
Halo, Socconians!
Setiap hari kita akan menghadapi dinamika aktivitas yang bisa memengaruhi banyak hal, termasuk emosi dan kemampuan pengendalian diri. Namun, tahukah? Ternyata kemampuan dalam pengendalian diri ini juga akan dapat berdampak pada self-development kita, loh.
Kemampuan mengontrol diri atau self-control merupakan kemampuan untuk mengendalikan tindakan impulsif dari dalam diri dengan bertanggung jawab, serta mampu mengatur emosi. Pengendalian diri yang baik ditemukan berdampak positif dan mampu membawa individu untuk mencapai target atau tujuan yang telah direncanakan.
Tidak hanya berkaitan dengan pencapaian target, self-control juga memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan kita. Misalnya, dalam lingkup hubungan pertemanan. Self-control menjadi penting karena individu yang memiliki kemampuan pengendalian diri yang baik dapat lebih mampu mengatur emosinya ketika berhubungan dengan orang lain. Hal ini membuat mereka cenderung mengambil keputusan dengan tidak gegabah yang bisa berpengaruh buruk.
Apa yang dapat kamu lakukan untuk melatih self-control agar mampu menumbuhkan self-development yang lebih baik? Setidaknya ada lima cara yang dapat kamu lakukan untuk melatih self-control. Simak penjelasannya di bawah ini, yuk!
Hal yang dapat kamu susun adalah tujuan atau goals dalam melakukan aktivitas hingga target tahunan. Tujuan dan target inilah yang akan membimbing individu untuk bisa mengatur dan mengendalikan *self-control-*nya. Namun, tujuan yang direncanakan juga sebaiknya dipikir dengan spesifik, sehingga lebih terukur dan terarah. Contohnya, daripada membuat target menjadi kaya, kamu bisa membuat target yang mendorong diri untuk bisa mengontrol diri, **misalnya dengan menyisihkan uang Rp10.000 setiap hari. Kamu juga bisa menerapkan konsep S.M.A.R.T, yakni Specific, Measurable, Attainable, Realistic, Time-based untuk memudahkan penetapan tujuan yang smart.
2. Self-Monitoring
Setelah tujuan tersusun dengan baik, kamu juga perlu untuk terus memantau diri atau self-monitoring. Ketika kita bisa memantau diri sendiri, artinya kita juga memantau kemajuan atau kemunduran dari tujuan yang ingin dicapai. Apa pun tujuan yang direncanakan, kemauan keras dan pengendalian yang baik setiap harinya akan menumbuhkan kebiasaan baik untuk self-development kamu.
3. Hindari Godaan
Godaan mungkin menjadi salah satu hal yang akan sangat berat ketika kita sedang melatih kontrol diri kita, karena biasanya timbul dari faktor eksternal. Namun, hal ini dapat menuntut kita untuk lebih tegas pada tujuan yang sudah direncanakan sejak awal. Kamu bisa menghindari godaan ini dengan fokus pada tujuan awal, menghindari pemicu yang menggoda, atau mengingatkan diri sendiri dengan risiko dan konsekuensi yang terjadi.
4. Pola Pikir “Mengapa” dan “Bagaimana”
Selanjutnya adalah mengubah pola pikir dengan “mengapa” dan “bagaimana”. Tanpa dipungkiri, mungkin akan ada banyak hal tidak terduga yang dapat menggoyahkan self-control kita. Jika hal tersebut terjadi, kamu bisa membentuk pola pikir “mengapa” dan “bagaimana”. Pola pikir yang diawali pertanyaan “mengapa” akan mendorong pemikiran jangka panjang, sedangkan pertanyaan “bagaimana” akan mengajak pemikiran untuk berpikir masa sekarang. Contohnya, mengapa, ya, aku harus mengontrol emosiku? Bagaimana, ya, cara aku untuk lebih baik mengatur pola tidurku?
5. Bulatkan Tekad
Hal lain yang harus kamu lakukan adalah membulatkan tekad. Yakin dan percaya kalau kamu bisa mencapai target yang telah disusun. Tekad yang bulat juga bisa menghindari godaan selama kita melatih self-control. **Semua hal baik dimulai dari sendiri dan tekad yang menggerakkan semuanya!
Walau terlihat sepele dan mungkin sudah cukup sering kita lakukan, nyatanya melatih self-control memang menjadi latihan panjang yang tidak akan selesai sepanjang hidup ya, Socconians. Yuk, secara perlahan tetapi rutin, kita mulai self-control untuk mengejar target-target sekaligus memupuk self-development yang lebih baik.
ReferensiPenulis: Atik Soraya
Editor-in-Chief: Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Editor Medis: Astridiah Primacita Ramadhani, S.Psi
Editor Tata Bahasa: Indah Riadiani dan Sulistia Ningsih
Sumber Tulisan
