• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Career
  • Login
18 Apr

Mengenal Neurogenic dan Psychogenic Stuttering

by Audrey Aulivia

Gagap atau dikenal pula dengan istilah stuttering merupakan masalah ketidaklancaran bicara dalam bentuk pengucapan kata maupun aliran kalimat yang dialami oleh anak-anak maupun dewasa. Gagap dapat disebabkan adanya gangguan pada otak, saraf, atau otot yang terlibat dalam kemampuan berbicara. Gagap dapat dialami oleh siapa saja, paling umum terjadi pada anak-anak yang berusia dua sampai lima tahun. Namun, terkadang gagap juga bisa dialami oleh anak di usia di atas lima tahun bahkan bisa bertahan sampai anak menjadi dewasa.

Socconians, kali ini akan dibahas mengenai jenis gagap berdasarkan penyebabnya. Terdapat dua jenis gagap yang bila tidak ditangani dengan cepat akan berakibat tidak baik pada penderita, yakni neurogenic stuttering dan psychogenic stuttering. Neurogenic stuttering disebabkan oleh kerusakan sistem saraf pusat (SSP, sinyal antara otak dan saraf dan otot bicara tidak berfungsi dengan baik). Sementara itu, psychogenic stuttering merupakan jenis gagap yang tergolong langka, penyebabnya adalah adanya trauma atau masalah dalam pemikiran atau penalaran. Gejala-gejalanya berbeda dari kedua jenis tersebut, berikut penjelasannya:

Penyebab Neurogenic Stuttering:

  1. Trauma di kepala.
  2. Insiden serebrovaskular (stroke).
  3. Serangan iskemik (penghentian sementara aliran darah ke otak).
  4. Kista, tumor, atau neoplasma lainnya.
  5. Ensefalitis, meningitis, AIDS atau sindrom Guillain-Barre.
  6. Penyakit degeneratif pada otak atau sistem saraf seperti Parkinson, ALS, atau Multiple Sclerosis.

Penyebab Psychogenic Stuttering:

  1. Depresi.
  2. Gangguan konversi.
  3. Respons emosional terhadap peristiwa yang traumatis.
  4. Kegelisahan.

Socconians, kenali yuk bagaimana kita dapat mengenal perbedaan karakter dari kedua jenis gagap tersebut!

Karakteristik yang membedakan neurogenic stuttering dengan bentuk gagap lainnya:

  1. Disfluensi atau ketidaklancaran terjadi pada kejadian yang sama dalam kata-kata substantif dan non-substantif.
  2. Pengulangan, perpanjangan, dan blok terjadi di semua posisi kata.
  3. Penderita merasa terganggu dengan ketidaklancaran berbicara, tetapi tidak menyebabkan kecemasan.
  4. Jarang terjadi gejala sekunder (wajah meringis, kepalan tangan, mata berkedip, atau gerakan tak sadar lainnya) pada penderita.
  5. Tidak adanya efek adaptasi atau tidak ada penurunan jumlah ketidaksempurnaan di seluruh pembacaan berturut-turut dari bagian yang sama.

Karakteristik yang membedakan psychogenic stuttering dengan bentuk gagap lainnya:

  1. Kegagapan psikogenik sangat mempengaruhi fonasi dan artikulasi.
  2. Adanya riwayat stres atau trauma psikologis sebelum gagap dimulai.
  3. Disfluensi atipikal (pengulangan suku kata yang ditekan dengan sedikit respons terhadap pembacaan suara atau white noise).
  4. Tidak ada perilaku sekunder, seperti menghindari atau melarikan diri.
  5. Adanya ketidakpedulian la belle (penderita yang mengalaminya tidak berubah atau tidak menyadari gagapnya).

Socconians,  gagap dapat ditangani melalui pengobatan yang  berbeda tergantung pada bentuk gagap yang diderita. Perawatan yang dapat diterapkan pada penderita neurogenic stuttering melalui cara Frequency Alered Auditory Feedback (FAF). Frequency Alered Auditory Feedback (FAF) adalah teknik yang menggunakan distorsi nada untuk menciptakan "perasaan" bahwa orang lain sedang mengucapkan sebuah perkataan kepada pembicara dengan suara lain. Cara kedua yang bisa dilakukan dengan menggunakan teknik Masking Auditory Feedback (MAF) adalah teknik non-farmasi lain yang menambahkan derau eksternal ke suara pembicara sehingga pembicara tidak dapat lagi mendengar suaranya. Sementara itu, pada psychogenic stuttering dianjurkan untuk melakukan teknik latihan pernapasan perut serta menerapkan strategi modifikasi ucapan, seperti mengubah waktu jeda antara pengucapan kata dengan suku kata.

Referensi

Penulis: Audrey Aulivia

Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi

Editor Medis: Fadilla M. Aulia, S.Psi

Editor Tata Bahasa: Iis Sahara dan Shinta

Sumber Tulisan :

  1. American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (fifth edition). Arlington, USA: American Psychiatric Publishing.
  2. Baumgartner, J., & Duffy, J. R. (1997). Psychogenic stuttering in adults with and without neurologic disease. Journal of Medical Speech-Language Pathology, 5(2), 75-95.
  3. De Nil, Wieringen, A.and Theys, C. (2008). A Clinician Survey of Speech and Non-Speech Characteristics of Neurogenic Stuttering. Journal of Fluency Disorder 33: 1-23. Elsevier.Inc
  4. Cruz,C. Hugo, A. and Beca, G, (2018). Neurogenic Stuttering: A review of the literature. Revista de neurologia 66(2):59-64. Researchget.net
  5. Gluck, S. (2014, May 21). What is Stuttering aka Childhood-Onset Fluency Disorder?, HealthyPlace. Retrieved on 2020, October 6 from https://www.healthyplace.com/neurodevelopmental-disorders/communication-disorders/what-is-stuttering-aka-childhood-onset-fluency-

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.