• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Career
  • Login
18 Apr

Stop! Hindari Beberapa Toxic Positivity ini dalam Hidupmu

by Reza Fahlevi

Hi, Socconians!

Apa kabar? Semoga Socconians baik-baik saja di tengah pandemi COVID-19 ini, ya. Pada topik kali ini, Social Connect akan membahas tentang toxic positivity. Nah, apa kamu pernah ketika sedang sedih atau kesal, dan kamu mendapat kata-kata penyemangat, tetapi justru bukannya mengangkat semangat, kamu malah merasakan efek yang sebaliknya? Ini adalah contoh dasar dari toxic positivity yang bisa memicu gangguan psikis. Ucapan yang positif, kok bisa memberi dampak negatif, ya? Ayo, kita cari tahu agar bisa kita hindari!

Definisi Toxic Positivity

Pengertian dari toxic positivity adalah suatu dorongan mental yang mana kita hanya menerima dan menunjukan sisi positif. Daya pikir ini cenderung untuk memberi pernyataan reduktif terhadap masalah orang lain. Nah, pernahkan kamu melihat sebuah *posting-*an yang bersifat positif di media sosial dengan tulisan “Be Positive!” atau kutipan positif lainnya, tetapi tidak berefek pada kita? Itulah salah satu ciri bahwa pesan itu mengandung unsur toxic positivity.

Latar Belakang Toxic Positivity

Salah satu landasan dari perilaku untuk selalu positif adalah kesejahteraan psikis yang sebagian besar merupakan kendali individu dan terkadang para individu ini bisa mempublikasikan keberhasilan mereka melalui media sosial sehingga berharap bisa membuat pembaca merasa terinspirasi pada hal positif juga. Gagasan ini terlihat menarik karena memberi seseorang inspirasi untuk menjalani hidup sebaik mungkin. Namun, di sisi lain, seseorang bisa mendapat tekanan ketika mereka tidak bisa menemui ekspektasi untuk menjadi positif sehingga yang terjadi adalah mereka menyalahkan diri sendiri dan mengindahkan sisi emosional yang mereka alami. Inilah salah satu dampak negatif dari toxic positivity yang perlu kita hindari.

Dampak Toxic Positivity

Dampak lain bagi kesehatan mental seseorang adalah bagaimana toxic positivity mampu mengubah pola pikir seseorang. Tidak selalu bersifat baik, perilaku positif kadang juga bisa menjadi buruk*.* Mengapa ini buruk? Karena paradigma positif selalu menjelekkan emosi negatif seperti kesedihan, amarah dan duka. Inilah mindset yang perlu dijauhi; setiap emosi memiliki fungsinya masing-masing dan mereka adalah bagian dari reaksi normal tubuh kita terhadap sesuatu. Kita seharusnya tidak menggolongkan sifat emosional hanya karena itu merusak hal positif, tetapi mengakuinya sebagai hal yang sehat di dalam pikiran kita.

Contoh dari Toxic Positivity dan Cara Menanggapinya

Pada paragraf sebelumnya, sudah dijelaskan apa dampaknya bagi kesehatan kita, tapi apa kamu tahu seperti apa bentuk toxic positivity itu? Ternyata, toxic positivity sering dikelirukan sebagai bentuk ketahanan diri (resilience) yang kita katakan ke orang lain atau bahkan diri sendiri ketika kita mengalami keadaan yang buruk. Menurut Whitney Hawkins Goodman, seperti inilah contoh ucapan-ucapan yang umum, tetapi mengandung toxic positivity:

  1. “Positif aja.”
  2. “Berhenti bersikap negatif!”
  3. “Ambil hikmahnya aja.”
  4. “Positive vibe aja di sini.”

Kalau kamu merasa pernah melakukan ini, maka hindarilah karena hal-hal seperti ini mengabaikan masalah seseorang. Lalu, bagaimana seharusnya? Seperti inilah contohnya:

  1. “Ini mungkin memang sulit, tetapi aku percaya kalau kamu bisa.”
  2. “Tidak apa-apa jika kamu merasa marah. Ada baiknya kalau kamu ceritakan kenapa.”
  3. “Mungkin sulit untuk mengambil hikmah dalam situasi ini, tetapi aku senang kalau kamu memberitahu apa yang terjadi.”
  4. “Semua vibes diterima di sini.”

Toxic positivity bisa kita hindari dengan memberi rasa perhatian dan ingin tahu pada orang yang sedang mengalami hari yang buruk. Kita juga perlu mengetahui bahwa menjadi positif bukanlah hal yang buruk, tetapi kalau sampai menghalangi kita untuk berekspresi, di situlah kita harus berhenti. Banyak suatu hal yang tidak masuk akal (termasuk hal yang baik), tetapi kita harus mempelajari bagaimana rasanya berada dalam situasi yang tidak nyaman. Kita perlu mengakui bahwa banyak hal yang tidak pasti, tidak berjalan dengan baik, dan ada kalanya membuat kita amat emosional; tetapi bukan berarti kita harus memendam ini dengan sifat positif yang tidak realistis

Setelah membaca artikel ini, semoga Socconians menjadi lebih paham tentang toxic positivity, ya. Yuk, kita bagikan pengetahuan ini demi membantu meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental!

Referensi

Penulis: Reza Fahlevi

Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi

Editor Medis: Pandhit Satrio Aji, S.Psi

Editor Tata Bahasa: Muhammad Ridwan dan Finda Rhosyana

Sumber Tulisan

  1. Bohart A. Greening T. (2001). “Humanistic Psychology And Positive Psychology”. American Psychologist. 56.
  2. Gross J, and Levenson R. (1997). “Hiding Feelings: The Acute Effects Of Inhibiting Negative And Positive Emotion”. Journal of Abnormal Psychology. 106.
  3. Khedir M. [YouTube]. (2019). “How Toxic Positivity Leads To More Suffering”. Diakses pada tanggal 17 Oktober 2020 dari laman website https://www.youtube.com/watch?v=5EOj2Z7hw5w&t=698s
  4. Kirnandita P, [Tirto.id]. (2019). “Toxic Positivity: Saat Ucapan Penyemangat Malah Terasa Menyengat”. Diakses pada tanggal 13 Oktober 2020 dari laman website https://tirto.id/toxic-positivity-saat-ucapan-penyemangat-malah-terasa-menyengat-dhLM
  5. Leaf C. [Dr. Leaf]. (2020). “The Dangers Of Toxic Positivity, Signs Of Gaslighting + Tips On What NOT To Say To Someone Who Is Grieving With Therapist Whitney Hawkins Goodman”. Diakses pada tanggal 18 Oktober 2020 dari laman website https://drleaf.com/blogs/news/the-dangers-of-toxic-positivity-signs-of-gaslighting-tips-on-what-not-to-say-to-someone-who-is-grieving-with-therapist-whitney-hawkins-goodman.
  6. Lyubomirsky S, (2001). “Why Are Some People Happier Than Others? The Role Of Cognitive And Motivational Processes In Well-Being”. American Psychologist. 56.
  7. Lyubomirsky, S. (2014). The myths of happiness. New York: Penguin Books.
  8. Sinclair E, Hart R, and Lonas T. (2020). “Can Positivity Be Counterproductive When Suffering Domestic Abuse?: A Narrative Review”. International Journal of Wellbeing. 1.
  9. Smith E. [Healthyplace]. (2018). “Does False Positivity, Fake Positivity, Help Or Hurt You?”. Diakses pada tanggal 18 Oktober 2020 dari laman website https://www.healthyplace.com/self-help/positivity/does-false-positivity-fake-positivity-help-or-hurt-you.

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.