
Hi, Socconians!
Topik yang satu ini sudah pernah dibahas sebelumnya oleh Social Connect, tetapi apakah kamu pernah mendengar tentang toxic culture saat online gaming? Aksi nge-game yang terkesan seru dan penuh tantangan ini ternyata memiliki budaya yang “beracun” ini juga, Socconians.
Pertengahan 2019 lalu, The New York Times memuat salah satu esai dari Annual Student Editorial Contest. Tony Xiao, murid berusia 15 tahun dan juga seorang gamer menyuarakan pendapatnya soal perilaku negatif ini. Namun*, toxic culture* yang dimaksud Xiao ternyata bukan menyoal konten-konten kekerasan di dalam game, tetapi lebih kepada cara interaksi yang cenderung rasis di sana.
Toxic Culture dalam Game Online
Tidak hanya perilaku rasis saat online gaming seperti yang disebutkan Tony Xiao yang dianggap toxic dalam game online. Perilaku lainnya seperti cyberbullying dan kecurangan untuk menang juga dianggap sebagai sesuatu yang toxic. Selain itu, seksisme juga dianggap sangat mengganggu dan negatif pengaruhnya **dalam online gaming.
Mengingat interaksi para pemain saat gaming berlangsung dengan perantara komputer dan jaringan internet, maka bentuk utama dari perilaku-perilaku toxic ini terlihat dari penggunaan bahasanya. Penggunaan bahasa melalui fitur obrolan teks atau audio yang dianggap toxic dapat berupa kalimat yang memojokkan, melecehkan, serta sengaja menjatuhkan mental atau menyerang pemain lain. Untuk kata-kata umpatan yang keluar karena refleks dan ditujukan untuk diri sendiri dianggap bukan bagian dari toxic culture yang dimaksud.
Interaksi antar pemain game yang kebanyakan bersifat anonim dianggap berkontribusi untuk menyebabkan konflik antar pemain. Perilaku buruk ini juga sering kali tidak disadari oleh individu yang bersangkutan, sehingga mempersulit terjalinnya komunikasi yang membangun dalam permainan. Komunikasi juga menjadi semakin sulit karena adanya kemungkinan pemain lain yang merasa terganggu dengan adanya perilaku ini.
Kaitannya dengan Kesehatan Mental
Dalam studi yang dilakukan oleh Martens, Shen, dan Iosup di tahun 2015, mereka menemukan bahwa tim yang mendekati kekalahan cenderung membuat suasana permainan menjadi lebih toxic. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya kata-kata yang menyemangati agar tim menuju kemenangan. Lingkungan game yang seharusnya bersifat sportif ini justru berubah jadi lingkungan dengan interaksi yang saling menjatuhkan. Hal inilah yang membuat toxic culture pada online game dapat memengaruhi kesehatan mental gamers sendiri. Perilaku yang destruktif ini dapat merusak interaksi dan relasi tim hingga menghambat perkembangan tim.
Dampak perilaku dan budaya yang “beracun” ini tidak hanya akan dirasakan oleh gamers yang mendapat perlakuan buruk. Individu yang melakukan hal-hal toxic tersebut juga dapat merasakan berbagai dampak, terutama pada kondisi kesehatan mental mereka. Bagi korban perilaku ini, dampak dapat dirasakan adalah terhambatnya perkembangan diri dalam **kemampuan **permainan. Sedangkan, pelaku toxic behaviour ini dapat merasakan turunnya kredibilitas mereka sebagai pemain dan mengalami kemunduran dalam pola permainan, khususnya dalam permainan yang membutuhkan kerja sama. Dampak lainnya adalah pelaku lama-kelamaan tidak dapat mengenali dan mengatasi perilaku buruknya itu sendiri.
Cara Menghadapi Toxic Culture saat Bermain Game
Berbicara tentang toxic culture, perlu diingat bahwa yang “beracun” itu bukan orangnya, tetapi perilakunya. Untuk menghadapi perilaku-perilaku buruk ini saat bermain game, berikut ini adalah beberapa cara yang bisa Socconians coba, yaitu:
1. Prioritaskan kesehatan mental
Saat menghadapi seseorang dengan perilaku toxic, kamu dapat merasa rendah, tertekan secara emosional, marah, sampai merasa bingung untuk mengambil keputusan. Namun, kamu perlu ingat untuk memprioritaskan perasaan dan kesehatan mentalmu. Jika ada perilaku orang lain yang membuatmu merasa buruk terhadap dirimu sendiri, kamu boleh mempertimbangkan untuk keluar dari situasi tersebut.
2. Buat batasan-batasan dalam interaksi
Batasan ini dapat membantumu agar tidak terpengaruh dengan perilaku toxic. Tentukan hal-hal apa saja yang dapat dan tidak dapat kamu toleransi. Jika kamu diajak untuk melakukan sesuatu yang tidak kamu setujui, kamu berhak untuk menyatakan penolakan.
3. Coba membicarakan perilaku toxic tersebut
Hindari merespons langsung perilaku toxic. Cari waktu yang kondusif, contohnya setelah permainan berakhir. Sampaikan dengan baik dan sopan dan menggunakan “I statements” untuk menghindari kesan menuduh pelaku. Misalnya, kamu bisa coba mengatakan, “Aku merasa tidak nyaman saat kamu berkata kasar padaku,” jika kamu menerima kata-kata yang kurang pantas dari temanmu di game online.
Ingat, Socconians, lingkungan serta interaksi yang toxic juga dapat berkontribusi pada berkembangnya gangguan kesehatan mental. Salah satu langkah menjaga dirimu dari risiko gangguan kesehatan mental adalah dengan berupaya menciptakan lingkungan interaksi yang lebih sehat, termasuk saat bermain game online.
Penulis: Jeliana Gabrella Seilatuw
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Gabriella Christina Sutanto, S.Psi.
Editor Tata Bahasa: Dian Rotua Damanik dan Finda Rhosyana
Sumber Tulisan :
