
Halo, Socconians!
Bagaimana kabarnya? Semoga selalu sehat secara fisik dan rohani ya supaya bisa menjalankan aktivitas sehari-hari secara optimal. Nah, kali ini kita akan membahas tentang stuttering nih, Socconians. Mungkin sebagian besar dari kita masih awam dengan istilah stuttering, tetapi bisa saja orang di sekitar kita ada yang mengidap stuttering.
Mengenal Stuttering dan Penyebabnya
Stuttering atau gagap adalah gangguan kefasihan berbicara secara verbal yang biasanya ditunjukkan dengan pengulangan atau perpanjangan bunyi atau suku kata. Orang yang menderita gagap pada umumnya tidak bisa mengendalikan tutur bicaranya, sehingga kerap kali emosi negatif seperti perasaan takut dan kurang percaya diri menyergap mereka yang mengalami gagap.
Pembahasan mengenai penyebab stuttering sendiri masih banyak perdebatan, tetapi untuk simplifikasinya dapat dipahami melalui dua jenis gagap yang umumnya diderita, yakni developmental stuttering dan neurogenic stuttering. Pertama adalah developmental stuttering, tipe ini umumnya disebabkan karena ada faktor genetik dari keluarga. Tipe selanjutnya adalah neurogenic stuttering, tipe yang satu ini terjadi setelah seseorang mengalami penyakit stroke, trauma, atau luka pada kepala yang berpengaruh pada kinerja otak. Kerusakan yang dialami tersebut akan menyebabkan otak kesulitan untuk berkoordinasi dengan saraf otak lainnya sehingga menyebabkan kendala pada kemampuan bicara.
Social Anxiety pada Seseorang dengan Stuttering
Adanya kendala bagi seseorang dengan stuttering dalam berkomunikasi akan berimplikasi pada kemampuannya dalam bersosialisasi dan berpengaruh pada kepercayaan diri untuk berinteraksi dengan orang lain, ataupun percaya dengan kemampuan yang dimilikinya sendiri. Hal inilah yang lantas kerap kali menghubungkan social anxiety dengan stuttering. Social anxiety yang juga dikenal dengan istilah fobia sosial mengacu pada perilaku akan ketakutan yang intens pada aktivitas sosial atau situasi yang berhubungan dengan adanya pengawasan atau evaluasi dari orang lain. Beberapa bukti menunjukan bahwa social anxiety yang dialami oleh pengidap stuttering ini sendiri disebabkan oleh pengalaman bullying, teasing, dan perlakuan negatif lainnya yang dialami oleh pengidap stuttering pada usia belia. Gejala social anxiety bisa menjadi semakin parah selama masa sekolah karena masa itu cenderung melibatkan proses sosialisasi yang cukup intensif.
Kurang adanya penerimaan positif dari lingkungan lantas membuat anak dan remaja mendapat pengalaman kurang menyenangkan karena gagap yang dimilikinya, dan membuat mereka takut untuk bersosialisasi. Orang dewasa yang mengidap stuttering juga menunjukkan ketidaknyamanan ketika bersosialisasi. Mereka cenderung menghindari kontak mata dengan orang lain dan enggan untuk mengelak karena ada ketakutan untuk bicara.
Mengingat bagaimana pengidap gagap membutuhkan dukungan ekstra dalam bersosialisasi, ada baiknya kita bisa lebih aware
dan merangkul mereka yang mempunyai kondisi ini. Tidak mendiskriminasi atau mengecualikan mereka dalam kehidupan sosial, dan memberikan mereka waktu lebih untuk bisa beradaptasi dengan lingkungannya. Kita bisa memberi dukungan terbaik yang bisa kita lakukan untuk membuat mereka lebih percaya diri dalam bersosialisasi.
Penulis: Melisa Nirmala Dewi
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Keisha Alika Lie, BPsychSc
Editor Tata Bahasa: Servita Ramadhianti dan Finda Rhosyana
Sumber Tulisan :
