dunia. Ia merasa tidak ada orang yang mengerti deritanya dan memilih untuk menyudahi hidup. Maka dari itu, jika ada teman atau orang dekat berbicara tentang melukai dirinya sendiri atau hingga mengakhiri hidupnya, harus ditanggapi serius. Paling tidak, ajak bicara dan dengarkan apa masalahnya.
Organisasi asal Australia yang fokus tentang mental health, Beyond Blue, mengatakan setidaknya ada beberapa mitos menyesatkan yang masih beredar luas di masyarakat. Oleh karena itu, berikut lima fakta dan mitos tentang pencegahan bunuh diri yang wajib kamu ketahui.
Mitos 1: Berbicara tentang bunuh diri merupakan ide yang buruk
Faktanya kebanyakan orang yang berpikir tentang bunuh diri tidak tahu siapa yang harus diajak bicara. Stigma negatif yang tersebar luas seputar bunuh diri membuat banyak orang yang mengalami masalah ini terjebak dalam pikirannya sendiri. Daripada meracuni pikiran dan memunculkan niat untuk bunuh diri, lebih baik berbicara secara terbuka tentang apa yang dirasakan. Setidaknya dapat membuka pikiran dan pilihan lalu menjadi pendengar yang baik merupakan tindakan yang tepat.
Mitos 2: Sekali mencoba bunuh diri, akan mencoba lagi
Faktanya risiko seseorang untuk melakukan percobaan bunuh diri yang tinggi seringkali bersifat jangka pendek dan terjadi pada situasi tertentu. Meski begitu, pikiran untuk bunuh diri mungkin kembali, tapi tidak permanen. Faktor risiko memang akan selalu ada, tapi hal ini bergantung pada tingkat stres, trauma historis, hubungan dengan keluarga, dan masalah pekerjaan. Seseorang yang pernah punya pikiran untuk bunuh diri dapat terus menjalani hidup tanpa masalah.
Mitos 3: Seseorang yang ingin bunuh diri bertekad untuk mati
Faktanya orang-orang yang ingin bunuh diri tidak pernah benar-benar paham pada konsekuensinya, yang diharapkan hanyalah menghilangkan seluruh beban yang diderita. Mereka sering merasa sangat tertekan dengan persoalan dan masalah yang dihadapi dan ingin hal itu berakhir. Ketika hendak bunuh diri, mereka biasanya merasa sendirian dan merasa seperti menjadi beban bagi orang lain. Oleh karena itu, dukungan emosional pada waktu yang tepat dapat mencegah bunuh diri.
Mitos 4: Kebanyakan bunuh diri terjadi tanpa peringatan
Faktanya kebanyakan kasus bunuh diri didahului oleh tanda-tanda peringatan verbal dan perilaku. Dari sisi perilaku contohnya seperti suasana hati yang terus menurun, sembrono, hingga tidak tertarik dalam menjaga kebersihan atau penampilan pribadi. Dari sisi verbal tanda yang muncul seperti tidak ingin memikirkan masa depannya hingga sering membicarakan tentang kematian. Penting untuk melihat tanda-tanda peringatan ini untuk mencegah bunuh diri.
Mitos 5: Hanya orang dengan masalah kesehatan mental yang bunuh diri
Faktanya tindakan percobaan untuk bunuh diri menunjukkan ketidakbahagiaan yang mendalam, belum tentu karena masalah kesehatan mental. Banyak orang yang hidup dengan masalah kesehatan mental malah tidak ingin bunuh diri. Lalu, tidak semua orang yang bunuh diri memiliki masalah kesehatan mental. Kasus bunuh diri yang tercatat terjadi pada berbagai karakteristik demografis, seperti usia, jenis kelamin, etnis, dan ras. Percobaan bunuh diri bisa terjadi pada semua orang.
Inti permasalahannya adalah jangan tertutup. Jika kamu punya pikiran untuk bunuh diri, mulailah dengan bicarakan tentang apa yang kamu rasakan. Terbuka dengan permasalahan yang kamu hadapi akan sangat membantu. Bingung mulai dari mana? Kamu bisa mulai membicarakan hal ini pada seseorang yang bisa membuatmu nyaman, seperti keluarga, teman dekat, guru, atau bahkan komunitas yang peduli pada masalah ini.
Bagaimana menurutmu, Socconians? Semoga lima hal di atas bisa menambah pengetahuan dan pemahaman kamu tentang upaya bunuh diri sehingga kamu dapat lebih mengenal dan mengerti tentang apa saja yang harus dilakukan untuk mencegah masalah yang bisa terjadi pada siapa saja, termasuk diri kamu sendiri. Selalu jaga serta sadari kebahagiaan kamu dan orang-orang di sekeliling, ya, Socconians!
ReferensiSumber Tulisan
