• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Career
  • Login
12 Feb

Apakah Vaksinasi MMR Sebabkan Autisme? Ini Penjelasannya

by dr. Vania Rafelia

Hai, Socconians!

Pernah tidak sih kalian mendengar berita bahwa vaksinasi MMR bisa membuat anak menjadi autis? Apakah hal itu benar? Yuk, kita bahas bersama-sama.

Mengenal Gangguan Spektrum Autisme

Sebelum membahas lebih dalam, kita perlu tahu dulu nih, apa sih gangguan spektrum autisme itu? Gangguan spektrum autisme merupakan gangguan perkembangan yang muncul sebelum anak berusia tiga tahun dan berlangsung sepanjang hidup. Namun, jangan khawatir, gejalanya dapat membaik seiring berjalannya waktu jika diobati dengan baik. Anak dengan gangguan tersebut memiliki masalah interaksi sosial dan perkembangan perilaku yang menyebabkan mereka seringkali memiliki perilaku berulang dan kesulitan beradaptasi dengan suatu hal yang baru. Kebanyakan anak dengan gangguan tersebut tampak berkembang secara normal hingga sekitar usia 18--24 bulan, kemudian mereka berhenti memperoleh keterampilan baru atau justru kehilangan keterampilan yang pernah mereka miliki. Penelitian telah menunjukkan bahwa kebanyakan orang tua mulai menyadari anaknya memiliki gangguan spektrum autisme pada usia anak 24 bulan.1,2

Penyebab Gangguan Spektrum Autisme

Penyebab gangguan spektrum autisme melibatkan berbagai faktor, mulai dari faktor genetik, biologis, dan lingkungan. Faktor risiko terjadinya gangguan spektrum autisme antara lain sebagai berikut.1-3

  1. Jenis kelamin. Jumlah kasus anak laki-laki dengan gangguan spektrum autisme empat kali lebih banyak dibanding pada anak perempuan.
  2. Usia ibu/ayah >35 tahun saat memiliki anak.
  3. Riwayat memiliki anak dengan gangguan spektrum autisme.
  4. Penyakit selama kehamilan (pre-eklampsia, diabetes, tekanan darah tinggi, infeksi).
  5. Konsumsi alkohol ataupun obat epilepsi selama kehamilan.
  6. Penyakit terkait kelainan kromosom.

Mengenal Vaksinasi MMR

Nah, selanjutnya yuk kita bahas tentang vaksinasi MMR! Vaksinasi MMR merupakan jenis vaksinasi jenis suntik untuk mencegah terjadinya penyakit akibat virus mumps (gondongan), measles (campak), dan rubella (campak jerman) yang idealnya diberikan pada anak usia 12--15 bulan dan booster pada usia 3--5 tahun, kecuali anak memiliki kontraindikasi pemberian vaksin tersebut, seperti penyakit keganasan atau alergi terhadap obat tertentu (neomisin). Pemberian vaksin MMR juga dapat ditunda jika memang anak sedang dalam kondisi sakit, seperti demam. Bila tidak ada kontraindikasi, pemberian vaksin tersebut harus tetap diberikan sesuai dosis dan jadwal.4

Hubungan Autisme dengan Vaksin MMR

Beredarnya isu mengenai pemberian vaksin MMR dapat menyebabkan gangguan spektrum autisme diawali dengan pelaporan kasus di Inggris pada tahun 1998 yang mengatakan bahwa beberapa anak memiliki gejala autisme setelah satu bulan mendapatkan vaksinasi MMR. Tentunya semenjak isu tersebut beredar, muncul kecemasan dan ketakutan dari para orang tua dalam memberikan vaksinasi MMR bagi buah hatinya. Bahkan, banyak juga yang memilih untuk tidak memberikan vaksinasi MMR.

Namun, kamu perlu tahu bahwa dugaan kontroversial tersebut ternyata tidak didukung dengan bukti maupun alur mekanisme yang memungkinkan terjadinya gangguan spektrum autisme setelah pemberian vaksin MMR.5,6 Para pakar menyatakan bahwa setelah virus MMR ditemukan pada tahun 1987, tidak ada peningkatan signifikan dari angka kejadian kasus gangguan spektrum autisme pada anak. Begitupun sebaliknya, peningkatan jumlah kasus autisme juga tidak disertai dengan adanya peningkatan angka pemberian vaksin MMR.5,7 Studi konfirmasi yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) juga mengatakan tidak adanya bukti hubungan antara risiko terjadinya gangguan spektrum autisme pada anak dengan pemberian vaksin MMR dan menganjurkan agar pemberian vaksin MMR tetap dilakukan sesuai dengan pedoman dosis dan usia anak.8

Sekarang, kita sudah tahu kan apa saja sebenarnya faktor-faktor risiko gangguan spektrum autisme dan bagaimana sebenarnya hubungan autisme dengan pemberian vaksin MMR? Yuk, kita bersama-sama membagikan informasi yang benar, sehingga kita juga dapat membantu banyak orang tua di luar sana agar tidak bingung ataupun menunda pemberian vaksin MMR bagi buah hatinya.

Referensi

Penulis: dr. Vania Rafelia

Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi, Edward Christopher Yo

Editor Medis: dr. Vania Rafelia

Editor Tata Bahasa: Christina Intania Ariwijaya

Sumber Tulisan

  1. Bell, Jericho & Omar, Abdul & Buttross, Susan. (2011). “Autism and vaccines: search for cause amidst controversy”. Journal of the Mississippi State Medical Association. 52. 35-8.
  2. CDC. (2019). “Routine Measles, Mumps, and Rubella Vaccination”. Diakses pada 27 Novmber 2020 dari situs https://www.cdc.gov/vaccines/vpd/mmr/hcp/recommendations.html
  3. CDC. (2020). “Autism Spectrum Disorder”. Diakses pada 27 November 2020 dari situs https://www.cdc.gov/ncbddd/autism/facts.html
  4. DeStefano F, Shimabukuro TT. (2019). “The MMR Vaccine and Autism”. Annu Rev Virol. Sep 29;6(1):585-600. doi: 10.1146/annurev-virology-092818-015515. Epub 2019 Apr 15. PMID: 30986133; PMCID: PMC6768751.
  5. Gerber JS, Offit PA. (2010). “Vaccines and autism: a tale of shifting hypotheses”. Clin Infect Dis. 48(4):456-461. doi:10.1086/596476
  6. Johnson, Chris & Myers, Scott. (2007). “Identification and Evaluation of Children With Autism Spectrum Disorders”. Pediatrics. 120. 1183-215. 10.1542/peds.2007-2361.
  7. Ratto AB, Kenworthy L, Yerys BE, et al. (2018). “What About the Girls? Sex-Based Differences in Autistic Traits and Adaptive Skills”. J Autism Dev Disord. 48(5):1698-1711. doi:10.1007/s10803-017-3413-9
  8. WHO. (2013). “Evaluation of whether mmr vaccine increases the incidence of autism”. Diakses pada 27 November dari situs https://vaccine-safety-training.org/mmr-vaccine-increases.html

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.