• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Career
  • Login
18 Apr

OCD, Masalah Kesehatan Mental yang Sering Disalahpahami

by Stefani Amelinda

Hai, Socconians! Pernahkah mendengar istilah OCD? Apakah itu sebuah teknik diet seorang selebriti? Nah, OCD yang dibahas kali ini berbeda, lho.

Sebelum itu, coba perhatikan lingkungan sekitar kalian. Apakah kalian bisa menemukan orang yang mencuci tangannya berulang kali? Adakah orang yang sedang menggosok terus tangannya? Jika tidak, orang-orang dengan gejala OCD memang susah dikenali. Orang-orang ini cenderung menyembunyikannya karena takut dengan pandangan sekitarnya. Masyarakat sering kali menyikapi orang dengan masalah kesehatan mental dengan menjauhi, mengamati saja atau dikucilkan. Tindakan ini menyebabkan orang dengan OCD semakin enggan untuk mencari bantuan yang dibutuhkan.

Stigma Sosial tentang OCD

Di Indonesia, masalah kesehatan mental masih dipandang negatif. Studi oleh Subu dkk. mengungkapkan sikap masyarakat Indonesia sama dengan sikap masyarakat di negara barat. Penderitanya selalu dihubungkan dengan gangguan jiwa, yang berarti orang tersebut tidak waras, kasar, dan berbahaya. Orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental bahkan selalu ditempatkan di posisi terbawah baik di rumah, tempat kerja, hingga di media. Stigma-stigma tersebut memunculkan rasa malu tidak hanya pada penderitanya, tetapi orang-orang terdekatnya. Akibatnya, mereka memilih untuk menutup diri karena tidak memiliki dukungan yang dibutuhkan.

Reaksi publik pada gangguan OCD tentunya tidak jauh berbeda. Gangguan OCD menyebabkan penderitanya kesulitan menjalani kegiatan sehari-hari seperti orang pada umumnya. Coba bayangkan, pikiran kalian dihantui dengan rumah kalian yang mengalami kebakaran dan satu-satunya cara untuk menghilangkannya adalah dengan bolak-balik memeriksa kondisi rumah. Tindakan ini tentu akan dianggap aneh oleh orang-orang biasa. Masih banyak tindakan tidak biasa lainnya yang dilakukan orang dengan OCD untuk melegakan pikirannya. Jika tindakan tersebut sudah melebihi batas wajar, orang-orang akan menilai individu tersebut sebagai orang aneh atau orang gila sehingga cenderung dijauhi. Jika gangguan OCD tidak segera ditangani, maka kondisi kesehatan mentalnya akan semakin menurun hingga memerlukan penanganan oleh psikiater. Seseorang yang dibawa ke psikiater biasanya akan dicap sebagai orang sakit jiwa dan mendapat perlakuan selayaknya orang yang memang sakit jiwa.

Jadi, mengapa orang-orang bisa berpikir seperti itu, sih? Akyurek dkk. menunjukkan akar dari stigma sosial terhadap masalah kesehatan mental adalah kesalahpahaman. Sebuah studi pun menunjukkan bahwa publik ternyata belum banyak tahu mengenai perbedaan OCD dengan seseorang yang ingin segalanya sempurna. Mayoritas mengaitkan OCD, pertama, dengan tindakan yang dilakukan berulang-ulang, kedua, sifat perfeksionis, dan bahkan, ada pula yang belum pernah mendengar istilah OCD. Sebuah studi juga menunjukkan ketika diperlihatkan pada orang dengan OCD, publik menyikapi dengan mengharapkannya mencari bantuan profesional, tetapi tidak tahu gangguan yang dialami dan bantuan yang seharusnya diberikan. Kurangnya pengetahuan mengenai gangguan OCD cenderung memunculkan kesalahpahaman tentang orang yang mengalaminya, sehingga menjauhkan jangkauan orang dengan OCD untuk mendapatkan pertolongan.

Mengenal OCD Lebih Dalam

Kemudian, OCD ini sebenarnya apa, sih, kalo memang penting banget untuk diketahui? Nah, OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) adalah gangguan kesehatan mental berupa pikiran-pikiran yang mendorong penderitanya untuk melakukan sesuatu berulang-ulang. Pikiran-pikiran yang mengganggu inilah yang disebut sebagai obsesi dan tindakan yang dilakukan secara repetitif ini adalah kompulsif. Obsesi ini akan terus menghantui mereka sampai mereka mengatasinya dengan tindakan berulang-ulang tersebut dan jika diabaikan terus akan memunculkan rasa cemas. Akibatnya, orang dengan OCD mengalami kesulitan memfokuskan diri pada keadaan saat ini dan terus dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang tidak diinginkan dan tidak bisa dikendalikan.

Beberapa pola pikir seseorang dengan OCD adalah:

  1. Muncul bayangan-bayangan yang mengganggu pikiran , seperti membayangkan tangan kotor penuh kuman. Bayangan pikiran tersebut biasanya yang sebatas dapat diabaikan orang biasa, tetapi bagi mereka tidak bisa diabaikan.
  2. Mengartikan bayangan pikiran tersebut sebagai ancaman atau sesuatu yang penting (terkena penyakit yang mematikan karena tangan kotor) sehingga penderita OCD tidak dapat mengalihkan fokusnya.
  3. Mengalami kecemasan akibat dari pemikiran yang berulang terhadap obsesi tersebut.
  4. Melakukan sesuatu untuk mengurangi kecemasan (seperti cuci tangan). Tindakan yang berulang ini disebut tindakan kompulsif.
  5. Tindakan kompulsif malah memberikan efek sebaliknya, yaitu memperparah bayangan-bayangan yang mengganggu tersebut sehingga tindakan yang dilakukan rasanya ‘tidak pernah cukup’. Itulah sebabnya mereka terus mengulang tindakan yang sama dan mengganggu rutinitasnya.

Sama halnya dengan kita, orang dengan OCD tidak bisa hidup sendirian dan memerlukan dukungan dari orang-orang sekitarnya. Jika Socconians **kenal dekat dengan seorang penderita OCD, dampingi mereka, yuk, selama prosesnya. Jika kalian adalah orang dengan OCD, masih ada yang peduli denganmu, janganlah takut untuk bercerita dan mencari bantuan, ya!

Referensi

Penulis: Stefani Amelinda

Editor-in-Chief: Kabrina Rian

Editor Medis: Astridiah Primacita Ramadhani, S.Psi

Editor Tata Bahasa: Muhammad Ridwan dan Finda Rhosyana

Sumber Tulisan

  1. Akyurek, G., Sezer, K. S., Kaya, L., & Temucin, K. (2019). Stigma in Obsessive Compulsive Disorder (6). In Kocabasoglu, N. & Cagalya, H.B. Anxiety Disorders - From Childhood to Adulthood (87-112). IntechOpen. doi: 10.5772/intechopen.83642
  2. American Psychiatric Association. "What is Obsessive-Compulsive Disorder". (2017). Diakses pada 2 September 2020 dari situs https://www.psychiatry.org/patients-families/ocd/what-is- obsessive-compulsive-disorder
  3. Coles, M. E., Heimberg, R. G., & Weiss, B. D. (2013). "The public’s knowledge and beliefs about obsessive compulsive disorder." Depression and Anxiety, 30(8), 778–785.
  4. Ecker, W., Kupfer, J., & Gönner, S. (2013, January). "Incompleteness and harm avoidance in OCD, anxiety and depressive disorders, and non-clinical controls". Journal of Obsessive-Compulsive and Related Disorders . 3(1), 46–51. doi: 10.1016/j.jocrd.2013.12.001
  5. Stewart, E., Grunthal, B., Collins, L., & Coles, M. (2018). "Public recognition and perceptions of Obsessive-Compulsive Disorder". Community Mental Health Journal, 55(1), 74–82.
  6. Subu, M. A., et al. (2017). "Persistent taboo: Understanding mental illness and stigma among indonesian adults through grounded theory". Asian Journal of Pharmacy, Nursing, and Medical Sciences, 5(1). 1-9.

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.