
Hi, Socconians!
Pada era milenial ini, media sosial menjadi salah satu sarana tak terbatas untuk mengekspresikan diri. Berbagai konten dan ide mendorong sesama untuk bersosialisasi. Namun, bagaimana jika seorang individu tidak berani menyampaikan ide dan pendapatnya, sulit memulai suatu percakapan, atau merasa takut akan penilaian orang lain terhadapnya ketika bersosialisasi? Fenomena ini mendorong penulis untuk memberikan informasi mengenai Social Anxiety Disorders atau Gangguan Kecemasan Sosial. Mari kita simak penjelasannya!
Gangguan kecemasan sosial atau yang sebelumnya dikenal sebagai fobia sosial, adalah salah satu gangguan kecemasan yang paling umum. Gangguan kecemasan sosial merupakan gangguan yang ditandai dengan rasa takut atau cemas yang intens dalam situasi sosial ketika individu merasa diamati oleh orang lain. Ciri utama gangguan kecemasan sosial adalah rasa takut berlebih akan dipermalukan di depan orang lain.
Situasi sosial yang mungkin memicu kecemasan, yaitu bertemu orang banyak dan orang asing, memulai percakapan, berbicara dalam rapat atau kelompok, berbicara di depan umum atau figur otoritas, makan atau minum di tempat umum, pergi ke sekolah, berbelanja, bekerja, menggunakan toilet umum, serta tampil di depan umum. Meskipun kekhawatiran akan beberapa situasi sosial ini umum terjadi, individu dengan gangguan kecemasan sosial cukup mengkhawatirkan. Hal ini disebabkan individu tersebut takut akan melakukan sesuatu yang memalukan (tersipu, berkeringat, tampak membosankan atau bodoh, gemetar, serta tampak inkompeten dan cemas). Gangguan kecemasan sosial dapat berdampak besar, seperti mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial dan kualitas hidup, serta kinerja di tempat kerja atau sekolah. Berikut merupakan penjelasan mengenai alasan paling umum individu yang menderita kecemasan sosial:
Perilaku
Individu mungkin mengembangkan gangguan kecemasan sosial karena hal-hal yang terjadi di masa lalu. Contohnya, ketika individu merasa terhina, malu, atau takut, hal ini dapat memengaruhi perasaannya dalam situasi sosial di masa mendatang. Individu tersebut takut semua situasi sosial akan serupa sehingga mulai menghindarinya.
Berpikir Individu yang cemas dalam situasi sosial akan berpikir bahwa dirinya memiliki kinerja buruk dan merasa semua orang sedang memperhatikan atau menilainya. Selain itu, individu tersebut akan meragukan kemampuan diri untuk berbaur, percaya bahwa dirinya membosankan, dan tidak ada yang mau mendengar apa yang dikatakannya. Pola berpikir tersebut otomatis membuat saraf di dalam tubuh yang semula sederhana, menjadi jauh lebih kompleks.
Evolusi Faktor evolusi juga dapat berperan dalam gangguan kecemasan sosial. Individu cenderung senang bergaul sehingga tidak ingin merasa ditolak atau mengecewakan orang di sekitarnya. Inilah alasan yang membuat individu terlalu peka terhadap evaluasi negatif yang mungkin diterimanya.
Biologis Kecemasan sosial tumbuh akibat peran genetik. Cobalah lihat kembali keluarga individu. Jika terdapat anggota keluarga yang memiliki masalah kecemasan sosial, individu dapat mewarisi ciri-ciri kepribadian tersebut.
Trauma dan Pengalaman Buruk Ketika individu mengalami sesuatu yang buruk dan bersifat traumatis, tekanan yang ekstrem dapat dirasakan dan berbekas. Hal ini menjadi penyebab terjadinya kecemasan sosial sepanjang hidup.
Tuntutan Hidup
Individu memiliki banyak hambatan yang harus dilewati, terutama secara sosial, saat individu mulai memperoleh kemandirian dan membangun peran sebagai orang dewasa yang diharapkan masyarakat. Tantangan ini tidak mudah untuk diatasi. Pola yang dikembangkan oleh individu, berdampak pada kehidupan di masa depan sehingga membuat beberapa hal sulit untuk dihadapi.
Stres Ada 2 jenis stres yang berdampak pada tingkat kecemasan yang dirasakan individu, yaitu tindakan untuk menghentikan kontak dengan kolega, teman, atau keluarga, serta perubahan signifikan yang memengaruhi cara individu berhubungan dengan orang lain. Hal ini menuntut individu untuk cepat beradaptasi dengan situasi baru yang memicu kecemasan.
Bagaimana menurutmu, Socconians? Apa pun yang menjadi hambatan dalam bersosialisasi dan berkomunikasi, kita harus menampilkan diri sebagai individu yang menghargai satu sama lain. Jangan lupa untuk selalu menyadari dan menjaga kesehatan mental diri sendiri ataupun orang di sekelilingmu, ya, Socconians!
ReferensiPenulis
Reinne Rosa Edelin, S.Psi
Review Bahasa
Review Medis
Reinne Rosa Edelin, S.Psi
Sumber Tulisan
