• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Career
  • Login
18 Apr

Dampak Ghosting Bagi Kesehatan Mental

by Nahlia Choirunnisa, S.Psi

Hi, Socconians!

Pasti kamu sudah tidak asing lagi dengan kata ghosting. Mungkin kamu pernah mengalaminya atau bahkan pernah melakukannya. Ghosting bisa terjadi pada setiap jenis hubungan manusia, tetapi memang lebih banyak terjadi dalam hubungan percintaan. Saat kamu di-ghosting, kamu akan bertanya-tanya pada diri sendiri, alasan mereka melakukannya pada kamu. Kamu hanya bisa menerka-nerka alasannya karena kamu tidak bisa lagi menghubungi mereka. Saat di-ghosting, seseorang memutus hubungan dengan orang lain dengan cara tidak membalas pesan atau pun mengangkat telepon, tidak lagi mengikuti akun media sosial kamu, dan mem-block kontak serta akun media sosialmu.

Berdasarkan kamus Cambridge, ghosting adalah cara untuk memutus suatu hubungan dengan seseorang secara tiba-tiba dengan berhenti menghubungi mereka. Entah itu teman atau kekasih, mereka bisa tiba-tiba menghilang tanpa memberi kabar terlebih dulu. Di zaman sekarang, sekitar 50% pria dan wanita pernah mengalami ghosting. Meskipun ghosting kini menjadi fenomena yang umum terjadi, tetapi sebenarnya ghosting memliki dampak besar bagi emosi seseorang dan bahkan bisa merusak harga diri seseorang.

Mengapa Seseorang Melakukan Ghosting?

Riset menunjukkan bahwa semakin berkembangnya teknologi, membantu seseorang untuk memperluas jaringan sosialnya. Namun, ini juga bisa menyebabkan rendahnya keakraban dalam suatu hubungan, meningkatkan kesepian, dan berkurangnya kepuasan akan kehidupan. Rendahnya hubungan timbal balik bagi orang-orang yang berkenalan secara online memiliki kemungkinan lebih besar untuk keluar dari hidup seseorang. Navaro dkk menyatakan ghosting terkait dengan penggunaan aplikasi kencan online, waktu yang dihabiskan melalui aplikasi/website kencan, dan hubungan jangka pendek. Maraknya perilaku ghosting mampu meningkatkan kesepian, putus asa, dan ketidakpuasan akan kehidupan seseorang.

Seseorang yang melakukan ghosting fokus utamanya adalah untuk menghindari perasaan tidak nyaman, tetapi mereka tidak memikirkan perasaan orang lain. Strategi ini terkait dengan gaya keterikatan menghindar yang mana adanya kecenderungan menghindari kedekatan emosional dalam suatu hubungan. Dikatakan bahwa mereka yang melakukan ghosting karena tidak tahu harus bagaimana mengutarakan perasaannya dan daripada mengatakan alasan yang tidak masuk akal, mereka lebih memilih untuk meng-ghosting. Pengalaman dari masa lalu yang menghantui membuat mereka kembali takut saat mencoba untuk mencari tahu apa yang diinginkannya.

Apa Dampak dari Ghosting?

Pernah mendengar silent treatment? Silent treatment adalah perilaku mendiamkan seseorang yang ingin berkomunikasi. Ghosting termasuk silent treatment sehingga para ahli menyatakan bahwa ghosting adalah kejahatan emosional. Mengapa? Seseorang yang meng-ghosting tidak memberi kesempatan pada mereka untuk menanyakan alasannya sehingga mereka tidak mampu mengutarakan emosinya, merasa dimanfaatkan, tidak berdaya yang mana ini memengaruhi harga diri seseorang.

Di-ghosting tentu begitu menyakitkan. Ini karena saat seseorang mengalami penolakan, otak kita mengaktifkan jalur rasa sakit yang sama saat kita cedera fisik. Saat seseorang mengalami penolakan, menurut psikolog sosial, harga dirinya akan jatuh. Bagi yang sudah sering di-ghosting atau memiliki harga diri rendah, adanya kemungkinan mengalami penolakan yang lebih menyakitkan. Butuh waktu lama untuk menyembuhkannya karena seseorang dengan harga diri rendah memiliki penawar rasa sakit lebih sedikit di otaknya dibanding mereka yang memiliki harga diri tinggi. Apalagi jika ini dilakukan oleh seseorang yang akrab, mereka akan merasa dikhianati dan ini juga bisa menyebabkan trauma.

Dampak serius dari ghosting menurut Profesor Sherry Turkle adalah ketika seseorang tidak dipedulikan, mereka berpikir itu bukanlah masalah dan mulai memperlakukan diri sendiri seperti seseorang yang tidak berperasaan. Semakin sering tejadi, mereka akan kehilangan kepekaan dan mungkin bisa meng-ghosting orang lain juga. Berdasarkan riset, ghosting adalah cara paling menyakitkan dalam mengakhiri suatu hubungan sehingga mereka lebih memilih mengakhirinya dengan adanya pembicaraan secara langsung.

Socconians, ternyata ghosting bukanlah sesuatu yang biasa saja meskipun sudah banyak terjadi karena rasa sakitnya ternyata sama seperti saat cedera fisik. Untuk bisa move on dari mereka yang meng*-ghosting*, sadarlah bahwa mereka telah menunjukkan ketidakmampuan dalam mengatasi suatu masalah secara sehat, yakinlah bahwa akan ada pengganti yang lebih baik, dan sibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat!

Referensi

Penulis

Nahlia Choirunnisa,S.Psi

Review Bahasa

Lailatul Qomariah

Review Medis

Nahlia Choirunnisa,S.Psi

Sumber Tulisan

  1. Gholipour, Bahar. (2019). “Why Do People Ghost?”. Diakses pada 8 Maret 2021 dari situs web: https://www.livescience.com/64661-why-people-ghost.html
  2. Navaro, Raul dkk. (2020). “Psychological Correlates of Ghosting and Breadcrumbing Experiences: A Preliminary Study among Adults”. International Journal of Environmental Research and Public Health. Volume 17(3): 1-13. Diakses pada 8 Maret 2021 dari situs web: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7037474/
  3. Vilhauer, Jennice. (2015). “Why Ghosting Hurts So Much”. Diakses pada 6 Maret 2021 dari situs web: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/living-forward/201511/why-ghosting-hurts-so-much

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.