
Hi, Socconians!
Selama pandemi Covid-19 ini, pemerintah membatasi aktivitas masyarakatnya di luar rumah. Masyarakat diminta untuk tetap di rumah dan hanya keluar jika ada keadaan penting atau mendesak. Pembatasan aktivitas di luar rumah ini merugikan banyak pihak karena banyak perusahaan yang akhirnya mem-PHK karyawannya, para pelajar juga mahasiswa harus melakukan online school, tidak bisa bertemu dengan teman-teman, dan lainnya. Terlalu lama di rumah membuat banyak orang akhirnya stres, bahkan depresi karena saat online school ataupun WFH diberikan tugas yang lebih banyak serta karyawan yang di-PHK harus mencari pekerjaan di masa sulit ini. Biasanya saat merasa stres dengan keadaan, kita bisa berkumpul dengan teman-teman untuk melupakan, mengurangi, atau menghilangkan stres. Namun, pandemi ini membuat hal tersebut jadi sulit untuk dilakukan.
Namun Socconians, bisa saja gangguan yang muncul akibat pandemi ini, bukanlah depresi, melainkan corona blues. Mungkin ada beberapa atau banyak yang baru mengetahui istilah ini. Lalu, apa itu corona blues? Bagaimana cara membedakan depresi dan corona blues?
Corona blues adalah depresi yang disebabkan oleh pandemi corona. Corona blues mungkin membuat seseorang takut yang menyebabkan seseorang cemas akan terinfeksi virus corona, takut dengan gejala corona, terus-menerus mencari berita seputar corona, merasa terisolasi, gangguan tidur, tidak semangat, kelelahan, bosan, hilangnya minat, dan stres. Namun, kebanyakan penderitanya akan kembali bersikap optimis lagi, apalagi kini telah ditemukannya vaksin dan sudah diterapkannya new normal.
Gejala blues hanya terjadi dalam waktu singkat dan masalahnya lebih ringan dibandingkan dengan depresi, tidak mengganggu kehidupan sehari-hari, dan hanya memengaruhi beberapa hal tertentu di hidupnya, Jika seseorang sudah bisa mengatasi masalahnya, maka gangguan tersebut akan segera hilang. Psikolog Vailey Wright mengatakan the blues itu datang dan pergi dan tidak bertahan sampai dua minggu. The blues dikategori kan depresi situasional yaitu jika suatu situasi berubah, maka gangguan tersebut akan hilang.
Sedangkan depresi adalah suatu gangguan mental umum dengan gejala, seperti suasana hati yang tertekan, kehilangan kesenangan atau minat, kurang bersemangat, memiliki perasaan rendah diri atau rasa bersalah, gangguan makan atau tidur, dan rendahnya konsentrasi. Penyebabnya diduga berhubungan dengan faktor genetik, hormon, dan zat kimia di otak. Faktor yang memicu terjadinya depresi, seperti pengalaman traumatis, memiliki riwayat penyakit serius, mengonsumsi jenis obat tertentu, memiliki riwayat gangguan mental, dan memiliki tekanan batin. Depresi bisa bertahan selama 2 minggu berturut-turut dan membutuhkan pertolongan psikolog ataupun psikiater.
Jadi, perbedaan corona blues dengan depresi adalah durasinya. Corona blues tidak berlangsung selama berminggu-minggu, sedangkan depresi berlangsung selama dua minggu. Corona blues bisa datang dan pergi, sedangkan depresi bisa datang, tetapi tidak bisa pergi.
Lalu, bagaimana caranya untuk melawan corona blues? Beberapa hal berikut adalah yang direkomendasikan oleh U.S Centers for Disease Control and Prevention (CDC), antara lain:
Itu lah penjelasan tentang perbedaan corona blues dengan depresi. Di masa sulit ini, selain menjaga kesehatan fisik, jangan lupa juga untuk menjaga kesehatan mental kita karena di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat. Jika Socconians atau pun orang di sekitar merasa mengalami corona blues ini sampai berminggu-minggu, jangan takut untuk mencari pertolongan psikolog atau pun psikiater, ya!
( ReferensiTim Penulis
Review Bahasa Indonesia
Review Medis
Sumber Tulisan :
