
Halo, Socconians!
Tahukah Socconians apa yang dimaksud dengan OCD?
OCD atau Obsessive Compulsive Disorder merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan obsessive thoughts dan compulsive behaviors. Menurut pengertiannya, obsessive merupakan pikiran atau keinginan yang muncul secara berulang-ulang sehingga dapat menyebabkan rasa takut dan kecemasan dalam diri seseorang. Sedangkan compulsive merupakan perilaku yang juga ditunjukkan oleh seseorang secara berulang-ulang sebagai respon dari pikiran obsessive untuk mengurangi rasa takut dan kecemasan yang dialaminya.
OCD sendiri tidak hanya terjadi pada usia dewasa. Beberapa studi menunjukkan bahwa gejala OCD dapat terlihat pada anak-anak usia 2--3 tahun. Hal ini bahkan dapat terus berlangsung hingga anak memasuki usia sekolah atau beranjak dewasa. Secara khusus, OCD pada anak-anak biasanya ditandai dengan adanya pikiran obsessive yang berpusat pada agresi dan kontaminasi, sedangkan perilaku compulsive yang paling sering ditunjukkan adalah perilaku mencuci atau membersihkan dan memeriksa secara berulang-ulang.
Penyebab OCD pada Anak-anak
Socconians mungkin penasaran, apa sih yang menyebabkan gangguan mental ini terjadi pada anak-anak? Beberapa studi mengungkapkan bahwa OCD pada anak-anak dapat disebabkan oleh hal berikut:
Studi mengungkapkan bahwa anak-anak yang memiliki keluarga atau kerabat dengan OCD pada umumnya memiliki faktor resiko yang lebih tinggi. Resiko tersebut akan semakin tinggi jika keluarga atau kerabat menunjukkan gejala OCD sejak mereka berusia anak-anak.
Salah satu faktor resiko OCD pada anak-anak dapat disebabkan karena adanya pengalaman traumatik atau stressful life events. Sebagai contoh, kekerasan fisik atau seksual yang dialami oleh anak usia dini dapat menjadi salah satu penyebab trauma yang kemudian berujung pada berkembangnya gejala OCD.
Memiliki gangguan kesehatan mental lainnya, terutama yang berhubungan dengan rasa cemas, seperti generalized anxiety disorder atau social anxiety dapat meningkatkan faktor resiko mengalami OCD.
Tantangan OCD pada Anak di Sekolah
OCD tentunya memengaruhi bagaimana seseorang berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Terdapat tantangan tersendiri bagi anak dengan OCD dalam mengikuti pembelajaran di sekolah. Hal ini diakibatkan karena OCD memengaruhi kemampuan sosial, emosional, dan akademik seseorang. Berikut ini adalah beberapa tantangan yang dihadapi anak dengan OCD di sekolah:
Anak dengan OCD dapat mengalami kesulitan dalam menjalin interaksi sosial dengan teman di sekolahnya. Mereka cenderung kesulitan berpartisipasi dalam mengikuti kegiatan akibat adanya pikiran obsessive dan perilaku compulsive yang mereka tunjukan berulang-ulang. Beberapa studi menunjukkan bahwa anak dengan OCD memiliki kesulitan dalam membangun dan menjaga hubungan pertemanan di sekolah.
Bullying merupakan salah satu permasalahan yang dialami oleh anak dengan OCD di sekolah. Adanya kesalahpahaman dan pandangan negatif pada anak dengan OCD oleh teman-temannya yang lain dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya bullying.
Meskipun anak dengan OCD juga memiliki kemampuan intelegensi yang baik, diperlukan dukungan dari sekolah dan lingkungan agar ia dapat mengikuti pembelajaran dengan maksimal. Perasaan cemas akibat pikiran obsessive seringkali mempengaruhi dan mengganggu konsentrasi mereka selama mengikuti proses pembelajaran di sekolah.
Nah **Socconians, dari uraian di atas, kita dapat memahami bagaimana OCD dapat memengaruhi anak di sekolah dan tantangan apa saja yang kemungkinan mereka hadapi. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama yang baik dari tenaga pengajar dan lingkungan di sekitarnya. Tenaga pengajar memiliki peran penting untuk memberikan pemahaman mengenai OCD pada lingkungan sekolah dan membantu anak dengan OCD agar lebih percaya diri dalam melakukan interaksi sosial. Dengan menumbuhkan rasa keberagaman dan saling menghargai di antara kelompok pertemanan, lingkungan sekolah juga turut memberikan support bagi anak dengan OCD untuk terus berkembang dan belajar secara maksimal.
Referensi