
Apa kabar, Socconians?
Semoga saat ini sedang baik-baik saja, ya! Apa sih, kira-kira yang membuat kalian senang menjalani hidup? Mungkin, salah satu jawabannya adalah pasangan kalian, nih. Namun, tunggu dulu! Hubungan dengan pasangan juga dapat menjadi sumber toxicity, lho. Toxic relationship pun dapat mengarah ke kondisi yang membahayakan. Wah, bagaimana bisa? Yuk, periksa apakah hubungan kalian termasuk Abusive Relationship. Jika belum berpasangan, mari kenali supaya lebih waspada.
Abusive Relationship: Semua Harus Tentang Dia
Menurut Thomas L. Cory, Ph.D., suatu hubungan disebut toxic jika perilaku salah satu pihak dalam hubungan merugikan yang lainnya secara fisik, psikis, maupun emosional. Di dalam abusive relationship, seseorang diperlakukan seolah-olah derajatnya lebih rendah dan harus mengikuti kemauan, keinginan, dan kebutuhan pasangannya. Tindakan ini tentunya digolongkan toxic karena mengancam kesejahteraan salah satu pihak di dalam hubungan tersebut. Lalu, separah apa toxicity dalam abusive relationship ini?
Abusive relationship umumnya didasarkan dari ‘setiran’ salah satu orang dalam hubungan tersebut, bukan dari keputusan bersama-sama. Salah satu tandanya adalah ia berusaha menjadi yang paling berkuasa dalam hubungan dan berusaha melakukan berbagai hal untuk mengendalikan pasangannya. Perlu dipahami bahwa abuse bukanlah selalu menyangkut kekerasan karena suatu alasan, melainkan bagaimana seseorang secara tidak langsung terpaksa melakukan yang diinginkan pelakunya sambil meredupkan keinginannya untuk terbebas. Itulah sebabnya korban-korban abusive relationship terjerat dalam hubungan tidak sehat ini.
Fase-fase dalam abusive relationship adalah:
Selama hubungan berjalan, pelaku abusive relationship sering berganti antara bersikap abusive dan melakukan love-bombing pada saat-saat tidak menentu. Perilaku tersebut mengakibatkan pasangan termanipulasi hingga muncul perasaan bersalah saat tidak menuruti keinginannya. Akibatnya, hanya pasangannya saja yang berusaha dalam hubungan demi menyenangkan pelaku. Pasangan perlahan-lahan semakin tunduk dan kehilangan diri mereka hanya demi mempertahankan hubungan. Hubungan pun isinya hanya rasa takut. Tidak nyaman, bukan?
Dampak hubungan ini sangat fatal bagi kesejahteraan korbannya. Korban lebih rentan mengalami gangguan pola makan, luka-luka fisik, daya tahan tubuh yang rendah, serta berpotensi mengalami penyakit kelamin. Korban pun tidak terhindar dari masalah kesehatan mental, seperti gangguan depresi dengan tingkat parah, gangguan stres pascatrauma dari tingkat yang sedang hingga parah, hingga gangguan mood. Hal ini disebabkan karena perlakuan pasangan yang berulang dapat mengakibatkan trauma pada korban. Kondisi ini bisa semakin parah jika mereka mengatasi stres yang dialami dengan **kebiasaan tidak sehat, seperti penggunaan narkoba, alkohol, rokok, dan lalai dengan kesehatannya.
Bukan Hanya Kekerasan Fisik
Pada umumnya, abusive relationship didominasi dengan segala usaha untuk mengendalikan hidup pasangannya. Bentuk abuse yang dilakukan adalah:
Ingat, siapa pun bisa menjadi pelaku dan siapa pun bisa menjadi korban! Maka dari itu, Socconians, yuk
lebih bijak lagi memilih pasangan. Kalau kamu mengalami hal ini, jangan sungkan-sungkan ya untuk bercerita dengan orang yang kamu percaya dan mencari bantuan!
ReferensiPenulis: Stefani Amelinda
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Gabriella Christina Sutanto, S.Psi.
Editor Tata Bahasa: Dian Rotua Damanik dan Glaniz Izza
Sumber Tulisan :
