• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Career
  • Login
18 Apr

Masa Kecil dan Gangguan Kepribadian Antisosial Saat Dewasa

by Jeliana Gabrella Seilatuw

Hai, Socconians!

Beberapa dari kamu barangkali sudah sering mendengar istilah antisosial dari artikel-artikel lain yang dimuat di Social Connect.

Dalam konteks kesehatan mental, gangguan kepribadian antisosial atau Antisocial Personality Disorder (ASPD) ini umumnya ditandai dengan keberadaan perilaku impulsif, tindakan menipu, serta mengeksploitasi tanpa rasa empati. Gangguan kepribadian antisosial juga sering diasosiasikan dengan perilaku kriminal.

Memiliki Pola Perilaku yang Konsisten

Perilaku-perilaku dari penderita gangguan kesehatan mental yang satu ini memiliki pola yang cukup konsisten. Yakni hampir selalu ditemukan pada penderita gangguan kepribadian antisosial lainnya pula. Beberapa kecenderungan yang dapat berkembang menjadi ASPD bahkan disebutkan sudah dapat dideteksi jauh sebelum penderita beranjak dewasa.

Kecenderungan ini dapat dideteksi pada usia sebelum genap delapan tahun,yaitu saat anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan perilaku (conduct disorder). Namun, perlu Socconians ingat, bahwa tidak semua anak yang memiliki gangguan perilaku selalu berkembang menjadi ASPD setelah beranjak dewasa.

Masa Kecil Serupa pada Penderita

Tidak hanya pola perilaku penderita gangguan kepribadian antisosial saja yang memiliki kemiripan. Pada beberapa kasus ASPD seringkali ditemukan bahwa penderita memiliki latar belakang masa kecil yang serupa, umumnya para penderita mengalami kekerasan fisik hingga kekerasan seksual saat kecil.

Latar belakang masa kecil, ketika seorang anak konsisten mengalami kekerasan fisik, verbal, juga kekerasan seksual memang tidak langsung membuat yang bersangkutan berpotensi menderita ASPD. Namun, latar belakang masa kecil yang sangat disayangkan ini bisa jadi salah satu pemicu berkembangnya gangguan kesehatan mental terutama gangguan kepribadian.

Dalam salah satu studi yang dilakukan oleh L. N. Robins pada tahun 1966, selain melihat perkembangan gangguan kepribadian pada anak-anak juga menemukan pola lainnya. Pola yang dialami penderita gangguan kepribadian antisosial di masa kecilnya selain tindak kekerasan tadi, yakni latar belakang keluarga yang tidak harmonis, dengan orang tua laki-laki yang berlatar belakang alkoholik bahkan sosiopat.

Perbedaan ASPD pada Anak dan Orang Dewasa

Berdasarkan penjabaran pada poin sebelumnya, terlihat jelas bahwa ada perbedaan mendasar pada kasus ASPD pada anak dan orang dewasa, terutama pada perilakunya. Indikasi gangguan kepribadian antisosial pada usia anak umumnya sebatas serangkaian perilaku tidak biasa yang bahkan pada tahap ini belum bisa didiagnosa sebagai ASPD.

Sementara pada orang dewasa, perilaku atau tindakan yang ditunjukkan sudah berada pada tahap yang lebih berkembang. Perkembangan gangguan pada kesehatan mental juga terjadi pada penderita gangguan kepribadian antisosial ini sendiri. Hal ini memiliki konsekuensi tindakan yang lebih berbahaya daripada saat penderita masih belia.

Tindakan penderita ASPD bisa mengarah pada tindak kekerasan, perilaku kriminal seperti pencurian, penyiksaan, pemerkosaan, hingga pembunuhan.

Namun, dari sekian banyak kasus gangguan kepribadian antisosial, dengan pola-pola perilaku serupa dan latar belakang masa kecil seperti yang dijabarkan di atas, ternyata masih terdapat beberapa kasus ASPD yang tidak memiliki pola tersebut, yakni kasus penderita ASPD yang tidak melakukan kekerasan atau tindak kejahatan.

Pada kasus-kasus seperti ini, penderita ASPD bahkan menjalani hidup hampir seperti orang normal pada umumnya. Tentunya, dengan melakukan pengobatan dan terapi yang sesuai. Namun dalam hal ini, yang terpenting adalah adanya dukungan dari keluarga, kerabat dan orang-orang sekitar. Social Connect percaya akan pentingnya dukungan terhadap penderita kondisi kesehatan mental penderita gangguan kepribadian. Oleh karena itu, dampingi dan saling menjaga kesehatan mental satu sama lain, ya!

Referensi

Penulis: Jeliana Gabrella Seilatuw

Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi

Editor Medis: Pandhit Satrio Aji S.Psi

Editor Tata Bahasa: Indah Riadiani dan Glaniz Izza

Sumber Tulisan :

  1. Black, Donald. W. (2015). *“The Natural History of Antisocial Personality Disorder”. *Diakses pada 11 September 2020 dari www.ncbi.nlm.nih.gov. 
  2. Brill, Andrew. (2017). “Life with Antisocial Personality Disorder (ASPD)”. Diakses pada 11 September 2020 dari www.mind.org.uk.
  3. DeLissi, Matt, Drury, Alan J., & Elbert, Michael J. (2019). “The Etiology of Antisocial Personality Disorder: The Differential Roles of Adverse Childhood Experiences and Childhood Psychopathology”. Diakses pada 11 September 2020 dari www.sciencedirect.com.
  4. Haelle, Tara. (2020). “Complications and Life Consequences Living with Antisocial Personality Disorder”. Diakses pada 11 September 2020 dari www.everydayhealth.com.
  5. Holzer, Katherine J. & Vaughn, Michael G. (2018). “Antisocial Personality Disorder in Older Adults: A Critical Review”. Journal of Geriatric Psychiatry and Neurology, Vol. 30 (6), 290-302. Diakses dari https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0891988717732155?journalCode=jgpb.
  6. Lahey, B.B., Loeber, R. Burke, J. D., & Applegate, B. (2005). “Predicting Future Antisocial Personality Disorder in Males From a Clinical Assessment in Childhood”. Journal of Consulting and Clinical Psychology, (73(3), 389-399. Diakses dari https://doi.apa.org/doiLanding?doi=10.1037%2F0022-006X.73.3.389.
  7. National Health Service of United Kingdom. (2018). “Antisocial Personality Disorder”. Diakses pada 11 September 2020 dari www.nhs.uk.
  8. Skodol, Andrew. (2019). “Antisocial Personality Disorder (ASPD)”. Diakses pada 11 September 2020 dari www.msdmanuals.com.

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.