
Hi, Socconians! Bukan tanpa alasan mengapa makanan termasuk kebutuhan dasar manusia. Tanpa makanan, kita tidak dapat beraktivitas, bukan? Namun, saat lapar, selain memengaruhi kinerja kita, biasanya itu juga memengaruhi suasana hati sehingga kita menjadi mudah marah dan melampiaskan rasa kesal itu kepada orang terdekat kita. Saat rasa lapar membuat seseorang menjadi mudah marah, hal ini dinamakan dengan hangry.
Apa itu hangry? Hangry adalah kombinasi dari kata hungry dan angry. Hubungan antara rasa lapar dan suasana hati dibuktikan dengan naik-turunnya gula darah seseorang. Setelah makan, tingkat gula darah akan meningkat sehingga kita memiliki energi lagi. Makanan yang dikonsumsi akan berubah menjadi glukosa, yang mana ini adalah sumber energi otak kita. Banyaknya glukosa, akan membuat otak lebih baik dalam mengendalikan perasaan negatif dan dorongan agresif. Seseorang yang belum makan, maka tingkat gula darahnya akan menurun.
Ketika gula darah kita rendah, hormon kortisol dan epinefrin dilepaskan agar gula darah kembali ke tingkat normal, dan kedua hormon ini terkait dengan rasa kesal. Lalu, ada juga hormon Neuropeptida Y yang membuat seseorang merasa lapar ketika tubuh membutuhkan lebih banyak makanan, tetapi ini juga terkait dengan agresi. Ketika otak kita mengalami kesulitan untuk mengontrol emosi, kita cenderung untuk menyerang orang terdekat kita, seperti teman ataupun kerabat, karena mereka adalah orang-orang yang membuat kita nyaman. Oleh sebab itu, kita cenderung melampiaskan rasa kesal kita kepada mereka.
Para peneliti dari Universitas North Calorina melakukan penelitian untuk mengetahui penyebab seseorang mengalami hangry. Dari serangkaian eksperimen yang telah dilakukan, ditemukan bahwa seseorang yang berada di situasi tertekan dan tidak selaras dengan emosinya, bisa membuat seseorang yang lapar menjadi mengalami hangry. Penelitian juga menunjukkan bahwa seseorang yang berada dalam situasi yang tidak mengenakkan, lebih mungkin untuk mengalami hangry dibanding mereka yang berada di situasi netral atau menyenangkan. Selain itu, seseorang yang tidak menyadari emosinya juga lebih mudah bereaksi terhadap hangry.
Saat kita sudah merasa lapar, itu adalah sinyal dari otak bahwa tubuh kita butuh makan. Hal ini tidak boleh dihiraukan, karena rasa lapar bisa berubah menjadi hangry. Ada beberapa hal yang bisa dialami saat kita mengalami hangry, di antaranya:
Agresif
Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, saat hangry, seseorang bisa meluapkan emosi negatifnya kepada orang terdekat mereka. Hal itu karena kurangnya glukosa yang diperoleh dari makanan sehingga otak kesulitan untuk mengontrol emosi kita. Hal ini didukung dengan satu riset terhadap pasangan suami-istri yang mana ditemukan bahwa pasangan intim memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengekspresikan dorongan agresifnya kepada satu sama lain ketika tingkat gula darah mereka rendah.
Tidak Fokus
Selain seseorang menjadi murah marah, kurangnya asupan juga membuat seseorang kurang fokus dalam beraktivitas. Seseorang yang kurang fokus akan menghambat aktivitasnya karena informasi yang didapat, menjadi lama untuk diolah oleh otak. Rendahnya tingkat konsentrasi seseorang masih memiliki kaitan dengan rendahnya tingkat gula darah.
Impulsif Saat hangry, banyak makanan yang ingin dimakan sehingga sulit untuk berpegang pada pola makan yang sehat, apalagi untuk seseorang yang sedang diet. Riset telah membuktikan bahwa rendahnya gula darah menyebabkan seseorang menginginkan makanan dengan kalori tinggi, seperti junk food.
Gejala seseorang saat hangry bisa berupa tampak lelah dan gelisah. Hangry bukanlah suatu keadaan yang berbahaya. Meskipun tidak berbahaya, kita bisa menghindarinya dengan cara:
Penulis
Nahlia Choirunnisa, S.Psi
Review Bahasa
Review Medis
Nahlia Choirunnisa, S.Psi
Sumber Tulisan
