
Hi, Socconians!
Kali ini Social Connect akan membahas tentang Toxic Relationship. Bagi kamu semua yang belum tahu dan bertanya-tanya apa sih toxic relationship itu dan bagaimana cara mengenalinya? Tenang saja, berikut ini kita akan bahas sedikit tentang penjelasan, cara mengenalinya, serta cara move on dari toxic relationship itu sendiri!
Sederhananya, toxic relationship atau biasa dikenal hubungan “beracun” **merupakan sebuah bentuk hubungan yang tidak sehat. Hubungan yang dimaksud di sini pun tidak terbatas pada hubungan romantis saja, namun juga mencakup hubungan pertemanan, kekeluargaan dan masih banyak lagi. Kebanyakan orang mungkin tidak menyadari bahwa mereka sedang menjalani sebuah hubungan yang bisa dikatakan sebagai toxic. Bahkan, mungkin saja saat ini kamu sedang menjalin hubungan dengan seseorang—baik itu pacar, teman, suami, atau istri—dan kamu merasa tidak nyaman namun kamu tidak yakin apakah hal itu termasuk hubungan yang toxic atau bukan. Sebuah hubungan toxic dapat mengakibatkan berbagai dampak yang negatif bagi kesehatan mental kamu lho, maka dari itu alangkah baiknya jika mulai saat ini kamu bisa mengenali tanda-tandanya seperti berikut ini.
Jika kamu sering merasa bahwa setiap tindakan dan ucapanmu seakan-akan dikendalikan oleh pasanganmu, misalnya kamu tidak boleh berteman dengan teman A karena suatu alasan, selalu bertanya-tanya tentang kegiatanmu setiap waktu, membuatmu merasa bersalah jika apa yang dia katakan atau inginkan tidak kamu turuti, maka sangat besar kemungkinannya bahwa hubunganmu itu toxic.
Terjalinnya komunikasi yang baik dalam suatu hubungan itu memang penting. Selain untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman, juga sebagai penanda sebuah hubungan yang sehat karena adanya rasa saling percaya. Sebuah hubungan dapat dikatakan toxic apabila komunikasi antara kedua pasangan itu kurang atau tidak terjalin dengan baik. Misalnya, dalam hubunganmu saat ini kamu sering merasa dibohongi dan dicaci-maki oleh pasanganmu atau mungkin pasanganmu sering mengkritik segala tingkah lakumu secara berlebihan.
Nah, sekarang kita akan berpindah ke topik cara move on dari toxic relationship. Semoga pembahasan berikut ini dapat membantu kamu semua dalam memutuskan langkah terbaik yang bisa kamu ambil selanjutnya. Yuk, langsung saja kita simak pembahasannya!
Terjebak dalam toxic relationship dapat menyebabkan berbagai dampak negatif bagi kamu serta kesehatan mentalmu. Kamu perlu menanyakan pada diri kamu sendiri apakah hubungan toxic yang kamu jalin dengan pasanganmu saat ini memang benar-benar worth it. Memutuskan sebuah hubungan memang tidaklah mudah. Namun, jika dalam hubungan tersebut kamu sering merasa tersiksa, gelisah, depresi dan juga stres, mungkin sudah saatnya bagi kamu untuk mengakhiri saja hubungan tersebut. Ingatlah bahwa salah satu hal terpenting dalam hidup ini ialah kamu harus mencintai serta merawat diri kamu sebaik mungkin! Jangan mengorbankan kebahagiaan sendiri demi sebuah hubungan yang toxic.
Berbagai dampak emosional yang kamu rasakan setelah memutuskan untuk keluar dari toxic relationship mungkin membuatmu bertanya-tanya tentang apa yang harus kamu lakukan selanjutnya. Satu hal simpel yang dapat kamu lakukan adalah mencoba meluangkan waktu sejenak untuk menenangkan tubuh serta pikiran kamu dan janganlah tergesa-gesa untuk memulai hubungan baru. Mulailah membenahi diri sendiri dengan cara melakukan refleksi tentang segala yang telah terjadi di hidupmu.
Dalam artikel kali ini kita sudah membahas sedikit mengenai toxic relationship yang semoga dapat membantu Socconians dan memperluas pengetahuanmu mengenai topik ini. Seperti biasa, jangan pernah merasa takut untuk mulai mencari bantuan, baik itu kepada orang-orang di sekitarmu atau kepada ahlinya, jika kamu merasa terjebak dalam toxic relationship atau masalah gangguan kesehatan mental lainnya. Untuk diskusi selengkapnya mengenai topik-topik kesehatan mental, yuk kunjungi website Social Connect!
ReferensiPenulis: Alif Noer Utama
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Sherly Deftia A. S.Ked
Editor Tata Bahasa: Indah Riadiani dan Sulistia Ningsih
Sumber Tulisan
