
Hi, Socconians!
Memiliki anak dengan Gangguan Obsesif Kompulsif atau OCD tentu menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Tidak jarang, orang tua menjadi takut dan bingung akibat perilaku anak yang tidak masuk akal. Sebagai orang tua, kamu dapat membantu anak dengan memahami OCD dan pengobatannya, serta mempelajari bagaimana mengenali dan menangani gejalanya
OCD adalah gangguan kesehatan mental yang disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia dalam otak. Hal ini menyebabkan anak memiliki obsesi, yaitu kecemasan atau ketakutan yang tak terkendali, dan diredakan dengan kompulsi berupa perilaku atau ritual repetitif. Akan tetapi, kompulsi hanya memberikan ketenangan sementara, sehingga siklus obsesi-kompulsi tersebut akan terulang lagi.
Lalu, apa saja yang harus dilakukan orang tua untuk membantu anak dengan perilaku seperti itu? Berikut adalah beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan orang tua.
Anak kamu mungkin merasa malu atau bingung dengan kecemasan yang mengganggu mereka, sehingga berusaha menyembunyikannya. Kamu harus peka dengan setiap perubahan kecil dalam perilakunya. Ingat! bahwa perubahan ini dapat terjadi secara perlahan, tetapi dapat menjadi sangat berbeda dibandingkan dengan perilaku mereka sebelumnya.
Bicarakanlah kepada anak kamu bahwa kamu memahami keadaan mereka serta bersedia membantu dan mendengar mereka. Jelaskan bahwa kecemasan dalam pikiran mereka ditimbulkan oleh OCD dan kondisi ini dapat diperbaiki dengan penanganan yang tepat.
Mengetahui informasi tentang OCD dapat membantu kamu memahami gejala dan kesulitan anak. Kamu dapat berkonsultasi dengan pakar kesehatan mental, seperti psikolog atau psikiater. Berbagai buku dan internet juga menyediakan banyak informasi, tetapi pilihlah sumber terpercaya yang ditulis atau ditinjau oleh pakar kesehatan mental.
Setiap perubahan, bahkan yang positif sekalipun, dapat membuat anak kamu merasa tertekan. Hal ini menyebabkan kompulsinya dapat meningkat dalam masa terapi atau pengobatan. Jangan memarahinya, tetapi nasehatilah dengan kata-kata yang mendukung.
Menilai perkembangan pengobatan harus dilakukan dengan melihat keseluruhan perubahan sejak pengobatan dilakukan. Perbandingan hari ke hari tidak dapat merepresentasikan perkembangan. Hal itu karena gejala OCD dapat kambuh pada waktu yang tidak dapat ditebak. Ingatkan anak kamu bahwa ada kesempatan lain untuk memperbaiki perilaku mereka.
Memuji dan mengakui keberhasilan kecil anak kamu dalam mengurangi perilaku repetitifnya dapat mendorongnya untuk terus mencoba.
Dedikasi dan komitmen orang tua sangat diperlukan untuk memastikan keberhasilan pengobatan pada anak. Carilah pakar kesehatan mental yang terpercaya. Temani anak saat terapi dan pastikan untuk menghadiri setiap sesi terapi. Taati anjuran obat yang diberikan. Catat perilaku anak kamu dan tanyakan kekhawatiranmu pada pakar kesehatan mental anak.
Hindari penjelasan masuk akal dan perdebatan panjang ketika anak kamu terus-menerus bertanya untuk meyakinkan diri, seperti, “Apakah saya telah mengunci pintu?” atau “Apakah saya telah mencuci dengan bersih?” Jawablah dengan singkat karena memang sulit bagi anak kamu untuk menoleransi ketidakpastian.
Jangan berusaha menghindarkan anak kamu dari hal-hal yang dapat memicu kecemasannya atau membiarkan anak kamu menuntut sesuai dengan obsesinya. Hal ini dapat memperburuk gejala OCD-nya. Menerapkan batasan dan negosiasi dengan anak dapat membantu mengatasi kecemasannya sendiri sambil mengingat kebutuhan keluarga.
Menangani anak dengan gangguan kesehatan mental dapat menguras tenaga, pikiran, dan emosi kamu, sehingga membuat kamu tertekan dan putus asa. Jaga kesehatan mental kamu dengan berkonsultasi dengan pakar kesehatan mental dan bertukar pikiran dengan orang tua yang mengalami hal yang serupa, serta membaca kisah sukses yang dapat memotivasi kamu.
Hal yang tak kalah penting Socconians, percayalah bahwa anak kamu dapat disembuhkan dengan penanganan yang tepat. Tetap optimis dan jangan menyerah dalam setiap upayamu, ya!
ReferensiPenulis: Kezia Stevanie Tanfriana
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Gabriella Christina Sutanto, S. Psi.
Editor Tata Bahasa: Servita Ramadhianti dan Finda Rhosyana
Sumber Tulisan :
