
Hai, Socconians!
Apakah kamu pernah dengar mengenai toxic masculinity? Mungkin hal ini sudah pernah kamu dengar dan tidak asing lagi. Namun, pernah nggak sih Socconians dengar tentang toxic femininity yang dialami oleh perempuan? Ingin tau lebih lanjut apa itu toxic femininity? Yuk baca lebih lanjut artikel Social Connect ini!
Apa Itu Toxic Femininity?
Secara umum, toxic dapat diartikan sebagai sesuatu yang beracun, sangat kasar atau berbahaya. Sedangkan, femininity dapat dipahami sebagai karakteristik yang mencakup sifat, penampilan, minat, dan perilaku yang dianggap relatif lebih khas dari seorang wanita. Jadi, traditional femininity merujuk pada standar yang dianggap normal oleh masyarakat tertentu tentang hal-hal yang seharusnya dilakukan atau dimiliki perempuan. Secara harfiah, toxic femininity adalah konsep tentang femininitas atau hal-hal yang dianggap memiliki sifat perempuan yang dapat menjadi ‘beracun’ karena cenderung menghambat perempuan untuk maju dan mengembangkan keunikannya. Toxic femininity juga dapat tercermin ketika seseorang berusaha untuk memenuhi kepentingan atau ekspektasi orang lain, tetapi justru merugikan dirinya sendiri.
Contoh Toxic Femininity dan Bahayanya
Nah Socconians, setelah mengetahui apa itu toxic femininity, apakah kamu pernah mengalami hal tersebut? Atau mungkin kamu pernah melakukan hal tersebut kepada perempuan?
Toxic femininity sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Beberapa hal ini adalah contoh toxic femininity yang sering terjadi.
Umumnya, toxic femininity tidak terlalu berdampak buruk terhadap wanita karena wanita lebih sering memiliki keinginan untuk mencari pertolongan terhadap kesehatan mental mereka dibandingkan pria. Namun, jika hal ini dilakukan terus-menerus kepada wanita, kesehatan mental mereka dapat terganggu, bahkan pada tingkat tertentu dapat menyebabkan depresi dan rasa penyesalan terhadap diri sendiri.
Jadi Socconians, setelah membaca artikel Social Connect ini, yuk mulai dari sekarang untuk menghargai apa pun pilihan teman kalian dan berikan mereka motivasi selama hal tersebut baik untuk mereka dan tidak ada perasaan terpaksa.
ReferensiPenulis: Nabilla Dewi Septiani
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Gabriella Christina Sutanto, S.Psi.
Editor Tata Bahasa: Muhammad Ridwan dan Finda Rhosyana
Sumber Tulisan
