
Halo, Socconians!
Apakah kamu pernah menyaksikan situasi bullying? Apakah kamu hanya menonton saja, membantu korban, atau malah mengabaikan kejadian tersebut? Ada banyak respons yang dapat muncul saat menjadi saksi bullying. Tentu saja, meneguhkan hati dan memutuskan untuk membela korban bullying bukanlah hal yang mudah. Bahkan ketika kamu telah memutuskan untuk membela, kamu mungkin akan kebingungan tentang tindakan apa yang paling tepat untuk dilakukan.
Saksi bullying cenderung menganggap bahwa situasi bullying adalah interaksi antara dua orang saja, yaitu pelaku dan korban. Hal ini menyebabkan saksi memutuskan untuk tidak ikut campur. Namun, tindakan saksi adalah hal yang sering kali menjadi faktor penting dalam situasi bullying. Saat menjadi saksi, penting untuk menyadari jika kamu tidak melakukan apa pun, maka secara tidak langsung kamu telah mengirim pesan kepada pelaku bahwa perilaku mereka dapat diterima. Jika hal tersebut bukan pesan yang tepat, kamu harus mulai bertindak menjadi upstander atau pembela.
Upstander diartikan sebagai saksi bullying yang membantu, sedangkan seorang upstander merupakan individu yang memandang bullying sebagai tindakan yang salah dan mengambil tindakan positif untuk memperbaikinya. Menjadi seorang upstander berarti berpindah dari perilaku diam menjadi tindakan nyata. Hal ini **merupakan faktor terpenting dalam penyelesaian masalah terkait bullying. Menurut Polanin, Espelage, dan Pigott dalam penelitiannya pada 2012, 80% situasi bullying melibatkan saksi di dalamnya. Ketika saksi tersebut menjadi upstander, maka ada lebih dari 50% peluang untuk menghentikan perilaku bullying. Jadi, dengan memberikan para saksi dorongan untuk turut berpartisipasi dalam membela korban merupakan intervensi yang efektif.
Keberanian merupakan hal terpenting untuk menjadi upstander. Akan tetapi, perubahan dari sekadar saksi menjadi upstander tidak mungkin terjadi dalam semalam. Diperlukan beberapa kualitas diri untuk dapat membela korban bullying. Socconians, berikut adalah kualitas diri untuk dapat menjadi upstander!
Memberanikan diri untuk berbicara pada pelaku adalah hal yang sulit. Mungkin saja mereka akan marah padamu karena menyela. Namun setidaknya kamu tidak akan merasa bersalah karena diam dan membiarkan bullying berlanjut.
Menunjukkan perilaku yang tidak mendukung perilaku bullying dapat menjadi intervensi yang kecil dengan hasil luar biasa. Cukup dengan mengatakan, “Kamu melakukan bullying” saja dapat membantu orang lain sadar terkait masalah yang ada.
Mengeluarkan pendapat secara jujur dan jelas kepada pelaku tentang bagaimana efek dari perilaku mereka pada dirimu dan orang lain akan sangat membantu.
Menunjukkan rasa belas kasih pada pihak yang terluka kemudian mengambil langkah untuk membantu mereka.
Pribadi pemimpin adalah seseorang yang mampu membela dan membantu korban bullying serta menjadi pemimpin dalam kelompok sosial.
Kemudian, jika kamu telah memiliki kualitas diri tersebut, hal yang perlu kamu lakukan saat menghadapi situasi bullying adalah:
Nah, setelah membaca artikel ini kamu sudah mengerti kan bagaimana cara membela korban bullying? Ingat, respons kamu sebagai saksi adalah hal yang sangat penting bagi korban. Jika kamu bukan bagian dari solusi, berarti kamu adalah bagian dari masalah itu sendiri. Socconians*,* yuk turut serta membantu membela korban bullying dengan menjadi upstander!
ReferensiSumber Tulisan :
