• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Career
  • Login
18 Apr

Mengenal Toxic Femininity pada Perempuan

by Nabilla Dewi Septiani

Hai, Socconians!

Apakah kamu pernah dengar mengenai toxic masculinity? Mungkin hal ini sudah pernah kamu dengar dan tidak asing lagi. Namun, pernah nggak sih Socconians dengar tentang toxic femininity yang dialami oleh perempuan? Ingin tau lebih lanjut apa itu toxic femininity? Yuk baca lebih lanjut artikel Social Connect ini!

Apa Itu Toxic Femininity?

Secara umum, toxic dapat diartikan sebagai sesuatu yang beracun, sangat kasar atau berbahaya. Sedangkan, femininity dapat dipahami sebagai karakteristik yang mencakup sifat, penampilan, minat, dan perilaku yang dianggap relatif lebih khas dari seorang wanita. Jadi, traditional femininity merujuk pada standar yang dianggap normal oleh masyarakat tertentu tentang hal-hal yang seharusnya dilakukan atau dimiliki perempuan. Secara harfiah, toxic femininity adalah konsep tentang femininitas atau hal-hal yang dianggap memiliki sifat perempuan yang dapat menjadi ‘beracun’ karena cenderung menghambat perempuan untuk maju dan mengembangkan keunikannya. Toxic femininity juga dapat tercermin ketika seseorang berusaha untuk memenuhi kepentingan atau ekspektasi orang lain, tetapi justru merugikan dirinya sendiri.

Contoh Toxic Femininity dan Bahayanya

Nah Socconians, setelah mengetahui apa itu toxic femininity, apakah kamu pernah mengalami hal tersebut? Atau mungkin kamu pernah melakukan hal tersebut kepada perempuan?

Toxic femininity sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Beberapa hal ini adalah contoh toxic femininity yang sering terjadi.

  1. Perempuan dituntut untuk bisa memasak dan mengurus rumah tangga. Hal ini akan memberikan perspektif negatif jika perempuan tidak bisa melakukannya, bahkan hingga menjadi pembicaraan yang dapat membuat kesehatan mental justru tidak sehat. Padahal seharusnya keterampilan memasak dan mengurus rumah tangga tidak hanya menjadi beban atau sifat wanita saja, tetapi juga untuk semua orang dalam bertahan hidup.
  2. Perempuan sebaiknya tidak perlu memiliki pendidikan yang tinggi, seperti magister atau doktoral. Jika hal ini dikatakan pada seorang perempuan, justru dapat membuat mereka tidak bersemangat yang berakibat pada masalah kesehatan mental seperti tidak percaya diri, stres, atau insecure. Perempuan maupun laki-laki memiliki hak sama untuk menentukan pilihannya dalam melanjutkan pendidikan. Jadi Socconians, apa pun impianmu, kejar terus ya!
  3. Perempuan harus lemah lembut dan pintar berdandan. Setiap orang mempunyai latar belakang dan tumbuh dengan pengasuhan yang berbeda, sehingga ada perempuan yang bicaranya lemah lembut, ada juga yang berbicara santai dengan suara keras. Selama komunikasi berlangsung lancar tidak ada yang salah dengan kedua hal itu. Sebaliknya, mengharuskan sikap ini justru seperti memaksa orang untuk tidak menjadi dirinya sendiri. Merawat diri itu penting, tapi sebaiknya kita lakukan sebagai cara kita mencintai dan menghargai diri sendiri, serta mensyukuri pemberian Tuhan. Bukan demi penilaian orang lain.

Umumnya, toxic femininity tidak terlalu berdampak buruk terhadap wanita karena wanita lebih sering memiliki keinginan untuk mencari pertolongan terhadap kesehatan mental mereka dibandingkan pria. Namun, jika hal ini dilakukan terus-menerus kepada wanita, kesehatan mental mereka dapat terganggu, bahkan pada tingkat tertentu dapat menyebabkan depresi dan rasa penyesalan terhadap diri sendiri.

Jadi Socconians, setelah membaca artikel Social Connect ini, yuk mulai dari sekarang untuk menghargai apa pun pilihan teman kalian dan berikan mereka motivasi selama hal tersebut baik untuk mereka dan tidak ada perasaan terpaksa.

Referensi

Penulis: Nabilla Dewi Septiani

Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi

Editor Medis: Gabriella Christina Sutanto, S.Psi.

Editor Tata Bahasa: Muhammad Ridwan dan Finda Rhosyana

Sumber Tulisan

  1. Kachel, S, Steffens, M.C, and Niedlich, C. (2016). “Traditional Masculinity and Femininity: Validation of a New Scale Assessing Gender Roles”. Frontiers in Psychology. Vol. 7. Hal. 956.
  2. Mardyana. [Woman Talk]. (2020). “Toxic Femininity Ini Bikin Perempuan Nggak Berkembang dan Saling Serang”. Diakses pada tanggal 11 Oktober 2020 dari laman website https://womantalk.com/lifehack/articles/toxic-femininity-ini-bikin-perempuan-nggak-berkembang-dan-saling-serang-Ano37
  3. Savin-Williams, R.C. [Psychology Today]. (2019). “Toxic Femininity”. Diakses pada tanggal 11 Oktober 2020 dari laman website https://www.psychologytoday.com/us/blog/sex-sexuality-and-romance/201908/toxic-femininity
  4. Tsirigotis, K. (2018). “Women, Femininity, Indirect and Direct Self-Destructiveness”. The Psychiatric Quarterly. Vol. 89. Hal. 427 - 437.

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.