
Gagap atau dikenal pula dengan istilah stuttering merupakan masalah ketidaklancaran bicara dalam bentuk pengucapan kata maupun aliran kalimat yang dialami oleh anak-anak maupun dewasa. Gagap dapat disebabkan adanya gangguan pada otak, saraf, atau otot yang terlibat dalam kemampuan berbicara. Gagap dapat dialami oleh siapa saja, paling umum terjadi pada anak-anak yang berusia dua sampai lima tahun. Namun, terkadang gagap juga bisa dialami oleh anak di usia di atas lima tahun bahkan bisa bertahan sampai anak menjadi dewasa.
Socconians, kali ini akan dibahas mengenai jenis gagap berdasarkan penyebabnya. Terdapat dua jenis gagap yang bila tidak ditangani dengan cepat akan berakibat tidak baik pada penderita, yakni neurogenic stuttering dan psychogenic stuttering. Neurogenic stuttering disebabkan oleh kerusakan sistem saraf pusat (SSP, sinyal antara otak dan saraf dan otot bicara tidak berfungsi dengan baik). Sementara itu, psychogenic stuttering merupakan jenis gagap yang tergolong langka, penyebabnya adalah adanya trauma atau masalah dalam pemikiran atau penalaran. Gejala-gejalanya berbeda dari kedua jenis tersebut, berikut penjelasannya:
Penyebab Neurogenic Stuttering:
Penyebab Psychogenic Stuttering:
Socconians, kenali yuk bagaimana kita dapat mengenal perbedaan karakter dari kedua jenis gagap tersebut!
Karakteristik yang membedakan neurogenic stuttering dengan bentuk gagap lainnya:
Karakteristik yang membedakan psychogenic stuttering dengan bentuk gagap lainnya:
Socconians, gagap dapat ditangani melalui pengobatan yang berbeda tergantung pada bentuk gagap yang diderita. Perawatan yang dapat diterapkan pada penderita neurogenic stuttering melalui cara Frequency Alered Auditory Feedback (FAF). Frequency Alered Auditory Feedback (FAF) adalah teknik yang menggunakan distorsi nada untuk menciptakan "perasaan" bahwa orang lain sedang mengucapkan sebuah perkataan kepada pembicara dengan suara lain. Cara kedua yang bisa dilakukan dengan menggunakan teknik Masking Auditory Feedback (MAF) adalah teknik non-farmasi lain yang menambahkan derau eksternal ke suara pembicara sehingga pembicara tidak dapat lagi mendengar suaranya. Sementara itu, pada psychogenic stuttering dianjurkan untuk melakukan teknik latihan pernapasan perut serta menerapkan strategi modifikasi ucapan, seperti mengubah waktu jeda antara pengucapan kata dengan suku kata.
ReferensiPenulis: Audrey Aulivia
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Fadilla M. Aulia, S.Psi
Editor Tata Bahasa: Iis Sahara dan Shinta
Sumber Tulisan :
