
Halo, Socconians!
Bagaimana kabarmu? Semoga kamu dan keluarga sehat selalu, ya. Kali ini, kita membahas topik yang sangat menarik, yaitu cara mengenali dan mencegah terjadinya tindakan bunuh diri (suicide) di sekitar kita.
WHO (2016) menyatakan Indonesia berada di peringkat keempat berdasarkan jumlah pelaku bunuh diri terbanyak di Asia.1 Data yang ditemukan di Indonesia menyatakan bahwa bunuh diri menjadi penyebab utama kedua kematian pada usia produktif 15–29 tahun. Rata-rata kematian karena bunuh diri di Indonesia terjadi pada satu orang setiap jamnya.2 Tentunya, hal ini dapat terjadi pada siapa saja, termasuk orang-orang di sekitar kita. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk bekerja sama dalam mengenali dan mencegah kasus bunuh diri yang ada di sekitar kita.
Faktor Risiko Suicide
Sebelumnya, apakah Socconians pernah mendengar berita mengenai orang-orang yang sepertinya terlihat bahagia tetapi berujung dengan mengakhiri hidupnya sendiri? Selain itu, apa kamu pernah mengutarakan kalimat-kalimat seperti, “Ya ampun, kok begitu saja sedihnya sampai berlebihan?” atau “Kamu tuh harusnya bersyukur karena masalahmu cuma seperti itu aja, banyak orang lain yang tidak seberuntung kamu lho!”? Nah, kita harus menyadari bahwa setiap orang itu memiliki kepribadian dan ketahanan mental yang berbeda-beda. Beberapa orang bisa saja memiliki kerentanan dan risiko melakukan bunuh diri **yang lebih besar daripada yang lainnya.
Berikut ini faktor risiko bunuh diri*.*3-6
**Tanda-Tanda Potensi Bunuh Diri pada Seseorang
Tanda-tanda bahwa seseorang dapat berpotensi melakukan bunuh diri **di kemudian hari antara lain sebagai berikut.1,4-8
Cara Mencegah Tindakan Bunuh Diri
Nah, pada tahap inilah kepekaan dan kepedulian terhadap orang sekitar menjadi modal bersama untuk mencegah tindakan **bunuh diri. Kita dapat memulainya dengan mencoba mengajak orang tersebut berbicara secara personal dan menjadi pendengar yang baik. Hal itu dilakukan dengan menghindari ungkapan-ungkapan menghakimi, serta menanyakan kondisi mereka secara berkala. Lalu, perlahan-lahan kita bisa mengarahkannya untuk mulai mencari bantuan kepada psikolog klinis atau psikiater terdekat. Hal yang tidak kalah penting juga adalah membatasi aksesnya baik pada senjata tajam, maupun zat-zat berbahaya yang ada di lingkungan orang tersebut atau mengingatkan orang lain yang tinggal bersama mereka untuk melakukan hal tersebut.1,4,9
Yuk, mari saling menjaga satu sama lain dengan peduli pada orang-orang di sekitar kita!
ReferensiPenulis: dr. Vania Rafelia
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi, Edward Christopher Yo
Editor Medis: dr. Vania Rafelia
Editor Tata Bahasa: Qotrun Nada Salsabila, Glaniz Izza
Sumber Tulisan
