
Halo, Socconians!
Kata bullying tentunya sudah tidak asing di telinga kita. Bullying adalah situasi penindasan terhadap seseorang yang dilakukan oleh kelompok atau individu lain, baik yang dilakukan sesekali maupun terus menerus. Perilaku yang agresif dalam penindasan dapat berupa serangan secara fisik, verbal, serta cyber dan memiliki tujuan untuk memberikan rasa takut pada korban.
Terdapat berbagai alasan yang kemudian membuat seseorang melakukan bullying. Beberapa individu, misalnya, melakukan bullying karena mereka merasa tidak bisa menerima anak-anak yang berbeda dengan dirinya sendiri, seperti perbedaan dalam ras, suku, dan agama. Beberapa individu lain melakukan bullying di sekolah karena meniru perilaku-perilaku agresif dan kasar yang seringkali ditunjukkan oleh penghuni lain di rumah, atau yang ia lihat melalui tayangan televisi atau media lainnya.
Terkadang, pelaku bullying tidak sadar bahwa dirinya sedang melakukan tindakan bully kepada seseorang. Hal ini disebabkan pelaku merasa bahwa ia sedang “bercanda” atau menurut mereka hal tersebut merupakan hal yang biasa dan wajar-wajar saja. Padahal, tingkat toleransi setiap orang berbeda-beda lho, Socconians. Bisa saja korban merasa hal tersebut menyakiti perasaannya dan menimbulkan efek seperti ketakutan. Nah, Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk mengetahui perilaku-perilaku yang dapat dikategorikan sebagai tindak bullying agar kita, tidak tanpa sengaja, menyakiti hati orang lain. Berikut adalah 10 perilaku yang tanpa disadari termasuk bullying di sekolah:
Tentu kita tahu bahwa setiap manusia memiliki penampilan fisik yang berbeda-beda. Ada kalanya kita bertemu orang yang tidak mampu menahan pemikirannya dan komentar terhadap bagian tubuh tertentu. Mungkin bagi beberapa orang, meledek penampilan fisik merupakan suatu candaan, tetapi hal ini kerap membawa perasaan tidak nyaman dan bisa membuat korban merasa insecure terhadap penampilan tubuhnya. Meledek termasuk bullying secara verbal.
Setiap manusia pastinya punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing yang membuat adanya ketidaksesuaian antar satu sama lain. Nah, munculnya permusuhan di antara pertemanan bisa membuat korban merasa dibenci dan dikucilkan. Memusuhi teman termasuk dalam kategori bullying yang ditunjukkan baik secara verbal—bisa berupa ejekan atau didiamkan, maupun non verbal—berupa menjauhi.
Socconians, pernah tidak, saat sedang pulang sekolah lalu tiba-tiba ada yang melabrak di gerbang? Nah, baik kita memang melakukan kesalahan terhadap orang tersebut atau tidak, tindakan melabrak bisa dikategorikan sebagai bullying secara verbal disertai perilaku agresif, karena kata labrak memiliki arti perilaku menyerang hingga mengata-ngatai seseorang. Efek dari perilaku ini bisa berdampak kepada kesehatan mental korban lho, Socconians, seperti perasaan takut ke sekolah, dll.
Intonasi dan nada suara serta perkataan yang keluar dari mulut kita itu sangat mempengaruhi lawan bicara kita lho, Socconians! Namun bukan berarti kita tidak boleh mengeluarkan aspirasi dan pendapat kita, atau melakukan teguran dan nasihat, tetapi perhatikan selalu penggunaan kata-kata yang akan diucapkan. Jangan sampai melukai hati orang lain ya, Socconians!
Perilaku yang menyangkut tindak fisik seperti memukul, mendorong, hingga meninggalkan bekas luka pada korban dapat dikategorikan sebagai bullying secara fisik lho, Socconians! Hal ini tidak memandang apakah korban melakukan kesalahan ataupun tidak, perilaku dengan tindak fisik seharusnya dihindari. Apalagi jika perilaku meninggalkan bekas luka secara fisik dan trauma secara mental.
Definisi dari senioritas itu sendiri telah bergeser, layaknya yang disebutkan di dalam KBBI, senioritas adalah keadaan yang lebih tinggi dalam usia, pangkat dan pengalaman. Definisi senioritas ini telah bergeser menjadi suatu kondisi tuntutan berlebih yang dilakukan dari kakak kelas untuk adik-adik kelasnya nih, Socconians, seperti harus tunduk dan hormat, tidak boleh berargumen dengan kakak kelas, hingga perbuatan lain yang bisa juga bersifat bullying verbal dan fisik.
Julukan menurut KBBI merupakan pemberian nama lain, selain nama yang telah ada. Pada aslinya definisi ini sama sekali tidak bersifat negatif. Namun, pada kenyataannya, julukan yang diberikan kerap kali bersifat hinaan dan menyinggung korban! Contohnya seperti julukan si gendut, si tonggos, si bawel, dll. Tentunya setiap individu memiliki tingkat toleransi yang berbeda. Namun, lebih baik jangan memanggil teman-teman dengan julukan yang aneh-aneh ya, Socconians!
Menyebarkan berita yang belum tentu benar atau yang biasa disebut gosip **mungkin terkesan sebagai suatu kegiatan yang menyenangkan. Terkadang ada rasa ingin tahu yang begitu besar akan satu sama lain. Nah, karena setiap individu menangkap informasi dengan filter yang berbeda, maka bisa ada kesalahan informasi yang beredar, lho! Nah, Socconians, informasi yang salah ini bisa jadi membuat seseorang merasa dibenci oleh perbuatan yang bahkan mungkin tidak ia lakukan dan bisa berdampak sangat negatif terhadap kenyamanan korban di lingkungan sekolahnya! Bergosip termasuk sebagai kategori bullying secara verbal.
Mendapatkan pesan bernada teror melalui aplikasi pengirim pesan hingga di media sosial yang mungkin berasal dari sosok yang akan terus ditemui di sekolah membuat seseorang tergolong sebagai korban cyberbullying. Hal ini menimbulkan perasaan takut dan trauma kepada korban.
Bullying secara seksual bisa bermula dari komentar-komentar yang ditujukan pada beberapa bagian tubuh tertentu, mengintip pada saat berganti pakaian, hingga melakukan gestur atau menyentuh bagian tubuh yang sensitif. Dalam beberapa kasus, bullying secara seksual bisa ditindaklanjuti secara hukum lho, Socconians, dan dikategorikan sebagai kekerasan seksual!
Nah, perilaku-perilaku di atas, baik secara sadar maupun tidak, nyatanya masih sering terjadi di institusi pendidikan, terutama di tingkat sekolah menengah pertama dan atas. Maka dari itu, kesadaran terhadap bullying harus ditingkatkan. Pastikan kamu tidak melakukan hal-hal tersebut di sekolah ya, Socconians!
ReferensiSumber Tulisan
