
Hai, Socconians! Pernahkah mendengar istilah OCD? Apakah itu sebuah teknik diet seorang selebriti? Nah, OCD yang dibahas kali ini berbeda, lho.
Sebelum itu, coba perhatikan lingkungan sekitar kalian. Apakah kalian bisa menemukan orang yang mencuci tangannya berulang kali? Adakah orang yang sedang menggosok terus tangannya? Jika tidak, orang-orang dengan gejala OCD memang susah dikenali. Orang-orang ini cenderung menyembunyikannya karena takut dengan pandangan sekitarnya. Masyarakat sering kali menyikapi orang dengan masalah kesehatan mental dengan menjauhi, mengamati saja atau dikucilkan. Tindakan ini menyebabkan orang dengan OCD semakin enggan untuk mencari bantuan yang dibutuhkan.
Di Indonesia, masalah kesehatan mental masih dipandang negatif. Studi oleh Subu dkk. mengungkapkan sikap masyarakat Indonesia sama dengan sikap masyarakat di negara barat. Penderitanya selalu dihubungkan dengan gangguan jiwa, yang berarti orang tersebut tidak waras, kasar, dan berbahaya. Orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental bahkan selalu ditempatkan di posisi terbawah baik di rumah, tempat kerja, hingga di media. Stigma-stigma tersebut memunculkan rasa malu tidak hanya pada penderitanya, tetapi orang-orang terdekatnya. Akibatnya, mereka memilih untuk menutup diri karena tidak memiliki dukungan yang dibutuhkan.
Reaksi publik pada gangguan OCD tentunya tidak jauh berbeda. Gangguan OCD menyebabkan penderitanya kesulitan menjalani kegiatan sehari-hari seperti orang pada umumnya. Coba bayangkan, pikiran kalian dihantui dengan rumah kalian yang mengalami kebakaran dan satu-satunya cara untuk menghilangkannya adalah dengan bolak-balik memeriksa kondisi rumah. Tindakan ini tentu akan dianggap aneh oleh orang-orang biasa. Masih banyak tindakan tidak biasa lainnya yang dilakukan orang dengan OCD untuk melegakan pikirannya. Jika tindakan tersebut sudah melebihi batas wajar, orang-orang akan menilai individu tersebut sebagai orang aneh atau orang gila sehingga cenderung dijauhi. Jika gangguan OCD tidak segera ditangani, maka kondisi kesehatan mentalnya akan semakin menurun hingga memerlukan penanganan oleh psikiater. Seseorang yang dibawa ke psikiater biasanya akan dicap sebagai orang sakit jiwa dan mendapat perlakuan selayaknya orang yang memang sakit jiwa.
Jadi, mengapa orang-orang bisa berpikir seperti itu, sih? Akyurek dkk. menunjukkan akar dari stigma sosial terhadap masalah kesehatan mental adalah kesalahpahaman. Sebuah studi pun menunjukkan bahwa publik ternyata belum banyak tahu mengenai perbedaan OCD dengan seseorang yang ingin segalanya sempurna. Mayoritas mengaitkan OCD, pertama, dengan tindakan yang dilakukan berulang-ulang, kedua, sifat perfeksionis, dan bahkan, ada pula yang belum pernah mendengar istilah OCD. Sebuah studi juga menunjukkan ketika diperlihatkan pada orang dengan OCD, publik menyikapi dengan mengharapkannya mencari bantuan profesional, tetapi tidak tahu gangguan yang dialami dan bantuan yang seharusnya diberikan. Kurangnya pengetahuan mengenai gangguan OCD cenderung memunculkan kesalahpahaman tentang orang yang mengalaminya, sehingga menjauhkan jangkauan orang dengan OCD untuk mendapatkan pertolongan.
Kemudian, OCD ini sebenarnya apa, sih, kalo memang penting banget untuk diketahui? Nah, OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) adalah gangguan kesehatan mental berupa pikiran-pikiran yang mendorong penderitanya untuk melakukan sesuatu berulang-ulang. Pikiran-pikiran yang mengganggu inilah yang disebut sebagai obsesi dan tindakan yang dilakukan secara repetitif ini adalah kompulsif. Obsesi ini akan terus menghantui mereka sampai mereka mengatasinya dengan tindakan berulang-ulang tersebut dan jika diabaikan terus akan memunculkan rasa cemas. Akibatnya, orang dengan OCD mengalami kesulitan memfokuskan diri pada keadaan saat ini dan terus dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang tidak diinginkan dan tidak bisa dikendalikan.
Beberapa pola pikir seseorang dengan OCD adalah:
Sama halnya dengan kita, orang dengan OCD tidak bisa hidup sendirian dan memerlukan dukungan dari orang-orang sekitarnya. Jika Socconians **kenal dekat dengan seorang penderita OCD, dampingi mereka, yuk, selama prosesnya. Jika kalian adalah orang dengan OCD, masih ada yang peduli denganmu, janganlah takut untuk bercerita dan mencari bantuan, ya!
ReferensiPenulis: Stefani Amelinda
Editor-in-Chief: Kabrina Rian
Editor Medis: Astridiah Primacita Ramadhani, S.Psi
Editor Tata Bahasa: Muhammad Ridwan dan Finda Rhosyana
Sumber Tulisan
