• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Career
  • Login
18 Apr

Bagaimana Cara Membela Korban Bullying?

by Jysa Nursakinah

Halo, Socconians!

Apakah kamu pernah menyaksikan situasi bullying? Apakah kamu hanya menonton saja, membantu korban, atau malah mengabaikan kejadian tersebut? Ada banyak respons yang dapat muncul saat menjadi saksi bullying. Tentu saja, meneguhkan hati dan memutuskan untuk membela korban bullying bukanlah hal yang mudah. Bahkan ketika kamu telah memutuskan untuk membela, kamu mungkin akan kebingungan tentang tindakan apa yang paling tepat untuk dilakukan.

Saksi bullying cenderung menganggap bahwa situasi bullying adalah interaksi antara dua orang saja, yaitu pelaku dan korban. Hal ini menyebabkan saksi memutuskan untuk tidak ikut campur. Namun, tindakan saksi adalah hal yang sering kali menjadi faktor penting dalam situasi bullying. Saat menjadi saksi, penting untuk menyadari jika kamu tidak melakukan apa pun, maka secara tidak langsung kamu telah mengirim pesan kepada pelaku bahwa perilaku mereka dapat diterima. Jika hal tersebut bukan pesan yang tepat, kamu harus mulai bertindak menjadi upstander atau pembela.

Upstander diartikan sebagai saksi bullying yang membantu, sedangkan seorang upstander merupakan individu yang memandang bullying sebagai tindakan yang salah dan mengambil tindakan positif untuk memperbaikinya. Menjadi seorang upstander berarti berpindah dari perilaku diam menjadi tindakan nyata. Hal ini **merupakan faktor terpenting dalam penyelesaian masalah terkait bullying. Menurut Polanin, Espelage, dan Pigott dalam penelitiannya pada 2012, 80% situasi bullying melibatkan saksi di dalamnya. Ketika saksi tersebut menjadi upstander, maka ada lebih dari 50% peluang untuk menghentikan perilaku bullying. Jadi, dengan memberikan para saksi dorongan untuk turut berpartisipasi dalam membela korban merupakan intervensi yang efektif.

Keberanian merupakan hal terpenting untuk menjadi upstander. Akan tetapi, perubahan dari sekadar saksi menjadi upstander tidak mungkin terjadi dalam semalam. Diperlukan beberapa kualitas diri untuk dapat membela korban bullying. Socconians, berikut adalah kualitas diri untuk dapat menjadi upstander!

  • Berani

Memberanikan diri untuk berbicara pada pelaku adalah hal yang sulit. Mungkin saja mereka akan marah padamu karena menyela. Namun setidaknya kamu tidak akan merasa bersalah karena diam dan membiarkan bullying berlanjut.

  • Berorientasi pada tindakan

Menunjukkan perilaku yang tidak mendukung perilaku bullying dapat menjadi intervensi yang kecil dengan hasil luar biasa. Cukup dengan mengatakan, “Kamu melakukan bullying” saja dapat membantu orang lain sadar terkait masalah yang ada.

  • Asertif

Mengeluarkan pendapat secara jujur dan jelas kepada pelaku tentang bagaimana efek dari perilaku mereka pada dirimu dan orang lain akan sangat membantu.

  • Belas kasih

Menunjukkan rasa belas kasih pada pihak yang terluka kemudian mengambil langkah untuk membantu mereka.

  • Pemimpin

Pribadi pemimpin adalah seseorang yang mampu membela dan membantu korban bullying serta menjadi pemimpin dalam kelompok sosial.

Kemudian, jika kamu telah memiliki kualitas diri tersebut, hal yang perlu kamu lakukan saat menghadapi situasi bullying adalah:

  • Mengambil tindakan dengan menyuruh pelaku berhenti
  • Mengambil tindakan dengan mengajak orang lain untuk membantu melawan pelaku bullying
  • Mengambil tindakan dengan membantu korban
  • Mengambil tindakan dengan mengalihkan fokus pelaku dan memisahkan korban dari pelaku
  • Mengambil tindakan dengan memberi tahu pihak lain yang dapat membantu

Nah, setelah membaca artikel ini kamu sudah mengerti kan bagaimana cara membela korban bullying? Ingat, respons kamu sebagai saksi adalah hal yang sangat penting bagi korban. Jika kamu bukan bagian dari solusi, berarti kamu adalah bagian dari masalah itu sendiri. Socconians*,* yuk turut serta membantu membela korban bullying dengan menjadi upstander!

Referensi

  1. Tim Penulis
    • Jysa Nursakinah
  2. Tim Editor
    • Sulistia Ningsih
  3. Review Medis
    • Andreas Prasetyo Sianturi, S.Psi

    Sumber Tulisan :

    1. Barnett, J. E. Hart, Kim W. Fisher, Natasha O’Connell, & Kimberlee F. (2019). “Promoting upstander behavior to address bullying in schools”. Middle School Journal. Volume 50. Hlm. 6--11. Diakses dari laman Semantic Scholar pada tanggal 14 Juli 2020.
    2. Polanin, J., Dorothy L. E., & Therese D.P.. (2012). “A Meta-Analysis of School-Based Bullying Prevention Programs’ Effects on Bystander Intervention Behavior”. School Psychology Review. Volume 41. Hlm. 47--65. Diakses dari laman Researchgate pada tanggal 14 Juli 2020.
    3. Tim Penulis Bullyology. (2019). “Bullyology - The Vital Role of The Upstander in Bullying Prevention”. Diakses dari laman Bullyology pada tanggal 14 Juli 2020.
    4. Tim Penulis Stomp Out Bullying. (2020). “Bullying Bystanders... Become Upstanders”. Diakses dari laman Stomp Out Bullying pada tanggal 14 Juli 2020.
    5. Tim Penulis Together Against Bullying. (2020). “Becoming an Upstander”. Diakses dari laman Together Against Bullying pada tanggal 14 Juli 2020.

    Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

    © Social Connect 2019-2026 All rights reserved.