
Hello, Socconians!
Kali ini Social Connect akan mencoba membahas topik yang mungkin sudah tidak asing lagi di telingamu, yaitu Obsessive Compulsive Disorder (OCD) atau di dalam bahasa Indonesia disebut Gangguan Obsesif Kompulsif. Bagi kamu yang belum tahu, OCD adalah gangguan mental yang dialami seseorang yang memiliki pikiran atau kekhawatiran yang berlebihan tentang suatu hal meskipun ada upaya untuk berhenti memikirkannya (obsesi) serta memiliki ritual atau hal-hal yang harus dilakukan untuk mengatasi pemikiran atau obsesi yang dimiliki tersebut (kompulsi).
Kedua hal tersebut mendorong individu dengan OCD untuk melakukan kegiatan tertentu secara berulang-ulang akibat dari kegelisahan atau kekhawatiran berlebihan yang terlintas di kepala mereka. Nah, mungkin di antara Socconians pernah ada yang mengalami hal ini? Mungkin pernah melihat gejalanya pada keluarga atau teman kamu? Untuk info lengkapnya mari kita simak lebih lanjut pembahasan tentang bagaimana mengenali tanda-tanda OCD pada anak dan remaja berikut ini.
Setelah mengerti sedikit tentang pengertian OCD, sekarang kita akan mulai membahas tentang gejala-gejalanya. Pertama-tama, gangguan kesehatan mental yang satu ini memang kerap dialami oleh golongan anak-anak dan juga remaja. OCD pada anak-anak biasanya terdiagnosa pada usia 7 hingga 12 tahun. Hal tersebut disebabkan karena rentang usia 7 hingga 12 tahun adalah saat-saat ketika anak ingin mencoba bermain atau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya, baik itu di sekolah maupun di lingkungan sekitar rumah. Nah, pada rentang usia-usia seperti ini, anak-anak secara alami merasa khawatir untuk menyesuaikan diri dengan teman-temannya, ketidaknyamanan dan stres yang ditimbulkan oleh OCD dapat membuat mereka merasa takut, tidak terkendali, serta merasa terasingkan.
Sementara itu, gejala OCD untuk remaja umumnya ditemukan pada remaja berusia 19 tahun atau pada masa-masa pubertas mereka, dengan remaja laki-laki biasanya muncul terlebih dahulu gejala OCD-nya dibandingkan remaja perempuan.
Nah, bagi Socconians yang mungkin punya kenalan atau kerabat dekat dengan rentang usia seperti yang telah dijelaskan di atas, berikut beberapa gejala-gejala OCD yang sering dijumpai pada anak-anak dan juga remaja:
Beberapa contoh di atas mungkin sering kita lakukan dan temui dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari, terutama seperti menjaga kebersihan diri dengan membiasakan mencuci tangan yang bagi beberapa anak mungkin sudah diajarkan sejak dini. Namun, jika kita melakukannya secara berlebihan, hal tersebut dapat menjadi suatu indikasi bahwa kita mungkin mengalami gangguan OCD.
Sama halnya dengan gangguan kesehatan mental lainnya, OCD juga dapat menyebabkan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan mental seorang anak dan remaja. Seseorang yang mengalami OCD akan merasa stres dan tidak nyaman dengan kehidupan mereka sehari-harinya, bahkan tidak jarang juga ditemui orang-orang yang mengatakan bahwa OCD merupakan faktor utama penyebab masalah dalam kehidupan mereka.
Untuk memberikan sedikit gambaran mengenai dampak-dampak negatif yang dapat disebabkan oleh OCD, berikut contoh-contohnya:
Dilihat dari dampaknya, gangguan OCD dapat menjadi sumber penghambat aktivitas sehari-hari. Oleh sebab itu, jika Socconians memiliki OCD atau mengenal seseorang dengan OCD saat ini, maka ketahuilah bahwa terdapat beragam metode perawatan di luar sana yang dapat kamu gunakan untuk mengatasi gangguan kesehatan mental ini. Ingatlah bahwa kondisi kesehatan mental itu sangatlah penting bukan hanya untuk anak-anak atau remaja saja, melainkan untuk semua orang. Jadi jangan pernah merasa sungkan untuk mulai mencari bantuan, ya!
ReferensiPenulis: Alif Noer Utama
Editor-in-Chief: Kabrina Rian
Editor Medis: Astridiah Primacita Ramadhani, S.Psi
Editor Tata Bahasa: Muhammad Ridwan, Finda Rhosyana
Sumber Tulisan
