
Hai, Socconians!
Mungkin kamu sudah tidak asing lagi dengan istilah Quarter Life Crisis (QLC). QLC atau krisis seperempat kehidupan ini umum dibicarakan dan dialami oleh milenial usia sekitar 20-30 tahun. Selain itu, QLC juga erat kaitannya dengan peningkatan stres yang drastis di usia sekitar 20 hingga 30 tahun.
Sebenarnya, apa itu QLC? QLC merupakan masa ketika seseorang cenderung mempertanyakan tujuan hidup, meragukan masa depan, bahkan meragukan kualitas hidup saat ini. Masa itu terdiri dari empat fase dan bukan terjadi secara harfiah di seperempat perjalanan hidup, melainkan di seperempat perjalanan menuju dewasa.
Kawula muda yang sedang mengalami QLC biasanya meragukan dan mempertanyakan berbagai hal, mulai dari karir, hubungan, hingga finansial. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan karena di usia 20-30 tahun, banyak peristiwa hidup yang berubah secara signifikan. Hal ini dapat memicu stres, depresi, kecemasan, atau gejala gangguan kesehatan mental lainnya.
Langkah yang diambil ketika menghadapi QLC sangat memengaruhi kehidupan ketika menjadi orang dewasa yang sesungguhnya. Kali ini, Social Connect akan membahas mengenai langkah-langkah menghadapi QLC dengan bijak sebagai salah satu bentuk upaya pengembangan diri.
Di masa ini, kamu mungkin sangat kebingungan hingga merasa terjebak di masalah yang sedang kamu hadapi. Kamu mungkin sangat khawatir terhadap apa yang akan terjadi di masa depan hingga sesaat kamu lupa bahwa hidup ini penuh dengan ketidakpastian dan selalu ada perubahan. Oleh karena itu, kamu perlu menyadari bahwa kamu sedang menjalani kehidupan di masa sekarang, lalu menerima kegelisahan, kebingungan, dan emosi lain yang membuatmu terjebak. Di masa ini, kamu juga mungkin merasa kehilangan minat dan tidak ingin melakukan apa-apa. Untuk mengatasinya, kamu bisa membuat daftar kegiatan setiap pagi dan pastikan kamu melakukannya. Selain itu, cobalah untuk fokus pada keadaan dan situasi yang kamu alami.
****QLC merupakan momen yang tepat untuk merenung dan merefleksikan diri. Setelah kamu sepenuhnya sadar dan menerima bahwa perubahan itu sangat mungkin terjadi, cari tahu apa yang membuatmu merasa terjebak, entah itu pekerjaan, hubungan, atau hal lain. Jika perlu, catat semua yang kamu rasakan menjadi poin-poin di bukumu. Hal ini penting untuk langkah selanjutnya, yaitu menyusun rencana untuk mengatasinya.
****Susun rencana dengan matang dan penuh pertimbangan. List semua rencana yang dapat menjawab kegelisahanmu dan mampu kamu wujudkan. Perlu diingat, sebelum kamu mengambil keputusan besar, coba untuk mengatasi hal yang mengganggumu terlebih dahulu. Menurut penelitian, QLC mungkin akan terjadi beberapa kali di sepanjang usia 20-30 tahun. Oleh karena itu, cobalah mengambil insight dari apapun yang kamu alami, baik itu hal baik maupun hal buruk. Belajar dari kesalahan dan bersikap realistis terhadap harapan. Ini bukan berarti kamu tidak boleh berharap, ya!
****Kesalahan yang kerap tidak disadari ketika berada di QLC adalah membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Cara pandang yang salah terhadap pencapaian dan hidup orang lain hanya akan menghambat proses pengembangan dirimu. Setiap orang punya jalan hidup dan waktu yang berbeda-beda. Oleh karena itu, percaya pada kemampuanmu dan fokus terhadap apa yang bisa kamu lakukan. Lupakan untuk menjadi sehijau rumput tetangga!
****Selagi berusaha memulai kehidupan yang baru, kamu bisa coba olahraga rutin untuk membantu membugarkan tubuh dan pikiran. Tubuh dan pikiran yang sehat sangat penting karena dapat memengaruhimu dalam mengambil keputusan. Kamu juga bisa melakukan hobi atau hal yang kamu sukai untuk mendistraksi pikiranmu dari emosi negatif ketika bergelut dengan QLC.
Nah, itulah lima langkah yang bisa Socconians lakukan ketika menghadapi QLC*.* Masa ini memang sulit, tetapi kamu pasti bisa melewatinya. Jika Socconians merasa QLC mulai mengganggu kesehatan mentalmu, jangan ragu untuk menemui psikolog atau konselor jiwa, ya. Kamu juga bisa baca artikel tentang pengembangan diri dan kesehatan mental lainnya di website Social Connect.
ReferensiPenulis: Fitra Nofra Y.P.
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Astridiah Primacita Ramadhani, S.Psi
Editor Tata Bahasa: Indah Riadiani dan Sulistia Ningsih
Sumber Tulisan
