
Hi, Socconians!
Mungkin masih sedikit dari kamu yang paham OCD sebagai salah satu gangguan kesehatan mental. Obsessive-compulsive disorder atau OCD merupakan gangguan mental yang menyebabkan munculnya berbagai pemikiran dan gambaran mental yang tidak diinginkan secara terus-menerus (obsesi). Pemikiran ini akan menimbulkan kecemasan pada penderita OCD. Obsesi ini juga mendorong penderita untuk melakukan sesuatu secara berulang (kompulsif) untuk mengurangi kecemasan yang dialami dan mendapat ketenangan. Namun, rasa tenang yang dirasakan ini hanya bertahan sementara, sebelum siklus obsesi dan kompulsif ini terulang lagi. Contohnya ketika seseorang memiliki ketakutan terpapar virus atau penyakit sehingga sering mencuci tangannya secara terus-menerus. Lalu apa saja gejala dari OCD yang harus Socconians ketahui?
Gejala dari OCD dibagi menjadi gejala perilaku obsesif dan gejala perilaku kompulsif. Berikut adalah beberapa contoh dari gejala-gejala tersebut.
Setelah mengetahui beberapa gejala dari OCD, selanjutnya kita akan membahas apa saja pengobatan yang bisa dilakukan untuk penderita OCD:
Cognitive behavioral therapy atau CBT merupakan salah satu jenis terapi psikologis yang dapat mengurangi gejala OCD pada penderita. Tujuan dari terapi ini untuk mengubah pemikiran atau keyakinan yang negatif. Salah satu metode dalam terapi ini disebut exposure and response prevention (ERP). Pasien secara bertahap akan menghadapi hal yang menimbulkan kecemasan, berkaitan dengan obsesi penderita OCD tersebut. Contohnya ketika pasien mengalami kecemasan atau ketakutan berlebih terhadap debu dan tanah, maka ia akan secara berulang mendapatkan paparan dari dua hal tersebut, beriringan dengan mempelajari cara untuk menghadapi ketakutannya.
Dalam terapi ini, penderita OCD berada pada situasi yang memicu pemikiran atau obsesi yang berulang sehingga menimbulkan kecemasan. Akan tetapi, dalam terapi ini pasien dicegah untuk melakukan hal yang biasanya dilakukan untuk mengatasi perasaan tersebut. Jika pasien bisa melakukannya dan hal ini membuktikan bahwa sebenarnya tidak ada sesuatu hal buruk yang terjadi setelahnya, ini bisa membantu untuk mengubah keyakinan pasien bahwa kecemasan mereka dapat diturunkan.
Gejala OCD juga dapat meliputi gangguan kecemasan, khususnya bagian dari perilaku obsesif penderita. Oleh karena itu, mengendalikan kecemasan dapat membantu mengurangi gejala OCD yang dialami.
Menyadari bahwa ada hal-hal dalam pikiran yang hanyalah sebuah perilaku obsesif dan tidak semua hal yang kamu pikirkan maka harus dilakukan.
Perasaan tertekan (stres) dan OCD merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan. Ada beberapa cara untuk mengurangi stres. Kita bisa melakukan hal seperti, tidur yang cukup, meditasi, makan makanan sehat, dan olahraga.
Melalui artikel ini, kita belajar bahwa OCD merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan adanya tindakan obsesif dan kompulsif yang berulang. Hal yang dapat Socconians lakukan untuk mengurangi gejala OCD adalah dengan melakukan aktivitas untuk mengurangi pikiran negatif. Kemudian menyadari bahwa tidak semua hal dalam pikiran kita harus dilakukan sehingga kita bisa belajar mengontrol obsesi tersebut. Jika kamu tertarik dengan isu gangguan kesehatan mental, jangan lupa untuk melihat artikel lainnya di website Social Connect.
ReferensiPenulis: M. Iqbal Fachrul Rozy
Editor-in-Chief: Kabrina Rina
Editor Medis: Gabriella Christina Sutanto, S. Psi.
Editor Tata Bahasa: Servita Ramadhianti dan Finda Rhosyana
Sumber Tulisan :
