
Hai, Socconians!
Media sosial apa saja yang kamu gunakan? Pada zaman digital seperti sekarang ini, hampir semua orang menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dengan orang lain. Facebook merupakan media sosial yang paling banyak digunakan, diikuti oleh YouTube, Pinterest, Instagram, Twitter, dan Tumblr. Kita dapat mengakses, membuat, dan mengunggah konten di setiap platform dengan mudah.
Dengan adanya pandemi yang menyebabkan setiap orang harus membatasi aktivitas dan melakukan lockdown, media sosial menjadi semakin penting. Memang banyak manfaat positif yang didapatkan, seperti berkomunikasi dengan teman atau menjual produk buatan kita. Meski begitu, ada banyak pengaruh negatif yang membuat setiap platform tersebut terasa toxic.
Mengenal Online Toxicity
Seseorang bisa dengan mudah mengemukakan pendapatnya mengenai sebuah isu tertentu di media sosial dan orang lain bisa menimpali pendapat tersebut. Jika dimanfaatkan dengan baik, media sosial bisa menjadi ruang diskusi yang efektif dalam membahas isu-isu tertentu. Hanya saja, beberapa isu tergolong sensitif. Isu-isu sensitif seperti politik, ras, dan agama memancing lebih banyak komentar penuh kebencian dibandingkan isu lainnya. Komunikasi bernada kebencian itulah yang didefinisikan sebagai online toxicity.
Orang-orang yang mengirimkan komentar buruk sering disebut internet trolls. Mereka berani menyerang orang lain karena bisa meninggalkan komentar anonim dan tidak dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya. Komentar-komentar tersebut termasuk salah satu bentuk cyberbullying dan bisa membuat orang lain tidak nyaman atau merasa dipermalukan dan diserang.
Dampak Negatif Lainnya
Selain online toxicity, media sosial juga bisa memberikan berbagai dampak negatif lainnya. Post banyak orang tentang sesuatu yang sedang tren bisa membuatmu takut ketinggalan kesenangan (fear of missing out atau FOMO). Komentar orang di foto Instagram-mu atau melihat hidup orang lain yang lebih “wow” bisa membuatmu merasa tidak percaya diri dengan hidup dan penampilanmu. Tindakan seperti ini membuat media sosial terasa seperti tempat yang penuh kebencian dan orang-orang toxic.
Penggunaan media sosial toxic yang intensif memiliki kaitan dengan berbagai gangguan kesehatan mental, seperti depresi dan gangguan kecemasan. Selain itu, kesehatan fisik juga bisa terganggu. Sinar yang terpancar dari ponsel yang digunakan menyebabkan kualitas tidur terganggu yang meningkatkan risiko terjadi gangguan kesehatan seperti penyakit jantung.
Kapan Kita Perlu Detoks Digital?
Apakah kamu panik kalau tidak bisa menemukan ponselmu? Apakah kamu merasa cemas jika tidak membuka akun media sosialmu? Apakah kamu merasakan dorongan untuk mengecek ponsel setiap saat? Apakah kamu sudah merasakan dampak negatif media sosial dan merasa bahwa kesehatan mental dan fisikmu mulai terganggu?
Socconians, jika kamu mengiyakan semua pertanyaan tersebut, ada baiknya kamu melakukan detoks digital. Detoks berarti mengurangi aktivitasmu di situs-situs media sosial dan membatasi kegiatan menggunakan gawai. Detoks digital sangat bermanfaat untuk kesehatan mental dan fisik. Melakukan detoks media sosial bisa membantu menurunkan level stres, menjalani hidup yang lebih seimbang, dan meningkatkan kebahagiaan.
Tips Melakukan Detoksifikasi
Pada era digital seperti sekarang ini, mustahil untuk benar-benar meniadakan penggunaan gawai. Meski begitu, kamu masih tetap bisa membatasi aktivitas digitalmu, misalnya waktu makan, saat bekerja, ketika menghabiskan waktu bersama keluarga, atau sebelum tidur. Kamu juga bisa menghapus aplikasi media sosial dari ponsel. Usahakan untuk benar-benar tidak mengecek ponselmu pada waktu-waktu tersebut. Kamu juga bisa mencari kegiatan lain yang sekiranya bisa dilakukan untuk mengisi waktu, seperti membaca atau berolahraga.
Nah, Socconians, apakah kamu merasa perlu melakukan detoks? Yuk, coba tips-tips ini. Semoga membantu!
ReferensiPenulis: Shania Kurniawan
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Pandhit Satrio Aji S. Psi
Editor Tata Bahasa: Muhammad Ridwan dan Finda Rhosyana
Sumber Tulisan
Azmi, N. [Hello Sehat]. (2019). “Alasan Anda Perlu Melakukan Social Media Detox dan Tips Melakukannya”. Diakses pada tanggal 16 Oktober dari laman website https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/tips-alasan-detoks-sosial-media/
Cherry, K. [Very Well Mind]. (2020). “What is a Digital Detox?”. Diakses pada tanggal 16 Oktober dari laman website https://www.verywellmind.com/why-and-how-to-do-a-digital-detox-4771321
Cohut, M. [Medical News Today]. (2018). “Is it time you went on a social media detox?”. Diakses pada tanggal 16 Oktober dari laman website https://www.medicalnewstoday.com/articles/321498
Glass, R. L. [Psych Central]. (2020). “Coping with Internet Trolls”. Diakses pada tanggal 15 Oktober dari laman website https://psychcentral.com/blog/coping-with-internet-trolls/
Gordon, S. [Very Well Family]. (2020). “6 Types of Cyberbullying”. Diakses pada tanggal 15 Oktober dari laman website https://www.verywellfamily.com/types-of-cyberbullying-460549
Robinson, L., & Smith, M. [Help Guide]. (2020). “Social Media and Mental Health”. Diakses pada tanggal 15 Oktober dari laman website https://www.helpguide.org/articles/mental-health/social-media-and-mental-health.htm
Salminen, J., Sengün, S., Corporan, J., Jung, S. gyo, & Jansen, B. J. (2020). “Topic-driven toxicity: Exploring the relationship between online toxicity and news topics”. PLoS ONE. 15(2). 1–24. Diakses pada tanggal 15 Oktober dari laman website https://doi.org/10.1371/journal.pone.0228723 .
Stats Counter. [Statcounter Global Stats ]. (2020). “Social Media Stats Indonesia”. Diakses pada tanggal 15 Oktober dari laman website
), (
