
Halo, Socconians!
Kalian pasti sudah pernah mendengar kata OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) atau dalam bahasa Indonesia disebut Gangguan Obsesif Kompulsif. Kali ini Social Connect akan membahas tipe-tipe OCD yang mungkin belum diketahui banyak orang.
Menurut International OCD Foundation, gangguan obsesif kompulsif merupakan gangguan kesehatan mental yang dapat dialami segala usia dan lapisan masyarakat ketika merasakan gejala obsesi dan kompulsi. Seseorang mungkin mengalami obsesi, kompulsi, atau keduanya, yang menyebabkan kecemasan berlebih bagi yang mengalaminya. Gejala obsesi yang dialami dapat berupa pikiran yang tidak diinginkan dan mengganggu yang memicu perasaan takut, resah, dan tidak tenang. Sedangkan kompulsif merupakan perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang dalam upayanya mengurangi atau menyingkirkan kecemasan yang timbul dari obsesi.
Gejala OCD dapat muncul dalam berbagai bentuk yang tidak terbatas. Hingga sekarang, berbagai penelitian masih dilakukan untuk mengenali tipe-tipe dan bentuk OCD. Akan tetapi, pada umumnya gangguan ini dikelompokkan ke dalam enam tipe yang berbeda.
Merupakan tipe OCD yang paling umum yang dialami orang. Pada tipe ini, gejala perilaku yang muncul adalah memeriksa sesuatu secara berulang-ulang, terkadang hingga ratusan kali dan bertahan hingga berjam-jam. Hal ini mungkin sering kali dianggap remeh oleh orang yang awam akan OCD. Namun, perilaku ini dapat menyebabkan pengaruh yang signifikan terhadap penderitanya hingga dapat mengganggu hubungan sosial dan pekerjaannya. Beberapa hal yang umumnya diperiksa adalah kunci pintu atau jendela, saklar lampu, bahkan keran air.
Merupakan ketakutan akan terkena kontaminasi yang berbahaya baik bagi dirinya sendiri atau orang yang dicintai. Orang dengan gejala OCD tipe ini sering kali ditemukan mencuci atau membersihkan bagian tubuh berulang-ulang. Terkadang, orang dengan gejala OCD tipe ini juga menghindar dari suatu tempat, orang, bahkan benda jika mereka mengalami ketakutan akan terkontaminasi.
OCD tipe ini serupa dengan tipe contamination, hanya saja penyebabnya bukanlah tempat atau barang tetapi oleh perasaan. Orang dengan gejala OCD tipe ini dapat merasa terkontaminasi jika merasa tersakiti secara psikologis, seperti diperlakukan buruk, diejek, atau bahkan melalui komentar yang kritis dan kasar. Perlakuan seperti ini menyebabkan penderita merasa adanya hal yang tidak bersih di dalam diri. Umumnya, perilaku yang muncul adalah mencuci atau membersihkan tubuhnya berulang-ulang sampai dirasa kontaminasi tersebut sudah hilang.
Merupakan kesulitan membuang barang atau benda usang yang nilainya sedikit atau bahkan tidak bernilai sama sekali. Gejala OCD tipe ini hampir tidak dapat dibedakan dengan hoarding disorder. Adapun hoarding disorder mempunyai gejala menyimpan atau menimbun benda yang sudah tidak terpakai hingga memenuhi ruang di tempat tinggalnya. Sampai saat ini, berkaitan dengan OCD, belum diketahui alasan tertentu seseorang mulai melakukan hoarding atau penimbunan. Gejala OCD tipe hoarding ini dapat menjadi berbahaya karena berkaitan dengan kebersihan dan keselamatan lingkungan tempat tinggalnya.
Merupakan pikiran obsesif yang mengganggu, ruminations atau perenungan cenderung berkaitan dengan pikiran yang mengarah pada pertanyaan yang tidak memiliki jawaban yang pasti. Contoh dari OCD tipe ini adalah ketika seseorang memikirkan kehidupan setelah mati secara berkepanjangan dan terus-menerus. Contoh lainnya adalah ketika orang memikirkan, “Apakah semua orang baik atau jahat?” Sebagian besar dari ruminations ini tidak mengarah pada solusi atau kesimpulan tertentu sehingga penderita dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk memikirkan hal tersebut.
Berbeda dengan ruminations, OCD tipe intrusive thoughts merupakan pikiran yang tidak diinginkan dan mengganggu. Pikiran ini umumnya dialami secara tidak sengaja dan berlangsung berulang-ulang dan tidak dapat diselesaikan secara logis lalu menyebabkan kecemasan. Pikiran yang mengganggu penderita OCD dengan tipe ini dapat berkaitan dengan seksualitas, hubungan, agama, kekerasan, simetri, dan lain-lain.
Socconians, dari penjelasan di atas kita dapat memahami bahwa ternyata gejala OCD atau Gangguan Obsesif Kompulsif dapat dikelompokkan menjadi beberapa tipe yang berbeda. Jika kalian merasa memiliki gejala seperti penjelasan di atas, jangan ragu untuk meminta bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater, ya!
ReferensiPenulis: Ananta Nur Puspitasari
Editor-in-Chief: Kabrina Rian
Editor Medis: Gabriella Christina Sutanto, S. Psi.
Editor Tata Bahasa: Servita Ramadhianti dan Finda Rhosyana
Sumber Tulisan :
