
Halo, Socconians!
Apakah kamu sering mendengar istilah perilaku antisosial atau mengenal orang yang sering disebut ansos? Atau mungkin, kamu mendiagnosis diri sendiri sebagai orang yang antisosial? Eits jangan salah, istilah ini ternyata sering disalahgunakan, loh. Nah, kali ini Social Connect akan menjelaskan seputar fenomena gangguan kepribadian antisosial secara umum serta kasusnya di kalangan remaja. Daripada salah berasumsi, yuk kenali terlebih dahulu penjelasan ilmiahnya di bawah ini!
Seperti namanya, Anti-Social Personality Disorder (ASPD/APD) merupakan suatu gangguan kepribadian yaitu penderitanya memiliki pola perilaku mengabaikan norma dan melanggar hak orang lain. Orang dengan kepribadian ini cenderung memiliki rasa empati dan rasa bersalah yang minim atau bahkan tidak sama sekali terhadap orang lain, serta berperilaku manipulatif, agresif, dan impulsif. Beberapa contoh perilaku negatif dari penderitanya ialah sering berbohong atau menipu, memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi, gagal dalam menjalankan tugas sehari-hari, melakukan kekerasan, menyalahgunakan narkoba, serta perilaku melanggar hukum dan tidak bertanggung jawab lainnya.
Fenomena Antisosial di Kalangan Remaja
Studi menunjukkan bahwa gangguan kesehatan mental ini banyak dialami oleh pria, yakni 70% lebih tinggi dibandingkan wanita. Diperkirakan, 3% dari populasi pria dan 1% dari populasi wanita mengidap gangguan ini. Namun, tahukah Socconians bahwa puncak kritis perilaku antisosial cenderung terjadi pada masa remaja? Yup, studi menunjukkan bahwa perilaku antisosial ini mulai terbentuk dan berkembang sejak dini, yakni pada usia remaja antara 8—15 tahun. Masa ini merupakan masa yang paling rentan akan munculnya perilaku-perilaku antisosial yang kemudian terbentuk menjadi karakter tetap. Seseorang dapat didiagnosis sebagai penderita setelah berusia 18 tahun, jika ia menunjukkan tanda-tanda di atas sejak usia remaja.
Tak hanya itu, ditemukan bahwa terdapat hubungan antara usia awal terbentuknya perilaku antisosial dengan tingkat keparahannya. Orang dewasa dengan perilaku antisosial yang telah terbentuk sejak awal tahap perkembangan diri (saat masa remaja) cenderung memiliki tingkat keparahan yang lebih tinggi dibanding mereka yang baru mengalaminya di masa dewasa. Hal ini terjadi karena telah terbentuknya pola perilaku yang konsisten sedari kecil yang sulit untuk diubah. Dengan kata lain, remaja yang terus tumbuh menjadi pribadi antisosial cenderung menjadi lebih parah dan susah untuk diperbaiki saat dewasa.
Penyebab pasti dari gangguan kesehatan mental ini masih menjadi perdebatan. Namun, faktor lingkungan serta genetik diduga kuat memiliki peran penting dalam pembentukan perilaku antisosial. Studi genetika menunjukkan orang tua yang menunjukkan karakteristik antisosial akan menurunkan sifatnya pada anaknya dan diperkuat dengan pengasuhan yang negatif (penuh kekerasan, komunikasi yang buruk, dan pengalaman negatif lainnya).
Kemudian, studi tentang faktor lingkungan menunjukkan bahwa peran sosio-ekonomi, seperti keadaan keluarga dan lingkungan rumah yang buruk, kesulitan ekonomi, serta trauma dan cedera yang dialami anak merupakan faktor-faktor kuat yang memengaruhi pola pikir serta persepsi anak dalam mengambil keputusan. Dalam keadaan tertekan, anak yang belum matang secara psikologis dan emosional menjadikan kegiatan-kegiatan negatif sebagai “pelarian” atau bahkan cara menyelesaikan masalah, yang kemudian terbentuk menjadi karakter selama masa pertumbuhannya.
Berdasarkan penelitian, gangguan kesehatan mental di kalangan remaja ini cenderung berpengaruh terhadap pola hidup. Dampak dari perilaku-perilaku negatif di atas cenderung dirasakan setelah orang tersebut dewasa, khususnya dalam bidang kesehatan, pekerjaan, maupun sosial. Orang yang tumbuh dengan kepribadian antisosial cenderung menjadi pecandu alkohol atau narkoba, pelanggar hukum, tidak stabil secara ekonomi dan emosional, dan sebagainya. Tingginya angka kematian yang disebabkan alkohol dan narkoba, kegiatan kriminal dan berbahaya, hingga kehidupan narapidana yang “keras” di dalam penjara menunjukkan adanya dampak berlanjut yang disebabkan gangguan kepribadian antisosial, baik secara langsung maupun tidak.
Nah, sekarang Socconians
sudah lebih mengerti tentang fenomena antisosial pada remaja, kan? Dapat disimpulkan bahwa anti sosial merupakan perilaku yang merugikan lingkungan sosial seseorang, dan bukan dalam artian “menghindari” aktivitas sosial. Namun, perlu diingat bahwa untuk mendeteksi dan mendiagnosis seseorang sebagai antisosial ini perlu pemeriksaan khusus dari ahli kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater. Oleh karena itu, ada baiknya untuk kita waspada namun tetap berkonsultasi pada dokter ahli sebelum berani berasumsi ya, Socconians!
ReferensiPenulis: Naletha Pangemanan
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Fadilla M. Aulia, S.Psi
Editor Tata Bahasa: Iis Sahara dan Zimi
Sumber Tulisan :
