
Hi, Socconians!
Labeling atau pemberian label adalah cara kita menggambarkan suatu objek dengan suatu frasa/kata pendek, baik itu seseorang ataupun suatu barang. Tahukah Socconians bahwa istilah yang kita gunakan untuk menyebut/memanggil orang juga merupakan cara kita melabeli orang tersebut?
Ansos dan Antisosial
Kata “ansos” mungkin sudah tak asing di telinga kita, bahkan sejak kita duduk di bangku sekolah. Kata “ansos” biasa digunakan untuk menyebut atau bahkan memanggil teman yang pendiam dan cenderung menarik diri dari pergaulan. Konon katanya, ansos merupakan singkatan dari antisosial. Namun, apa benar antisosial berarti pendiam dan suka menyendiri?
Menurut KBBI, antisosial berarti tidak suka bergaul atau cenderung mengganggu ketentraman umum. Nyatanya, antisosial suka bergaul dengan orang-orang yang ia sayangi. Antisosial juga bisa jadi mengganggu ketentraman umum. Tetapi bila premisnya dibalik, apa iya seorang yang tidak suka bergaul dan/atau yang mengganggu ketentraman umum sudah pasti antisosial?
Sebenarnya, antisosial adalah salah satu gangguan kepribadian dengan gejala sebagai berikut:
Jadi, pendiam atau suka menyendiri belum tentu berarti antisosial ya, Socconians. Diagnosis antisosial hanya diberikan pada seseorang yang berusia di atas 18 tahun, yang juga memiliki gejala serupa saat berusia di bawah 15 tahun.Seorang antisosial dewasa biasanya memiliki masalah perilaku secara terus-menerus saat berusia di bawah 15 tahun, seperti melakukan kekerasan pada hewan dan manusia, mencuri, sering berbuat curang, serta melanggar aturan serius. Dengan karakter seperti itu, seseorang dengan gangguan kepribadian antisosial cenderung sulit untuk konsisten bertanggung jawab dan menyelesaikan pekerjaannya.
Kata “Ansos” Sebagai Panggilan
Antisosial bukanlah istilah yang tepat untuk menggambarkan sifat pendiam atau kebiasaan menyendiri yang dimiliki orang lain, apalagi untuk digunakan sebagai panggilan. ****Selain dianggap negatif dan membuat hati pendengarnya merasa sedih, penggunaan kata “ansos” sebagai panggilan dapat menyalahgunakan arti kata antisosial itu sendiri di masyarakat. Coba bayangkan bila kita menyebut si pendiam/penyendiri dengan istilah “ansos” atau “antisosial”, orang lain di sekitar kita pun akan semakin percaya bahwa pendiam dan penyendiri pasti antisosial, mewajarkan hal tersebut, lalu turut menggunakannya dalam lingkup pergaulan yang lebih luas, padahal arti aslinya berbeda dan jauh lebih kompleks dari itu. Bila ini terjadi, pandangan yang salah tentang antisosial dapat meluas di masyarakat.
Menyikapi Si Pendiam dan Penyendiri
Sifat pendiam dan/atau suka menyendiri pasti pernah kita temukan pada orang lain, atau mungkin pada diri kita sendiri. Ada baiknya kita tak usah melabeli siapa pun—termasuk diri sendiri—dengan sebutan “Ansos” ya, Socconians! Zaman sekarang memang memudahkan kita untuk berkomentar dan memberi cap tertentu berdasarkan perilaku dan kebiasaan seseorang, namun bukan berarti itu selalu baik untuk dilakukan. Tanpa kita sadari, pemberian label pada seseorang dapat menimbulkan stigma dan stereotip di masyarakat, yang mungkin akan menimbulkan dampak negatif, seperti bullying.
Jika bertemu seseorang yang memiliki gejala antisosial, kita tak bisa langsung memberikan label antisosial padanya. Dibutuhkan evaluasi psikologi oleh psikolog/psikiater untuk mendeteksi adanya gangguan kepribadian pada seseorang. Seorang antisosial pun biasanya jarang mencari bantuan profesional dengan inisiatif sendiri. Bila kamu mendapati ada teman atau anggota keluarga yang cenderung memiliki gejala antisosial, mungkin kamu bisa menolongnya mendapatkan bantuan profesional.
Selain yang berkaitan dengan antisosial, bila kamu merasa dirimu atau orang yang kamu kenal memiliki perasaan atau kebiasaan yang mengganggu keseharian, jangan ragu untuk membicarakannya dengan orang yang tepat ya, Socconians. Mengenali perasaan yang ada dan terbuka tentang itu adalah bukti bahwa kita menyayangi diri kita, serta mengutamakan kesehatan mental kita.
ReferensiPenulis: Selena Aura Puspita
Editor-in-Chief: Kabrina Rian
Editor Medis: Pandhit Satrio Aji, S.Psi
Editor Tata Bahasa: Indah Riadiani dan Glaniz Izza
Sumber Tulisan :
