• Home
  • Article
  • News
  • Partnership
  • Career
  • Login
12 Feb

Kenali ADHD pada Anak: Nakal atau Mengidap ADHD?

by dr. Yuri Fitri Budiman

Hai, Socconians!

Pernahkah Anda mendengar keluh kesah para ibu seperti, “Aduh, nakal sekali, sih!” atau, “Ya ampun, tidak bisa diatur kamu, ya!”? Nah, pada artikel ini Social Connect akan membahas perbedaan anak 'nakal' dengan anak pengidap attention deficit hyperactivity disorder  (ADHD). Mari kenali ADHD bersama, yuk!

Mengenal ADHD

ADHD adalah suatu gangguan perilaku yang biasanya timbul sejak masa kanak-kanak, ditandai dengan kurangnya perhatian atau inatentif, hiperaktif, dan impulsif. Pada sebagian besar kasus, gejala ADHD pertama kali ditemukan pada usia kurang dari 12 tahun. Terdapat tiga jenis ADHD pada anak, yaitu dominan inatentif, dominan hiperaktif-impulsif, dan kombinasi keduanya.1,2

Ciri-Ciri Tipe ADHD pada Anak

  1. Tipe dominan inatentif:2,3,4,5

  2. Kesulitan memusatkan perhatian saat beraktivitas;

  3. Sering melakukan kesalahan yang ceroboh dan kehilangan barang miliknya;

  4. Kesulitan dalam mengikuti instruksi dan menyelesaikan tugas;

  5. Bersikap acuh tak acuh ketika diajak berbicara.

  6. Tipe dominan hiperaktif-impulsif:2,3,4,5

  7. Terlihat gelisah dan tidak dapat duduk diam dalam waktu lama;

  8. Tidak dapat berkonsentrasi pada tugas;

  9. Tidak dapat menunggu giliran;

  10. Bersikap sangat aktif dengan tak henti berlari dan meloncat;

  11. Mengganggu orang lain seperti merebut barang teman dan memotong jalannya permainan.

  12. Tipe campuran: 2,3,4,5

Gabungan gejala antara tipe dominan inatentif dengan hiperaktif-impulsif yang menimbulkan gangguan pada fungsi dan aktivitas sehari-hari anak.

Penyebab ADHD

Penyebab dari ADHD dapat dibedakan menjadi faktor biologis, seperti genetik dan terganggunya keseimbangan senyawa kimia di otak, dan faktor lingkungan, seperti keadaan sosio-ekonomi dan hubungan dalam keluarga. Untuk menetapkan diagnosis ADHD pada anak tidaklah mudah. Oleh sebab itu, keterlibatan orang tua atau guru dalam memantau perilaku anak dan mendeteksi dini adanya gejala ADHD baik di lingkungan rumah maupun sekolah sangatlah diperlukan. Munculnya gejala pada anak usia di bawah 12 tahun semakin memperkuat kemungkinan diagnosis ADHD pada anak. Adapun terapi yang dapat diberikan pada anak dengan ADHD bertujuan untuk meminimalkan gangguan perilaku di masa dewasa. Terapi yang diberikan oleh psikiater dapat berupa pemberian obat dan psikoterapi tergantung dari gejala yang dominan.7

Dampak ADHD

Jika tidak segera ditangani, kondisi ADHD tentu dapat menimbulkan masalah. Tidak hanya pada kehidupan anak, tetapi masalah juga dapat timbul pada kehidupan keluarga. Beberapa dampak yang timbul dapat berupa interaksi sosial yang buruk dengan teman sebayanya, prestasi anak yang rendah, kelelahan orang tua, dan bahkan kondisi tersebut dapat berlanjut hingga dewasa.6

Anak dengan ADHD bukan berarti sulit diatur atau nakal dan bermasalah. Mereka juga berusaha keras untuk mengatasi kondisi tersebut setiap harinya. Coba bayangkan jika kita mengalami ADHD, kita berada di suatu tempat dengan banyak orang yang sedang berbicara dan menyampaikan informasi penting secara bersamaan. Kita tentunya akan berusaha fokus untuk mendapatkan informasi tersebut. Namun, karena informasi tersebut disampaikan bersamaan, justru hanya suara bisinglah yang kita dengar. Skenario yang melelahkan ini merupakan hal yang dialami anak dengan ADHD setiap harinya. Memberi hukuman atas tindakan mereka sehari-hari tidak akan membuat kondisi mereka menjadi lebih baik, justru malah memperburuknya.8

Jadi, penting sekali bagi Socconians untuk mengenal gejala ADHD pada anak sejak dini agar mereka dapat segera mendapatkan terapi yang tepat, sehingga gejala ADHD yang berkelanjutan hingga dewasa dapat diminimalkan.

Referensi

Penulis: dr. Yuri Fitri Budiman

Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi, Edward Christopher Yo

Editor Medis: dr. Yuri Fitri Budiman

Editor Tata Bahasa: Fadhila Nisya, Hafiza Dina Islamy

Sumber Tulisan

  1. ADDitude. 2020. “What Does It Feel Like To Have ADHD?”. Diaskes pada tanggal 27 November 2020 dari situs web https://www.additudemag.com/what-does-it-feel-like-to-have-adhd.
  2. Arlington, VA. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition.Washington: American Psychiatric Association.
  3. Barkley, R. (2015). Attention-Deficit Hyperactivity Disorder. 4th ed. London: The Guilford Press.
  4. Biederman, J. (2005). Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder: A Selective Overview. Biological Psychiatry. 57(11), pp.1215-1220.
  5. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Attention-Deficit / Hyperactivity Disorder (ADHD. Diaskes pada tanggal 27 November 2020 dari situs web https://www.cdc.gov/ncbddd/adhd/index.html
  6. Lingineni, R., Biswas, S., Ahmad, N., Jackson, B., Bae, S. and Singh, K., 2012. Factors associated with attention deficit/hyperactivity disorder among US children: Results from a national survey. BMC Pediatrics, 12(1).
  7. NHS. 2020. “Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) – Symptoms”. Diaskes pada tanggal 27 November 2020 dari situs web https://www.nhs.uk/conditions/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd/symptoms.
  8. Swanson, J., Volkow, N., Newcorn, J., Casey, B., Moyzis, R., Grandy, D. and Posner, M. (2006). Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Encyclopedia of Cognitive Science.

Get to know us at please send email to halo@socialconnect.id

© Social Connect 2019-2026 All rights reserved.