• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Career
  • Login
18 Apr

Mengenal Toxic Parents, Ini Ciri-Ciri dan Dampaknya

by Erna Tresnawati

Hai, Socconians!

Apakah kamu pernah mendengar istilah toxic relationship?  Belakangan ini, topik mengenai hubungan yang tidak sehat sering dibahas di berbagai media, lho! Salah satu bentuknya adalah dalam hubungan keluarga, yaitu toxic parents.

Istilah toxic parents mengacu pada orang tua dengan pola pengasuhan yang membentuk kehidupan anak mereka dengan perilaku negatif dan berbagai bentuk kekerasan yang bisa membahayakan anak. Hal ini kontras dengan pola pengasuhan yang sehat, di mana orang tua dapat mencintai anak tanpa syarat serta mampu menciptakan batasan yang sesuai dalam perannya sebagai orang tua.

Perilaku orang tua yang toxic umumnya terjadi karena adanya ketegangan antara hubungan orang tua dan anak. Salah satu penyebab ketegangan ini adalah adanya ketidaksesuaian kebutuhan antara orang tua dan anak-anaknya. Fingerman (1996) menyebutkan bahwa dua hal yang dapat menimbulkan perpecahan ikatan orang tua dan anak adalah perbedaan persepsi mengenai kemandirian dan seberapa penting mereka memandang hubungan ini.

Orang tua yang berperilaku toxic terkadang tidak menyadari perilakunya.  Mereka bisa bersikap normal seperti orang tua lain pada umumnya, seperti memenuhi kebutuhan anak, tetapi di sisi lain mereka juga kerap menyakiti dan memaksakan kehendak pada anak. Toxic parents biasanya berasal dari keluarga yang disfungsional, seperti: keluarga dengan sejarah konflik yang berkepanjangan, orang tua dengan gangguan kesehatan mental, struktur keluarga yang tidak teratur, dan keluarga yang tidak memiliki kedekatan emosional.

Berikut ini cara mengenali toxic parents dan dampaknya jika masalah ini tidak diatasi.

Apa Saja Perilaku Orang Tua yang Termasuk dalam Kategori Toxic Parents?

  1. Kekerasan fisik dan verbal

Kekerasan tidak selalu mudah terlihat, seperti melalui pukulan, teriakan, ataupun ancaman. Terdapat juga bentuk kekerasan yang lebih halus, seperti selalu disalahkan, diabaikan, ataupun perilaku gaslighting. Umumnya, toxic parents sulit mengontrol emosi mereka sehingga mudah merasa marah, kasar secara verbal, atau melakukan perilaku destruktif lainnya.

  1. Sangat mengontrol

Semakin “beracun” seseorang, semakin mereka ingin mengendalikan segala sesuatu dan orang-orang di sekitarnya. Toxic parents dapat mengganggu privasi anak atau tidak mengizinkan anaknya membuat keputusan sendiri.

  1. Tidak memperlakukan anak dengan baik

Orang tua yang toxic umumnya gagal untuk memperlakukan anaknya dengan baik. Contohnya, orang tua tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar anak untuk dihormati. Terkadang, mereka juga melupakan hal-hal penting yang berkaitan dengan anak.

  1. Sering mempermalukan anak

Orang tua toxic kerap mengejek, merendahkan, memukul, memaki, atau meneriaki anak di depan orang lain. Hal ini dapat menyebabkan perasaan malu pada anak.

Bagaimana Dampak Toxic Parents terhadap Kondisi Kesehatan Mental Kita?

  1. Percaya diri rendah

Perilaku orang tua yang toxic dapat membuat anak kurang percaya diri karena orang tua yang selalu mengontrol anaknya secara berlebihan.

  1. Stres

oxic parent umumnya memiliki komunikasi yang kurang baik dengan anak, sehingga membuat anak merasa kurang nyaman untuk mengutarakan perasaannya. Hal ini dapat meningkatkan stres yang dialami anak yang dapat berujung pada depresi.

  1. Gangguan kecemasan

Anak-anak yang mengalami toxic parenting dalam waktu cukup lama lebih rentan mengalami gangguan kecemasan saat ia dewasa.

  1. Sistem kekebalan tubuh terganggu

Mengutip pernyataan psikolog Dr. Ramani Durvasula (Gina M. Florio: 2016), pertengkaran atau ketidaksepakatan terus-menerus yang terjadi dalam hubungan dekat dapat mengakibatkan melemahnya sistem kekebalan tubuh. Artinya, permusuhan yang sering terjadi antara toxic parents dan anak-anaknya dapat menyebabkan kerentanan terhadap berbagai penyakit.

  1. Risiko terkena gangguan jantung lebih besar

Hasil penelitian yang dirilis oleh The Journal of the American Heart Association  pada tahun 2014 menemukan bahwa pengalaman hidup yang penuh stres dan ketegangan sosial memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit arteri koroner. Hal ini tidak hanya berlaku bagi yang memiliki hubungan dengan toxic parents, tetapi juga segala jenis hubungan toxic.

Nah, Socconians sudah tahu kan beberapa ciri dan dampak dari toxic parents terhadap kesehatan mental? Jika keluargamu sesuai dengan ciri-ciri tersebut, yuk lakukan sesuatu atau cari bantuan untuk memperbaiki hubungan keluargamu!

Referensi

Penulis: Erna Tresnawati

Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi

Editor Medis: Gabriella Christina Sutanto, S.Psi.

Editor Tata Bahasa: Muhammad Ridwan dan Finda Rhosyana

Sumber Tulisan :

  1. Birditt, Kira S., Miller, Laura M., dkk. (2009). “Tensions in the Parent and Adult Child Relationship: Links to Solidarity and Ambivalence”. 24(2). 287-295. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2020 dari laman website https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2690709/.
  2. Fadli, Rizal.[Halodoc].(2020). “Toxic Parenting Pengaruhi Kesehatan Mental Anak?”. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2020 dari laman website https://www.halodoc.com/artikel/toxic-parenting-pengaruhi-kesehatan-mental-anak .
  3. Florio, Gina M. [Bustle]. (2016). “5 Ways Toxic Parents Affect Your Health”. Diakses pada tanggal 19 Oktober 2020 dari laman website https://www.bustle.com/articles/143740-5-ways-having-toxic-parents-affects-your-healthLCSW, Sherry G. [Psychology Today]. (2020). “5 Signs You are The Child of a Toxic Parent”. Diakses pada tanggal 19 Oktober 2020 dari laman website https://www.psychologytoday.com/us/blog/addiction-and-recovery/202003/4-signs-you-are-the-child-toxic-parent.
  4. Marcin, Ashley. {Health Line]. (2016). ““Understanding and Dealing with Toxic Parents and Co-Parents”. Diakses pada tanggal 19 Oktober 2020 dari laman website https://www.healthline.com/health/parenting/toxic-parents#What-can-you-do-when-dealing-with-a-toxic-parent.
  5. Rahmawati, Dina. [Sehatq]. (2020). ““Inilah Ciri-Ciri Toxic Parents, Jangan Sampai Melakukannya”. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2020 dari laman website https://www.sehatq.com/artikel/inilah-ciri-ciri-toxic-parents-jangan-sampai-anda-melakukannya.
  6. Ubaidi, Basem A.A. (2017). “Cost of Growing up in Dysfunctional Family”. Jurnal of Family Medicine and Disease Prevention. 3. 3. Diakses pada tanggal 19 Oktober 2020 dari laman website https://clinmedjournals.org/articles/jfmdp/journal-of-family-medicine-and-disease-prevention-jfmdp-3-059.php?jid=jfmdp

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.