
Hai, Socconians!
Apakah Socconians tahu bahwa anak-anak dan remaja bisa mengalami kecemasan? Ya, ternyata bukan hanya orang dewasa yang bisa mengalami kecemasan, lho! Pada masa pandemi COVID-19 ini, anak-anak juga rentan mengalami demikian. Hal itu karena perkembangan psikologis normal anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti rutinitas harian, interaksi sosial, dan hubungan pertemanan.
Saat masa pandemi ini, pastinya banyak perubahan rutinitas yang dialami oleh anak dan remaja, seperti isolasi mandiri di rumah, sekolah daring (pembelajaran jarak jauh), pengurangan aktivitas fisik, jenuh dengan suasana di dalam rumah, dan minimnya interaksi dengan teman sebaya. Tentu semua rutinitas baru tersebut menyebabkan anak sulit beradaptasi. Selain itu, ketidakpastian seputar waktu berakhirnya pandemi juga dapat menambah ketakutan dan kecemasan pada anak.
Kecemasan pada Anak
Gejala kecemasan pada anak berbeda dengan pada orang dewasa. Orang dewasa umumnya akan mudah berkeringat, sulit duduk diam, atau gelisah. Namun, anak-anak cenderung menjadi lebih rewel, banyak menuntut, dan takut anggota keluarganya akan tertular infeksi.
Reaksi yang muncul pada anak atau remaja juga dapat bervariasi karena dipengaruhi oleh usia dan tingkat perkembangan. Dari penelitian Jiao (2020), dikemukakan bahwa gejala kecemasan pada anak di kelompok usia 3--6 tahun terlihat lebih jelas dibandingkan anak di usia yang lebih tua. Anak yang berusia lebih muda akan rewel, banyak menuntut, atau mengalami kemunduran dalam perilaku. Sementara itu, remaja umumnya menjadi lebih cemas, mudah marah, gelisah, dan menarik diri selama karantina. Sebanyak 82--90% anak-anak di Italia dan Spanyol juga mengalami peningkatan waktu layar (screen time).
Sayangnya, perilaku-perilaku tersebut sering disalahartikan oleh orang tua atau para pengasuh sebagai perilaku nakal anak-anak. Sebanyak 12% orang tua melaporkan bahwa sulit untuk hidup berdampingan dengan anak ketika anak menunjukkan gejala-gejala kecemasan tersebut. Hal itu dapat memicu kekerasan fisik atau pun mental oleh orang tua terhadap anak. Semua berpotensi memicu konsekuensi mental yang merugikan dan berkepanjangan pada anak-anak. Anak-anak yang menjalani karantina memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami gangguan stres akut, gangguan penyesuaian diri, dan kesedihan.
Cara Mencegah Kecemasan pada Anak
Untuk mencegah terjadinya rasa cemas pada anak terutama di masa pandemi ini, orang tua dapat melakukan beberapa upaya sebagai berikut ini:
Melakukan aktivitas bermain bersama sekeluarga.
Batasi paparan informasi yang dapat menimbulkan rasa cemas pada anak.
Memaparkan kondisi kehidupan saat ini dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak.
Mau mendengarkan dan menjawab dengan sabar seluruh pertanyaan yang diberikan oleh anak.
Pada anak yang menunjukkan kekesalan, mudah marah, banyak menuntut, orang tua dapat membantu mereka untuk mengekspresikan perasaan negatif dengan cara yang positif dan tidak menyalahkan. Stres yang dialami orang tua terbukti dapat memengaruhi dan menularkan kecemasan pada anak. Oleh karena itu, orang tua perlu menjaga ketenangan dan berusaha untuk mengatasi stres yang dialami. Dengan mengelola stres secara baik, orang tua dapat membimbing anak untuk mengelola stres yang mereka hadapi.
Karena beban mental akibat masa pandemi dapat dialami oleh anak sejak usia dini, orang tua perlu memberikan perhatian khusus pada anak untuk mencegah terjadinya konsekuensi jangka panjang.
Penulis: dr. Evania Beatrice
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi, Edward Christopher Yo
Editor Medis: dr. Evania Beatrice
Editor Tata Bahasa: Servita Ramadhianti, Sulistia Ningsih
Sumber Tulisan
