
Hai, Socconians!
Kamu tahu nggak, sih, kalau stres bukan hanya berasal dari situasi yang tidak menyenangkan? Situasi yang kita anggap menyenangkan pun bisa menyebabkan stres, lho. Contoh sederhana: hari pertama kerja. Sebagai pegawai baru di kantor, biasanya kita merasa terbebani oleh pemikiran kita sendiri dan khawatir akan hal-hal yang akan terjadi ketika berada di kantor, seperti cara adaptasi dengan rekan kerja baru dan ketakutan tidak sanggup menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Stres tentu menjadi penghambat untuk pengembangan diri, bukan? Untuk itu, manajemen stres dibutuhkan. Kali ini Social Connect akan membahas mengenai pengembangan diri, terutama bagaimana cara mengelola stres sebagai salah satu bentuk self-management. Percaya atau tidak, kita bisa memilih untuk tidak merasa stres, lho!
Manajemen stres dapat kamu mulai dari situasi yang dapat diubah. Cobalah strategi yang fokus untuk mencari solusi dari situasi yang membuat stres Jika kamu sedang bermasalah dengan rekan kerja, jagalah jarak terlebih dulu. Ketika kamu sudah merasa siap, selesaikan masalah dengan kepala dingin. Merasa kewalahan dengan banyaknya tugas yang harus kamu kerjakan? Belajarlah untuk berkata “tidak” dan kerjakan tugas berdasarkan prioritas satu demi satu.
Merasa sebal karena sering dijadikan bahan lelucon oleh temanmu? Mintalah mereka untuk berhenti dengan sopan dan kamu tentunya juga harus bersedia melakukan hal yang sama. Bagai kudis menjadi tokak, terkadang masalah yang kecil bisa menjadi besar jika tidak diselesaikan. Setidaknya, kamu bisa mencoba berjuang untuk dirimu sendiri. Walaupun tidak ada perubahan, it’s okay. Know your worth, kurangi berada di lingkungan yang menurutmu toxic dan bisa membuatmu stres.
Terkadang, pada situasi tertentu, tidak ada jalan lain selain menerimanya. Ini adalah salah satu bentuk manajemen stres untuk memanajemen diri. Akan tetapi, menerima keadaan bukan berarti apa yang kamu rasakan itu tidak penting dan kamu berhak mengabaikannya. Kamu bisa mulai untuk saling sharing dan terbuka dengan sahabat serta keluargamu. Dengan begitu, beban perasaanmu akibat stres bisa sedikit terangkat.
Socconians, belajar menerima masalah dalam hidup memiliki makna yang lebih dari itu. Semakin kamu beranjak dewasa, pasti ada saja permasalahan tentang hidup. Entah itu permasalahan pribadi, percintaan, keluarga, atau karir. Akan tetapi, kamu harus percaya bahwa ini adalah proses pengembangan diri. Cobalah memaafkan, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Memupuk rasa dendam atau marah dalam hati hanya akan berakibat buruk untuk kesehatan mental kita.
Untuk manajemen stres dengan beradaptasi, kita harus mengerti pentingnya attitude atau sikap kita dalam menghadapi masalah tersebut. Sikap kita dapat membantu untuk mengetahui seberapa stressful situasi itu dan cara untuk menghadapinya. Cara kita menyikapi stres juga dapat mempengaruhi tingkat stres yang kita rasakan. Hal ini juga merupakan bentuk manajemen diri, lho.
Kamu juga bisa mulai mempraktekkan positive self-talk dengan menyemangati dan menghibur dirimu sendiri, seperti, “Aku pasti bisa dan akan berusaha yang terbaik!” atau “Aku bangga sama diriku sendiri karena sudah mencoba!”. Pada akhirnya, dirimu sendiri lah yang bisa kamu andalkan dan mengetahui apa yang baik untukmu. Selain dapat mengurangi stres, ada beberapa manfaat lain dari positive self-talk, seperti meningkatkan kepuasan hidup, tingkat kesejahteraan, dan sistem imun tubuh.
Berada di suasana kerja atau belajar yang jenuh? Nyalakan musik favoritmu untuk membuatmu tenang. Musik merupakan alternatif yang sudah terbukti dapat memperbaiki, menopang, dan mengembalikan tingkat kesejahteraan manusia. Mendengarkan musik dapat memperbaiki mood-mu dan meredakan gejala gangguan kesehatan mental.
Socconians*,* semua ini bukan berarti kamu tidak menyelesaikan masalah dan justru menghindarinya, ya! Menghindar dari masalah hanya akan menambah perasaan cemas karena masalah tersebut tidak kunjung usai dan menghambat pengembangan diri. Tidak hanya merugikan dirimu sendiri, tetapi juga sekelilingmu karena memungkinkan terjadinya konflik yang tidak kunjung usai dan minimnya dukungan sosial yang bisa kamu dapat. Ini tentu tidak sehat untuk kesehatan mental dan pengembangan dirimu, bukan? Seberat apapun itu, kamu pasti bisa menemukan jawaban atas masalahmu. Semangat!
Penulis: Adrian Daniarsyah
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Fadilla M. Aulia, S.Psi
Editor Tata Bahasa: Muhammad Ridwan dan Hafiza Dina Islamy
Sumber Tulisan :
